Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pengalaman Puasa Warga Malang, Ayu Kusumastuti Di Kota Leeds Inggris, Salat Tarawih Bisa Dimulai Pukul 23.00

Fathoni Prakarsa Nanda • Senin, 18 Maret 2024 | 17:30 WIB
TANTANGAN WAKTU DAN CUACA: Ayu Kusumastuti menjalankan puasa Ramadan kedua di  Kota Leeds, Inggris, tahun ini. Dia sedang menempuh pendidikan doktoral di University of Leeds.
TANTANGAN WAKTU DAN CUACA: Ayu Kusumastuti menjalankan puasa Ramadan kedua di Kota Leeds, Inggris, tahun ini. Dia sedang menempuh pendidikan doktoral di University of Leeds.

 

SUDAH dua tahun Ayu Kusumastuti tinggal Leeds. Sebuah kota yang terletak di midline Inggris.

Saat Ramadan tiba, Kota Leeds berada pada pergantian antara musim dingin dengan musim semi.

Suhunya berkisar antara 1 sampai 2 derajat celsius.

Sedangkan saat ini sudah mulai memasuki musim semi.

Suhu udaranya berada di kisaran 10 derajat celsius. Jarak antara matahari terbit dengan tenggelam pun menjadi lebih lama.

Begitu pula rentang waktu untuk berpuasa.

Awal Ramadan lalu, rentang waktu berpuasa sekitar 13 jam lebih 15 menit.

Dimulai pada pukul 04.54 hingga waktu berbuka pukul 18.10.

Namun pada akhir Ramadan rentang waktunya bisa lebih panjang.

Dimulai pada pukul 04.58 (waktu fajar) hingga magrib pukul 19.58.

Jika ditotal mencapai 15 jam. Menurut perempuan asal Malang yang akrab disapa Asti itu, tiap hari jadwal waktu berbuka memang mundur.

Lama waktu berpuasa menuju akhir Ramadan pun menjadi semakin panjang.

Asti tinggal di Leeds sejak 2022.

Tepatnya setelah dia menyelesaikan studi magister di Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Kemudian dia menempuh program Fulbright Doctoral Degree (PhD) di University of Leeds. Mengambil jurusan Sociology and Social Policy.

Dia menjelaskan, suhu udara siang di Kota Leeds sekarang memang sudah lebih bersahabat, meski masih tergolong dingin.

Namun hal itu tidak dianggapnya sebagai masalah. Justru akan lebih berat jika berpuasa pada musim panas.

”Tapi musim kali ini cuacanya tidak stabil,” terangnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Malang saat wawancara jarak jauh pada Minggu (17/3).

Kondisi malam yang lebih panjang membuat jadwal salat magrib dan isya ikut mundur.

Karena itu Asti sedikit kesusahan untuk menyesuaikan jam beribadah di Kota Leeds, terutama jika ingin salat jamaah di masjid.

Tidak pernah ada kumandang azan yang terdengar dari menara masjid seperti di Indonesia.

Dia hanya mengandalkan informasi jadwal salat dari Leeds Grand Mosque.

Jarak tempuh dari rumah Asti ke masjid sebenarnya cukup dekat.

Hanya 10 menit menggunakan sepeda angin. Kendati demikian, ibu dengan dua orang putri itu lebih memilih beribadah di rumah.

Sebab, salat tarawih bisa dimulai pukul 23.00 hingga tengah malam.

Terlalu larut jika harus meninggalkan kedua putrinya di rumah.

Beruntung Asti masih bisa merasakan sedikit sasana Ramadan di tempat dia bermukim.

Itu karena masih adanya komunitas muslim yang tinggal di Kota Leeds.

namanya Kibar Leeds. Mereka biasanya menggelar buka puasa bersama seminggu sekali.

Setidaknya dia dan keluarganya bisa empat kali berbuka puasa di luar rumah, bersama umat Islam yang lain.

Berkumpul seminggu sekali itu juga dimanfaatkan untuk kegiatan lain. Misalnya tadarus dan kajian ilmu-ilmu agama.

”Meskipun minoritas, kami masih bisa melaksanakan beberapa kegiatan yang bernuansa Ramadan. Salah satunya juga dengan membagikan takjil,” ucap dosen Sosiologi Universitas Brawijaya itu.

Perihal makanan, wanita berusia 37 tahun itu merasa memang cukup sulit menemukan makanan yang cocok.

Itu karena hanya segelintir pedagang yang menjual makanan halal.

“Saya biasa beli bahan masakan di toko Asia,” kata Asti.

Karena itu, sehari-hari dia lebih memilih masak sendiri.

Bukan membeli makanan jadi, karena tidak bisa memastikan apakah makanan itu diproses secara halal atau tidak.

“Malah saya lebih sering masak menu Indonesia. Keluarga suka makan ayam goreng,” pungkasnya.

(jb2/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Arek Malang #Inggris #ayu kusumastuti #University of Leeds