Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Ternyata Begini Sejarah Ki Ageng Gribig, Babat Alas dan Jadi Penyebar Islam di Malang Timur

Mahmudan • Selasa, 2 April 2024 | 03:15 WIB
TOKOH AGAMA: Ketua Pokdarwis Pesarean Ki Ageng Gribig Devi Nur Hadianto berkeliling di kompleks makam Ki  Ageng Gribig kemarin. Lokasinya di Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang
TOKOH AGAMA: Ketua Pokdarwis Pesarean Ki Ageng Gribig Devi Nur Hadianto berkeliling di kompleks makam Ki Ageng Gribig kemarin. Lokasinya di Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang

MAKAM sejumlah tokoh penting berada di pesarean Ki Ageng Gribig, Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

Mulai makam bupati Malang I R. Notodiningrat I, bupati Malang II R. A. A Notodiningrat II, Bupati Malang III R.T.A Notodiningrat III, hingga mantan Bupati Surabaya R. Soekarso.

Meski dalam satu kawasan, tapi lokasinya terpisah.

Di antara makam beberapa tokoh tersebut, ada satu yang paling spesial.

Yakni makam Ki Ageng Gribig.

Kompleks pemakaman tersebut sekaligus menjadi saksi bisu sejarah penyebaran Islam di Malang Raya.

Konon, Ki Ageng Gribig merupakan keturunan kesatria dari Mataram, Menak Koncar.

Dia ditugaskan untuk menyebarkan Islam di Bumi Arema.

Sejumlah literatur mengungkap, perkembangan Islam mulai terasa sejak Majapahit runtuh pada 1519 Masehi.

Diukir dari tulisan Timbul Haryono yang berjudul Kerajaan Majapahit: Masa Sri Rajasanagara sampai Girindrawarddhana, Majapahit runtuh setelah Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor dari Kerajaan Demak melakukan penyerangan.

Penyerangan didukung ulama Kudus yang dipimpin Pangeran Ngudung.

Akibat penyerangan itu, Majapahit terbelah.

Masyhudi dalam tulisannya berjudul Menjelang Masuknya Islam di Ujung Timur Pulau Jawa, memaparkan bahwa beberapa daerah akhirnya dapat ditaklukkan.

Salah satunya, Malang pada 1545 Masehi. Bukti kekuasaan Kerajaan Demak terlihat dari adanya permukiman muslim di Gribig, sisi timur Kota Malang.

Permukiman itu menjadi batu loncatan bagi Kerajaan Demak untuk menaklukkan Kerajaan Sengguruh (sekarang di daerah Kepanjen) yang merupakan kerajaan bercorak Hindu.

”Terkait bukti mengenai Ki Ageng Gribig dan permukiman muslim, yang tersisa sekarang adalah nisan-nisan di kompleks pemakaman,” kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Devi Nur Hadianto sembari menemani Jawa Pos Radar Malang mengunjungi Pesarean Ki Ageng Gribig kemarin.

Kampung Gribig diperkirakan sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Tepatnya pada masa Tribhuwana Tunggadewi.

”Terkait bukti mengenai Ki Ageng Gribig dan permukiman muslim, yang tersisa sekarang adalah nisan-nisan di kompleks pemakaman,” kata Devi.

Ada tiga jenis nisan di pesarean Ki Ageng Gribig.

Pertama, nisan bercorak Surya Sengkala yang diperkirakan sudah ada sejak era Kerajaan Demak (Pajang) 1540-an.

Ini identik dengan nisan pada makam Sunan Ngudung, Sunan Nggesing, dan motif Masjid Demak.

Nisan kedua memiliki motif kotak-kotak khas daerah pantura.

Terbuat dari batu andesit sama seperti nisan bercorak Surya Sengkala.

Lalu nisan ketiga terbuat dari kayu jati dengan ukiran yang ditemukan di makam Bupati Malang I.

”Meski demikian, nisan ketiga cenderung baru karena makam bupati Malang baru tahun 1839,” terangnya.

Selebihnya, tidak diketahui mengenai penyebaran Islam yang dilakukan oleh Ki Ageng Gribig.

Devi memperkirakan, saat datang ke Malang, Ki Ageng Gribig membawa beberapa orang yang memiliki keahlian seperti filsuf dan ahli agama.

Mereka membantu penyebaran Islam sesuai keterampilan masing-masing.

Meski tidak banyak peninggalan Islam di sisi timur Kota Malang yang tersisa, hingga kini warga sekitar masih melestarikan beberapa tradisi.

Antara lain Mbubar Mbubur Suro atau pembuatan bubur Suro setiap tahun baru Islam 1 Muharram.

Tradisi tersebut sudah dilakukan sejak 2020 lalu.

Ada pula membuat bubur Safar setiap bulan Safar.

Tradisi membuat bubur dilestarikan karena bubur putih memiliki makna kesucian.

Itu menjadi penanda akan hal baik di masyarakat.

Satu lagi adalah tradisi Megengan.

Dalam tradisi tersebut, masyarakat membuat kue apem sebelum Ramadan.

Sebab, kue apem memiliki beberapa makna.

Salah satunya adalah permohonan maaf.

”Kami rutin membuat kue apem sebelum Ramadan untuk dibagikan kepada tetangga dan pengunjung yang datang ke makam,” imbuhnya.

Selain peninggalan berupa nisan, ada pula cerita yang berkembang di kalangan masyarakat.

Hal itu disampaikan oleh Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang Rakai Hino Galeswangi.

Dari informasi yang dia himpun, Ki Ageng Gribig memiliki kakak satu perguruan. Namanya Bahar Huring.

Semula, keduanya sama-sama menyebarkan Islam di wilayah Malang Timur.

Kemudian, timbul permasalahan antara keduanya.

Diduga karena Bahar Huring berubah drastis hingga menjadi perampok.

Karena permasalahan tersebut, Ki Ageng Gribig dan Bahar Huring bertikai.

”Lalu Bahar Huring tewas. Dia dimakamkan di sebuah bukit tidak jauh dari sana, yang kemudian dikenal dengan Bukit Buring,” tandasnya.

(*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#madyopuro #Pesarean #ki ageng gribig #malang