MALANG - Sejarah baru di Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Malang tercipta 5 Maret 2024.
Untuk pertama kalinya, BI Malang dipimpin oleh perempuan.
Adalah Febrina yang kini menjadi pimpinan di sana.
Dia menggantikan pejabat sebelumnya Samsun Hadi.
Pengukuhan terhadap posisi barunya itu dilakukan di Hotel Harris.
Kepada Jawa Pos Radar Malang, dia Febrina menyebut ada peran besar dari suami dalam kariernya.
Baca Juga: Bank Indonesia Dorong Digitalisasi untuk Tumbuhkan Ekonomi
Sebagai lulusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), dia awalnya memiliki cita-cita menjadi dosen.
Sama seperti ibunya. Karena itu, dia sempat menempuh pendidikan S2 di bidang agrobisnis.
Saat menempuh pendidikan lanjutannya itu, dia ingin memiliki pekerjaan sampingan.
Febrina kemudian mendaftar ke beberapa lowongan.
Mulai dari karyawan supermarket hingga perbankan.
”Namun saat itu tidak ada yang lolos, dan teman kos saya mengajak mendaftar ke BI,” tutur perempuan kelahiran Palembang tersebut.
Febrina pun tertarik.
Dia akhirnya diterima setelah proses seleksi selama satu tahun.
Dia mengawali karirnya di BI sebagai Pengawas Bank Yunior di Kantor BI Solo pada 2006.
Karena ingin fokus dengan karirnya di BI, dia melepaskan studi S2 agribisnisnya.
Febrina kemudian melanjutkan studi magister ekonomi pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM.
Saat berkantor di Solo, dia bertemu dengan laki-laki yang kelak menjadi suaminya.
Febrina menikah pada 2008 lalu.
Baca Juga: Pimpinan Baru Bank Indonesia Malang Janji Bantu Kendalikan Harga Migor
Sejak awal pernikahan, dia dan suaminya harus terpisah jarak.
Sebab, keduanya bekerja di berbeda daerah.
Selain menjadi pengawas bank, dia juga pernah menjadi Analis Muda Unit Pemberdayaan Sektor Riil dan UMKM Kantor Bank Indonesia Solo.
Kemudian berpindah ke KPw BI Tegal pada 2013 sebagai Analis di Unit Asesmen Statistik dan Survei.
Dari pernikahannya, dia dikaruniai dua orang anak.
Mereka lah yang selalu berada di dekatnya selama dinas di berbagai daerah.
”Awalnya sempat berpikiran untuk menitipkan anak bersama orang tua saya. Namun ternyata mereka lebih bahagia dekat dengan ibunya,” tutur perempuan kelahiran 1982 tersebut.
Dibantu seorang pengasuh, dia terus mengawal proses tumbuh kembang kedua anaknya.
Termasuk saat berdinas di Jember dan Makassar.
”Hidup berkarir itu pilihan. Konsekuensinya harus bisa menyeimbangkan keluarga dengan pekerjaan,” tutur perempuan berhijab tersebut.
Anak pertamanya saat ini duduk di kelas 3 SMP.
Sementara anak keduanya masih kelas 4 SD.
Saat ini anak-anaknya masih berada di Makassar.
Sebab, sebelum dilantik menjadi Kepala KPw BI Malang, Febrina bertugas sebagai Ekonom Ahli Kelompok Perumusan KEKDA Provinsi KPw BI Provinsi Sulawesi Selatan.
”Nanti rencananya menunggu kenaikan kelas agar sekalian pindah ke Kota Malang,” kata dia.
Baca Juga: Jadi Best Market Maker, Bank Indonesia Apresiasi BRI Dengan 5 Penghargaan
Febrina selalu ambil bagian dalam proses memilih sekolah.
Dia melakukan pendekatan khusus dengan kedua anaknya.
”Kalau (anak) yang pertama perempuan lebih memilih sekolah yang pakai kurikulum Cambridge, karena kreativitasnya lebih bebas. Kalau yang kedua cowok nurut ke ibunya,” tutur Febrina.
Support system utama Febrina dalam menjalani peran ganda tersebut adalah sang suami, yang selalu memahami kesibukannya.
Intensitas bertemu yang sangat jarang membuat mereka memiliki banyak toleransi.
”Saya tetap izin jika ada kegiatan di mana, tetapi suami juga selalu memahami,” tuturnya.
Satu bulan sebelum Febrina berpindah tugas di Malang, sang suami juga dipindah tugas ke Perhutani PHW IV Malang.
Sehingga, saat ini merupakan momen pertama kali mereka berada di satu kota yang sama.
Kunci utamanya dalam menjaga hubungan dengan suami adalah menjalankan perannya sebaik mungkin.
”Kalau di kantor kan punya banyak bawahan. Kalau di rumah harus tetap tunduk dengan suami,” tuturnya.
Sehingga peran suami sebagai kepala keluarga tetap berjalan.
Dia mencontohkan mulai dari hal-hal yang kecil.
”Pekerjaan suami seperti membenahi lampu rusak, ya biarkan suami yang memperbaiki, meskipun saya juga bisa,” tuturnya.
Baca Juga: Bank Indonesia Sebut Indeks Keyakinan Konsumen Masih Stabil
Watak keduanya yang berbeda membuat mereka jarang berselisih.
Febrina cenderung serius dalam menghadapi segala hal.
Sedangkan sang suami cukup santai.
”Jadi kalau saya sedang marah atau apa, suami kadang menanggapinya dengan ’halah lebay’,” cerita dia sembari tersenyum.
Sikap saling melengkapi itulah yang semakin menguatkan hubungan keduanya.
Febrina sadar bila perempuan memang ditakdirkan untuk dapat melakukan banyak pekerjaan.
Karena itu, perempuan tidak dapat fokus dalam satu hal saja.
Dalam segala profesi, dia yakin perempuan memiliki ide dan bisa berkreasi lebih daripada laki-laki.
Saat ini, banyak contoh perempuan hebat di Indonesia.
Mulai dari Menteri Keuangan Sri Mulyani hingga Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti.
”Emansipasi wanita itu sudah selesai, yang diperlukan saat ini sebenarnya malah emansipasi laki-laki. Untuk bagaimana menerima perempuan yang hebat itu,” kata dia. (dur/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana