Meski hanya seorang tukang kebun, Heri Mujiono punya jasa besar di bidang wisata desa. Pria 55 tahun itu getol mempromosikan desa wisata ke wisatawan mancanegara, khususnya Eropa. Kini, banyak wisatawan asing yang tertarik desa wisata, terutama Coban Sewu dan Ampelgading.
KEPALANYA masih berbalut belangkon.
Sambil membolak-balikkan lembaran foto pertemuannya dengan wisatawan mancanegara, Heri Mujiono menceritakan perjalanannya menjadi tour guide.
Tugasnya khusus menemani wisatawan mancanegara.
Di Bumi Arema, Heri bukan satu-satunya tour guide.
Tapi yang membuat dia spesial adalah, getol mempromosikan wisata desa kepada tamu wisatawan mancanegara.
Padahal, dia hanyalah tukang kebun di perkebunan karet milik PTPN.
”Sejak tahun 1991 saya bekerja menyadap karet,” terang pria kelahiran Blimbing, Kota Malang itu.
Proses metamorfosis dari tukang kebun menjadi ”duta wisata” untuk wisatawan mancanegara itu tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Sebagai tukang sadap karet, penampilan Heri kala itu tak jauh beda dengan tukang kebun lainnya.
Kala itu dia bekerja di perkebunan karet di Banyuwangi
Suatu hari, kebun tempatnya bekerja didatangi beberapa wisatawan asing.
Pandangan Heri tertuju pada pramuwisata yang memandu rombongan wisatawan tersebut.
”Hebat ya pramuwisata itu. Pakaiannya bagus, ngomongnya pakai bahasa Inggris pula,” kenang pria 55 tahun itu.
Sejak saat itu, dia ingin menjadi tour guide.
Tapi sebagai tukang kebun yang kala itu hanya tamatan SMK, dia pesimistis.
Apalagi Heri juga tidak bisa berbahasa Inggris.
Sebenarnya ada alternatif untuk kursus, tapi kondisinya tidak memungkinkan.
Lokasi kurus dengan tempatnya bekerja berjarak 40 kilometer, sementara dia tidak bisa seenaknya meninggalkan pekerjaan.
Akhirnya ayah satu anak itu belajar secara otodidak.
Pulang ke kampung halamannya di Malang untuk membeli kamus bahasa Inggris, kemudian kembali ke Banyuwangi lagi.
”Saya membeli buku grammar dan kamus bahasa Inggris di daerah Splendid,” kata dia.
Kamus itulah yang menjadi pedoman dia dalam belajar bahasa Inggris.
Pagi hari bekerja, malam hari belajar bahasa Inggris. Hal itu dilakukan setiap hari.
Sering kali belajarnya sampai larut malam.
”Saya sering membawa ember berisi air saat belajar. Ketika rasa kantuk menghinggapi, air itu saya usapkan ke wajah,” kata dia.
Teman-temannya sempat memandang sebelah mata.
Banyak yang menyangsikan, bahkan ada yang mencibir.
Meski begitu, dia tidak putus asa.
Empat bulan kemudian, dia mulai bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.
Suatu hari, datanglah wisatawan dari Australia ke perkebunan.
Heri mencoba menyapa turis tersebut dengan berbahasa Inggris.
Pramuwisata yang mendampingi wisatawan itu heran, karena sebelumnya dia sering bertemu Heri.
Pramuwisata itu juga tahu bahwa Heri tukang kebun.
Di hadapan wisatawan asing tersebut, Heri menjelaskan tentang perkebunan di tempatnya bekerja.
Wawasan tentang perkebunan itu didapat saat mengenyam pendidikan di SMA atau sederajat.
Seusai kejadian itu, Heri dipanggil oleh atasannya.
Mulanya dia waswas, khawatir disanksi.
“Kalau dipanggil atasan, biasanya kita dianggap melakukan kesalahan,” kata dia.
Ternyata atasannya mendengar kabar bahwa Heri bisa berbahasa Inggris dan menyambut para turis.
Dia pun diamanahi menyambut tamu sekaligus menjadi pemandu wisatawan.
Itulah yang momen berharga Heri serta menjadi cikal bakal terjunnya di dunia tour guide.
Sambil menemani wisatawan, aktivitasnya sebagai penyadap karet tetap berlanjut. Perusahaan tempatnya bekerja juga menyekolahkan Heri.
Tujuannya profesional dalam memandu wisatawan.
Beberapa tahun kemudian, dia keluar dari perkebunan tersebut, melamar pekerjaan di salah satu hotel di Banyuwangi.
”Ternyata, lowongan yang ada hanya tukang kebun. Ya sudah, saya mau saja,” kata dia sambil tertawa.
Sama seperti sebelumnya dia juga dipercaya meng-handle tamu asing.
Setelah bekerja di hotel, Heri lantas melamar sebagai tour guide di salah satu biro perjalanan wisata.
Dari sini lah dia mempromosikan wisata desa-desa ke turis.
Selain promosi ke turis, Heri juga mengembangkan potensi wisata di desa-desa.
Pada 2013, dia memberikan pelatihan kepada desa-desa untuk pengembangan wisata di desa tersebut.
”Saya berdiskusi terkait mengembangkan wisata di Desa Ampelgading, Kecamatan Tirtoyudo. Kala itu, potensi yang dilirik ialah ada perkebunan teh dan kopi,” terangnya.
Setelah wisata desa terbentuk, Heri lantas mempromosikan kepada setiap wisatawan asing yang dia temui.
Desa pertama di Malang Raya yang dia kunjungi bersama wisatawan mancanegara adalah Desa Ampelgading.
Tepatnya pada 2014.
Kemudian pada 2016 ketika mengantar turis ke Bromo, Heri juga menawarkan wisata Coban Sewu.
”Saya tunjukkan keindahan coban sewu melalui foto, mereka (turis) tertarik,” katanya.
“Waktu itu enam orang turis asing,” tambah pria yang kini berdomisili di Ampeldento, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang itu.
Setelah itu, dia mendapat tawaran promos wisata ke kuala lumpur, Malaysia.
Di negeri jiran itu, Heri kembali mempromosikan keindahan wisata Coban Sewu dan Ampelgading.
Setelah itu wisatawan asing terus berdatangan ke dua desa tersebut.
”Ada 30 wisatawan asing yang datang, dari Singapura dan Malaysia,” terang Heri yang belakangan bisa melanjutkan pendidikan hingga S2 manajemen Universitas Widyagama Malang. (iza/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana