Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Koki asal Malang Christafanus Hadi Santoso, Mampir Stadion Barcelona saat Mengelilingi Empat Benua

Mahmudan • Rabu, 14 Februari 2024 | 18:34 WIB
KAPAL PESIAR: Christafanus Hadi Santoso bersantai saat kapalnya singgah di Benua Antartika
KAPAL PESIAR: Christafanus Hadi Santoso bersantai saat kapalnya singgah di Benua Antartika

Banyak tantangan yang dirasakan Christafanus Hadi Santoso selama 1,5 tahun menjadi koki di kapal pesiar. Mulai tidak ada libur hingga harus beradaptasi dengan suhu di berbagai benua yang disinggahi. Tapi dia juga merasakan berkahnya. Salah satunya bisa keliling dunia.

ANDIKA SATRIA PERDANA

SUARA Kristo terdengar lirih di ujung telepon, Minggu lalu (11/2). 

Saat itu, kapal pesiar tempat dia bekerja bersandar di Chile. 

Di sana baru pukul 09.00. Sedangkan di Indonesia pukul 19.00. 

Terpaut 10 jam antara Malang dan negeri di Amerika Selatan tersebut. 

Pria bernama lengkap Christafanus Hadi Santoso itu tidak bisa bersuara keras lantaran kondisinya kurang fit. 

Maklum, dia tidak pernah libur selama bekerja di kapal pesiar. 

”Saya istirahat dua hari karena sakit,” terang pria kelahiran Malang itu. 

Dengan suara lirih bercampur serak, Kristo menceritakan pengalamannya menjadi koki di dua kapal pesiar mewah. 

Yaitu Princess Majestic Cruise dan Marina Oceania. 

Dia bekerja di kapal pesiar lantaran teringat cita-cita semasa kecil, yakni ingin keliling dunia. 

Sejak kecil, Kristo sudah yatim piatu. 

Hampir seluruh hidupnya dihabiskan di Panti Asuhan Bakti Luhur, Kota Malang. 

Namun tak disangka, kebiasaan di panti asuhan lah yang membuatnya diterima menjadi koki sukses seperti sekarang. 

Selama hidup di panti asuhan, Kristo didapuk menjadi bendahara sekaligus tukang masak. 

Tugasnya mengatur keuangan, sekaligus menyediakan makan untuk anak-anak panti. 

“Ada jatah uang makan buat tiga sampai empat hari. Saya harus memikirkan agar uang itu cukup sesuai yang dijatah,” terang pria berusia 29 tahun itu. 

Setelah lulus SMA pada 2017, Kristo merantau ke Jakarta. 

Keinginan merantau karena dia ingin mengubah hidupnya. 

Di sana, Kristo bekerja serabutan. Saat garapan sepi, dia nyambi ojek online. 

Tiga tahun kemudian, 2020 dia pulang ke Kota Malang. 

Itu karena Jakarta tidak membuat ekonominya maju. 

Uang yang dikumpulkan di Jakarta digunakan untuk biaya melanjutkan kuliah di Sailing Internasional Cruise Line Malang. 

Jurusan yang diambil D1 perhotelan dan kapal pesiar. 

“Pada jurusan itu ada housekeeping dan chef. Saya akhirnya memilih fokus untuk belajar chef,” ucapnya. 

Usai menamatkan kuliah, dia melamar jadi koki di Hotel Swiss-Belinn Malang. 

Setelah itu, dia mencoba peruntungan lain menjadi koki di Kuwait pada 2022. 

Yakin pengalaman yang dimilikinya sudah cukup dan kemampuannya meningkat, akhirnya dia memberanikan diri melamar menjadi koki kapal pesiar. 

Kapal pesiar pertama empat Kristo bertugas adalah Princess Majestic Cruise. 

Dia mulai bekerja pada 2023. 

Majestic Cruise mampu menampung 3.560 penumpang. 

Dengan 19 tingkat dek, serta memiliki berat 143.000 ton. 

Di sana ada pusat perbelanjaan, kolam renang, dan fasilitas mewah lainnya. 

Kapal itu layaknya kota berjalan di atas air. 

Di sana, Kristo bekerja selama delapan bulan. 

Setelah kontraknya selesai, dia berganti ke kapal pesiar lain. 

Yaitu Marina Oceania Cruise. 

“Selama 1,5 tahun menjadi koki di dua kapal itu, saya sudah berkeliling di empat benua. Eropa, Antartika, Australia dan Amerika,” paparnya. 

Negara-negara yang paling tidak bisa dia lupakan adalah Spanyol, Portugal, Brasil dan Argentina. 

Itu karena Kristo merupakan fans sepak bola. 

Dia merasa bangga bisa menjajaki tanah lahirnya para legenda olahraga sepak bola. 

”Saya pernah datang ke Camp Nou (Stadion Barcelona), kemudian ke Lisbon. Terus ke Santos, tempat lahirnya Neymar,” tutur Kristo dengan nada penuh bangga. 

Setiap kapal bersandar, biasanya dia bersama kru lain memanfaatkan untuk jalan-jalan. 

Misalnya mengunjungi ikon-ikon negara yang disinggahi kapal tersebut. 

Hanya saja, dirinya tidak bisa begitu menikmati kondisi Antartika. 

“Seharusnya kapal bersandar sebentar di Antartika. Tapi karena kondisi tidak memungkinkan, akhirnya diputuskan hanya lewat saja,” kata dia. 

Saat itu, suhu di Antartika nol derajat Celsius. 

Ini membuat pengunjung tidak bisa menikmati keindahan tempat yang diselimuti salju tersebut. 

Meski sudah berada di kabin kru, hawa dinginnya dirasakan sampai menusuk tulang. 

“Seperti di lemari es. Padahal sudah di kamar. Saya sudah menyalakan heater dan pakaian double, tetap saja sangat dingin,” sambungnya. 

Tak hanya suhu yang ekstrem, ada tantangan lain yang harus dihadapi Kristo selama menjadi koki kapal pesiar. 

Dia harus bekerja full selama 7 hari dalam seminggu. 

Libur akan diberikan ketika dia sedang sakit. 

”Kemudian ada tekanan saat masak. Kadang stress karena tidak ada libur. Ini yang harus dihadapi setiap hari,” kata Kristo. 

Selain itu, dia juga dituntut harus cepat beradaptasi dengan suhu. 

Karena dalam beberapa hari saja, kapal itu akan membawanya pindah benua. 

Misalnya pekan lalu masih merasakan hawa dingin Antartika, sekarang berganti hangatnya suhu di Chile. 

Itu membuatnya tidak enak badan dan harus istirahat selama dua hari. 

“Tantangan lainnya, harus tahan ketika kapal sedang melewati gelombang laut yang ganas. Tidak jarang ada kru yang mabuk laut, untungnya saya sudah terbiasa,” tuturnya. 

Setelah kontrak dengan kapal pesiar tersebut selesai, Kristo berencana membuka usaha restoran. 

Tapi tidak di Indonesia, melainkan di mancanegara. 

Setelah beberapa tahun kemudian, kemungkinan baru kembali ke tanah air. 

”Dari penghasilan ini saya juga menabung untuk beli rumah. Mudah-mudahan terbeli tahun ini,” pungkasnya. (*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#kapal pesiar #Christafanus Hadi Santoso #koki