Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sosok Tokoh Mujiono, Ngajar tanpa Dibayar, Muridnya Jadi Wakil Bupati

Mahmudan • Rabu, 24 Januari 2024 | 17:58 WIB

UNTUK MASYARAKAT: Pengusaha batu bara asal Poncokusumo, Kabupaten Malang, Mujiono (kiri) berkomunikasi dengan salah seorang warga di Malang.
UNTUK MASYARAKAT: Pengusaha batu bara asal Poncokusumo, Kabupaten Malang, Mujiono (kiri) berkomunikasi dengan salah seorang warga di Malang.

Sebelum menjadi pengusaha sukses yang ingin berjuang di jalur politik, Mujiono pernah mengabdi untuk pendidikan. Dia menjadi guru tanpa meminta upah. Murid-muridnya banyak yang berhasil. Ada yang menjadi legislator, juga wakil bupati Kutai Timur.

TERLAHIR dari keluarga berlatar belakang TNI dan pedagang, Mujiono digadang-gadang menjadi insinyur teknik.

Seusai lulus SMKN 1 Tumpang pada 1982 silam, dia langsung mengambil jurusan teknik sipil di Universitas Islam Malang (Unisma).

Setahun kemudian, pria berusia 60 tahun itu merasa kurang sreg di teknik sipil.

Dia lantas merantau dan menempuh jurusan politik di salah satu universitas di Jakarta.

Setelah menyelesaikan pendidikan pada 1987, Mujiono menjadi pegawai Pertamina.

Dia bertugas sebagai staf bidang diklat di Pertamina Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur.

Lazimnya pegawai perusahaan pelat merah lainnya, Mujiono bekerja setiap hari, mulai pagi hingga sore hari. 

Selepas bekerja, dia tidak langsung pulang ke rumah, melainkan mengajar terlebih dahulu.

Di tengah kesibukan bekerja dan mengajar, Mujiono bersama tujuh rekannya di Pertamina mendirikan lembaga pendidikan.

Murid-muridnya adalah mayoritas teman kerjanya di Pertamina.

Ada pula dari kalangan siswa SMA, meski tak banyak.

Di lembaga pendidikan besutannya itu, para siswa dibekali keterampilan mengoperasikan komputer.

Kebetulan dia menguasai komputer karena setiap hari bersentuhan langsung.

Kala itu, komputer merupakan barang ‘mewah’.

Tak semua orang bisa memiliki komputer seperti sekarang ini.

Tingkat pendidikan pegawai Pertamina kala itu juga masih rendah.

Rata-rata hanya lulusan SD, sehingga asing dengan komputer.

”Teman teman juga sangat senang bisa menambah ilmu di sela-sela pekerjaan,” kenangnya.

Tak ada motif khusus soal pendirian lembaga pendidikan.

”Spontanitas saja. Ini bentuk kepedulian kami terhadap dunia pendidikan saat itu,” kata dia.

Selain menjadi guru untuk lembaganya sendiri, Mujiono pernah mengajar di Yayasan Pendidikan Singa Geweh. Selama mengajar, Mujiono dan rekan-rekannya tidak meminta bayaran.

Padahal Mujiono tidak hanya menyisihkan waktu luang untuk mengajar.

Tapi juga menempuh perjalanan jauh dengan kondisi medan berlumpur.

”Saya melakukan semuanya dengan senang hati, karena memang menyukai dunia pendidikan,” terang putra pasangan Sugeng dan Mustiati tersebut.

Berkat pengajarannya, salah satu muridnya terpilih menjadi Wakil Bupati Kutai Timur periode 2021-2024.

Namanya Kasmidi Bulang.

”Kasmidi itu siswa saya di Yayasan Singa Geweh,” kata dia.

Selain mencetak pemimpin, murid Mujiono juga menjadi guru dan tenaga kesehatan (nakes).

Sembari mengajar, Mujiono juga menggeluti beberapa bisnis.

Di antaranya showroom mobil, batu bara hingga properti.

Kenyang di dunia pendidikan dan bisnis, dia mulai melirik politik.

Tepatnya pada 1990. Kemudian pada 1999-2009 terpilih menjadi Ketua DPRD di Kalimantan Timur selama dua periode.

Meski berasal dari tanah Jawa, Mujiono merumuskan berbagai kebijakan yang pro-rakyat Kalimantan, terutama soal pendidikan.

Saat itu, dia memperjuangkan alokasi anggaran 20 persen untuk pendidikan.

Itu sesuai dengan kebijakan mandatory spending.

Di masa Mujiono menjadi legislator, anak-anak Kalimantan Timur bisa sekolah gratis, mulai SD hingga perguruan tinggi.

Bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan di jurusan seperti kesehatan dan pendidikan, juga dibiayai penuh dari APBD.

”Kalau ada yang mau kuliah ke luar daerah untuk jurusan-jurusan itu, kami gratiskan biayanya. Itu karena sumber daya manusia di sektor-sektor tersebut masih minim di Kalimantan Timur,” tegas suami Yayang Nilamsari itu.

Semangat Mujiono dalam dunia pendidikan tak mandek pada perumusan kebijakan saja.

Sambil menjalankan tugas sebagai legislator, pengusaha, sekaligus Ketua Asosiasi DPRD se-Indonesia, dia kembali bersekolah.

Menempuh program magister di Universitas Negeri Mulawarman Samarinda.

Pada 2020 Mujiono mengalami pasang surut.

Pandemi membuatnya harus memutar otak agar bisnis batu bara yang dikelolanya tetap bertahan.

Terlebih sejak 2012 industri batu bara sudah mengalami penurunan.

Ditambah dengan keberadaan mafia.

”Kalau tidak berhati-hati, bisa rugi miliaran. Tapi momen pasang surut sudah biasa bagi saya,” ungkap pria yang juga Ketua DPD Hipakad (Himpunan Putra-Putri Keluarga Angkatan Darat) itu.

Pada 2022, Mujiono kembali mendapat tawaran masuk politik.

Kali ini tawaran datang dari Partai Amanat Nasional (PAN).

Mujiono tidak langsung mengiyakan. Dia butuh waktu dua bulan untuk berpikir.

Dalam masa berpikir itu, pria kelahiran Poncokusumo, Kabupaten Malang itu pulang ke kampung halamannya.

Selama di Bumi Arema, dia mengunjungi beberapa kecamatan, seperti Donomulyo, Lawang, dan Sumbermanjing Wetan.

Saat itu, Mujiono menemui banyak infrastruktur yang belum dikelola secara maksimal.

Melihat kondisi tersebut, akhirnya Mujiono menerima tawaran masuk PAN.

”Setelah berpikir, saya membulatkan tekad untuk kembali berpolitik,” imbuhnya.

Mujiono kemudian didapuk menjadi caleg DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) V Malang Raya.

Jika kelak terpilih, dia memperbaiki banyak sektor.

”Ada lima visi-misi yang saya usung. Yakni pendidikan, kebudayaan, pariwisata, penyediaan lapangan kerja, dan UMKM,” pungkasnya. (mel/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#wakil bupati #mujiono