Sukses membangun bisnis dari nol, Yani Wijaya Baihaqi akhirnya memutuskan terjun ke politik. Padahal, ibarat rimba raya, dunia politik penuh jebakan dan ketidakpastian. Apa yang hendak dicari?
Anda susah payah membangun bisnis hingga sesukses sekarang. Apa tidak sayang jika tiba-tiba berpindah jalur ke politik?
Sebenarnya bukan berpindah jalur. Ini hanya kelanjutan dari perjalanan hidup saya. Dari semula tidak punya apa-apa, lalu dimudahkan Allah hingga beroleh kelimpahan rezeki seperti sekarang (Yani pemilik tiga perusahaan di bawah bendera Trijaya Abadi Group, Jakarta, Red.), setelah itu perjalanan hidup menuntun saya ke sini (politik). Saya memaknainya, mungkin, inilah medan perjuangan saya selanjutnya untuk bisa membawa manfaat lebih luas bagi sekitar.
Apakah masuk ke politik bukan kemauan pribadi?
Boleh dibilang ini bukan sebuah kesengajaan. Kebetulan, ada senior yang ternyata diam-diam mengamati kiprah saya. Beliau lalu minta saya untuk sama-sama ikut berjuang di politik. Beliau yang mendorong saya agar menjadi caleg untuk DPR RI dari dapil Malang Raya (Yani berangkat dari Partai Golkar dengan nomor urut 4, Red.) , tempat asal saya. Beliau bilang, “Yan, kamu sudah cukup bekal untuk masuk ke politik.”
Anda langsung menyanggupi?
Tidak. Saya merenung cukup lama. Saya juga harus konsultasi dulu dengan keluarga, terutama ibu dan kakak. Dari situ, akhirnya bismillah, mungkin ini memang sudah menjadi jalan hidup saya. Semoga bisa memberi manfaat lebih luas kepada sesama.
Bukankah praktik politik di Indonesia seringkali unpredictable?
Itu sudah masuk dalam perenungan mendalam saya. Apa saja risiko-risikonya jika saya masuk ke politik praktis. Semua akhirnya kembali ke niat. Itu pula yang diingatkan oleh keluarga pertama kali. Ditata dulu niatnya. Kalau sudah bener, semua akan terasa ringan menjalaninya.
Lalu, apa yang ingin Anda perjuangkan dengan masuk ke politik?
Saya belajar soal komitmen di dunia bisnis. Itu pula yang ingin saya perjuangkan di politik. Di bisnis, tanpa komitmen, akan hancur. Saya kira, begitu pula di politik. Komitmenlah yang membuat kita dipercaya atau tidak oleh orang lain. Saat memutuskan untuk masuk ke politik, komitmen saya adalah menggunakan segala daya dan upaya yang saya miliki untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat. Mungkin terdengar klise ya, tapi ya begitulah komitmen saya.
Jika diterjemahkan dalam bahasa yang lebih konkret, apa saja komitmen itu kira-kira?
Satu, karena saya berasal dari Malang, rumah di Malang, orang tua di Malang, maka saya akan lebih banyak mengalokasikan waktu di Malang. Sehingga, jika terpilih, konstituen akan lebih mudah untuk berkomunikasi dan menyampaikan aspirasi. Saya juga akan sediakan tim yang 24 jam siap menerima aspirasi masyarakat.
Kedua, untuk kepentingan Malang Raya, saya akan all out memperjuangkannya di DPR RI lewat jalur fraksi maupun komisi di mana saya ditugaskan. Ketiga, secara khusus, saya ingin memaksimalkan penggunaan dana aspirasi DPR RI untuk memajukan pendidikan, kesehatan, dan UMKM di Malang Raya.
Bisa dicontohkan upaya memajukan pendidikan, kesehatan, dan UMKM lewat dana aspirasi itu?
Pendidikan, kita bisa alokasikan dana aspirasi untuk membangun gedung dan sarana sekolah, madrasah, atau pondok pesantren di daerah yang membutuhkan. Terutama yang jauh dari akses pendidikan. Kesehatan, demikian juga. Bisa untuk membangun gedung dan peningkatan sarana kesehatan di tiap kelurahan atau desa. Sedangkan UMKM bisa berupa fasilitasi pelatihan, permodalan, maupun bantuan peralatan. Komitmen-komitmen itu yang ingin saya pegang. Sehingga, secara sederhana, rakyat, masyarakat, atau setidaknya konstituen, benar-benar merasakan kehadiran kita. Benar-benar merasa ada yang mewakili mereka.
Tapi, di politik banyak jebakan yang menjerumuskan. Apa yang sekiranya menjamin Anda tetap setia pada komitmen awal?
Sebelum orang lain, keluargalah yang pertama kali akan mengingatkan saya jika mulai melenceng. Ketika mengizinkan saya untuk masuk ke politik, keluarga (kakak kandung Yani, Luthfi J. Kurniawan, adalah aktivis antikorupsi, Red) memasang syarat: harus tetap menomorsatukan rakyat. Jangan sampai politik digunakan untuk memperkaya diri. Politik adalah medan perjuangan. Soal rezeki, Allah sudah banyak memberi kelimpahan kepada saya lewat bisnis. Jadi, tolong doakan saya juga agar bisa tetap istikamah dalam perjuangan ini. (hid)
Data Diri
Nama: Yani Wijaya Baihaqi
Lahir: 8 Juni 1982
Alamat: Merjosari, Lowokwaru, Malang
Pendidikan:
- MAN 3 Kota Malang, Jl Bandung
- Fakultas Hukum UMM
Riwayat Pekerjaan:
- salesman buku
- surveyor Alfamart
- owner PT Trijaya Abadi, PT Yada Wasista Wijaya, dan PT Ike Wijaya Abadi.
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana