Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Gandeng Petani Kopi, M. Ali Machrus Pemuda asal Singosari Malang Berbagi Edukasi dengan Luar Negeri

Fathoni Prakarsa Nanda • Senin, 19 Februari 2024 | 18:00 WIB
TELATEN: M. Ali Machrus kerap turun ke lapangan untuk memantau kualitas tanaman kopi Lembah Arjuno yang dikembangkan bersama Wonosantri Abadi.
TELATEN: M. Ali Machrus kerap turun ke lapangan untuk memantau kualitas tanaman kopi Lembah Arjuno yang dikembangkan bersama Wonosantri Abadi.

PENAMPILANNYA terkesan bersahaja ala santri.

Saat bersantai kerap menggunakan sarung dan kaus oblong.

Namun di usia yang masih tergolong muda, dia mampu memberdayakan masyarakat dalam usaha pertanian kopi.

Pria 30 tahun itu juga bisa disebut sebagai contoh keberhasilan santri yang mengikuti perkembangan zaman.

Baik sebagai pengajar, pengusaha, maupun pencinta lingkungan.

Dialah M. Ali Machrus, pemuda asal Singosari yang sebenarnya kuliah S-1 sampai S-2 jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, dan S-3 Manajemen Pendidikan.

Karena itulah, terjun di bidang pemberdayaan petani kopi sebenarnya bukan cita-cita awal Machrus.

Semua seperti tidak disengaja.

Justru berawal dari keresahan saat baru menyelesaikan pendidikan S-2 di UIN Maliki Malang.

Sesuatu yang semestinya menjadi kebanggaan, tapi justru malah seperti beban.

”Saya lulus tahun 2020. Saat itu sedang terjadi pandemi Covid-19. Akhirnya malah menganggur,” ujarnya.

Meski dalam suasana pembatasan aktivitas oleh pemerintah, Machrus bertekad untuk mencari pekerjaan.

Dia rajin bertanya lowongan pekerjaan ke berbagai tempat.

Termasuk kepada Gus Ulum, salah satu gurunya di pondok pesantren.

Bukannya diberi dapat pekerjaan, Machrus malah mendapatkan tantangan baru dari sang guru.

Yaitu mengelola sentra kopi daerah Toyomarto, Kecamatan Singosari.

”Saat itu saya harus mulai dari nol. Sama sekali tidak punya pengetahuan tentang kopi,” imbuhnya.

Machrus akhirnya mengajak seorang teman bernama Hikam untuk mengurus kopi Lembah Arjuno (Lemar).

Dia pun turun ke lapangan dan mulai berkenalan dengan para petani kopi di kawasan lereng Gunung Arjuno.

Dari perbincangan dengan para petani, Machrus mengetahui berbagai permasalahan di lapangan.

Mulai dari akses yang susah dan berbahaya, para petani kopi yang sudah berumur, hingga tingkat kesejahteraan mereka.

Desember 2020, Machrus dan Gus Ulum mendirikan perkumpulan Wonosantri Abadi.

Mereka mulai membantu para petani kopi setempat.

Mulai dari pengurusan izin pertanahan hingga distribusi dan pemasaran kopi.

”Tahun itu juga kami sudah bisa bermitra dengan Kafe Amstirdam untuk suplai bahan kopi dari para petani,” jelas Machrus.

Hampir setahun melakukan pemberdayaan, Machrus menyadari bahwa Wonosantri akan lambat berkembang jika tidak ada bantuan dari pihak luar.

Dia lantas berinisiatif menyodorkan proposal ke berbagai pihak. Salah satunya ke Bank Indonesia (BI) cabang Malang.

Meski tidak mendapatkan fresh money, pria yang kini menempuh program doctoral di Universitas Negeri Malang itu tetap bersyukur.

Awal 2021, Wonosantri mendapat bantuan beberapa peralatan pascapanen.

”Sejak saat itu kita mulai bisa memproduksi kopi roast been sendiri,” terangnya.

Pertengahan 2021, Wonosantri memberanikan diri untuk memasarkan produknya.

Itu pun secara bertahap.

Awalnya sebatas memberikan kopi gratis di acara-acara para santri, masjid, hingga tadarus.

Setelah mendapat respons yang bagus, mereka melanjutkan pemasaran ke masyarakat.

Kini, kegiatan Machrus dan Wonosantri bukan lagi sebatas memberdayakan kopi.

Mereka juga menjalankan usaha ternak dan memberikan edukasi tentang wirausaha ke masyarakat.

Termasuk ikut berpartisipasi dalam konservasi hutan dengan melakukan reboisasi di beberapa wilayah kaki Gunung Arjuno.

”Kami juga menanam 35.000 bibit tanaman, seperti kopi dan durian untuk menjaga keseimbangan alam,” terangnya.

Untuk memperluas kiprah Wonosari, Machrus mencoba memanfaatkan program pemerintah, yaitu Perhutanan Sosial milik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK).

Lewat program tersebut Machrus membentuk kelompok tani hutan (KTH) yang diberdayakan untuk bisa mengelola lahan Perhutani.

”Awalnya ada beberapa yang skeptis. Takut programnya tidak didampingi. Tapi kita sudah buktikan bahwa program itu benar-benar jalan. Sekarang sudah ada 700 anggota,” ujarnya.

Kiprah Machrus mulai diakui Pemerintah Kabupaten Malang pada 2021. Saat itu dia terpilih menjadi juara 1 Pemuda Pelopor tingkat Kabupaten Malang.

Kemudian pada 2022, anak keempat dari lima bersaudara itu masuk lima besar Pemuda Pelopor Jawa Timur.

Sementara pada 2023, dia bersama Wonosantri meraih juara 1 lomba Wana Lestari.

Kini Wonosantri sudah jauh berkembang menjadi tempat edukasi, magang mahasiswa, dan pemberdayaan masyarakat.

Produk kopi mereka pun mulai dikirim ke luar negeri.

Seperti Turki dan Belanda.

Untuk menjaga kualitas, Wonosantri sengaja memproduksi kopi secara terbatas.

Dalam satu tahun hanya sekitar satu ton saja.

Pada 2022 lalu, Wonosantri juga mulai kedatangan kunjungan dari luar negeri.

Seperti Malaysia, Jerman, dan Australia.

”Saat itu ada kenalan kami dari Universitas Brawijaya membawa turis asing yang ingin belajar budaya Indonesia. Jadi dipilihlah Wonosantri,” papar Machrus.

Kemudian pada 2023, Wonosantri mengajukan permohonan untuk mendirikan Balai Latihan Kerja (BLK) komunitas pondok pesantren dari Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker).

Saat itu mereka diberi syarat harus menyediakan tanah untuk memenuhi standar agar bisa mendapatkan bantuan tersebut.

”Karena mendadak, kami nekat pinjam uang Rp 180 juta untuk membeli tanah. Uang kami sendiri hanya Rp 100 juta, sementara harga tanahnya Rp 280 juta,” terangnya.

Akhirnya permohonan itu disetujui.

Kemenaker memberikan bantuan pembangunan gedung dan peralatan mengolah kopi, seperti mesin roasting baru.

Pelatihan di BLK itu pun jalan.

Ajaibnya, utang sebesar Rp 180 juta bisa dibayar kembali dalam waktu dua bulan.

Berkat beragam kiprahnya, Machrus juga pernah diundang Presiden ke Istana Negara dengan membawa predikat santri dan pegiat lingkungan.

Satu hal lain yang sedang dia perjuangkan adalah menjadi dosen, sesuai dengan pendidikan yang dia jalani.

”Yang pasti Wonosantri tetap berjalan. Tetap menebar kemanfaatan kepada sesama,” pungkasnya.

(*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#singosari #Kopi #malang