Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sosok Kreator Tari asal Batu Winarto Ekram, Ciptakan 109 Karya Seni, Jago Menari sejak SD

Mahmudan • Selasa, 30 April 2024 | 20:17 WIB
SENIMAN KONDANG: Winarto Ekram memberi keterangan kepada wartawan sambil mengawasi murid-muridnya menari di Latar Seni Desa Pendem.
SENIMAN KONDANG: Winarto Ekram memberi keterangan kepada wartawan sambil mengawasi murid-muridnya menari di Latar Seni Desa Pendem.

ALUNAN musik gamelan menggema di Latar Seni Winarto Ekram, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jumat lalu (25/4). 

Sebanyak 33 penari menyuguhkan penampilan secara bergiliran. Sementara di hadapan mereka, tampak seorang pria mengamati. 

Dialah Winarto Ekram, penari asal Kota Malang yang kerap tampil di mancanegara.

Baca Juga: Peringati Hari Tari Sedunia, 327 Mahasiswa UM Bawakan Tarian 24 Jam

Kali pertama go international pada 2015 lalu. Saat itu dia undang untuk mengisi pertunjukan di Chungju dan Andong, dua kota di Korea Selatan (Korsel).

Setahun setelahnya tampil di Berlin, Jerman. 

Kemudian pada 2017 menggelar pertunjukan di Rotterdam, Belanda dan Kuala Lumpur, Malaysia.

”Hampir di semua per tun jukan, saya menyuguhkan tari kreasi dan tari tradisional.

Tahun ini saya juga akan berkunjung di beberapa negara untuk melakukan pertunjukan yaitu Korea Selatan, Vietnam, dan New Zealand,” ujar Winarto.

Seniman berusia 52 tahun itu lantas menceritakan perjalanannya di dunia seni tari. 

Sejak SD, Winarto kecil sudah gandrung dengan tari. 

Darah seni mengalir dari ayahnya yang merupakan seniman ludruk.

Semasa kecil, Winarto berga bung di sanggar Saraswati, Tumpang, Kabupaten Malang.

”Sekitar tahun 1984 saya mulai menari. 

Di sana, saya diajari tari kreasi, reog, gembira, serta tari anak-anak lainnya.

Mulai pertunjukan dari kampung ke kampung, kemudian beralih dari kota ke kota,” kata pria kelahiran 1972 itu.

Sejak kecil, bakat Winarto di dunia seni tari sudah terlihat. 

Namun sang ayah melarangnya menari. Ayahnya khawatir kelak Winarto tidak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dari hasil menari. 

Maklum, saat itu jarang ada seniman yang sukses secara ekonomi, sehingga ayahnya tidak ingin Winarto menjadi penari. 

”Saya kerap dicambuk agar berhenti latihan menari. Tapi malah menjadi penyemangat saya untuk belajar menari,” kata Winarto yang tercatat sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkot Batu itu.

Baca Juga: Sejarah dan Asal-usul Tari Rangkuk Ali yang Menjadi Google Doodle Hari Ini

Memasuki bangku SMP, Winarto berhenti latihan menari. 

Bukan karena takut dengan ayahnya, melainkan dia bersekolah di SMP Islam. 

Apa lagi di sekolahnya tidak ada ekstrakurikuler menari.

”Saat SMA, saya juga tidak menari. Lebih fokus ke bidang musik dan pertunjukan di pentas-pentas seni,” kata dia.

”Saat itu orang tua juga sudah mulai melunak. 

Mereka mem biarkan saya di dunia seni karena saya menghasilkan uang secara mandiri dengan mengajar musik,” tambah ayah tiga anak itu.

Setelah menamatkan SMA, Winarto mulai banting setir ke dunia pertanian, seperti membajak sawah. 

Tak lama kemudian ada salah satu temanya yang mengajak mengajar di sanggar. 

Dari sana dia kembali ke dunia seni. 

”Pada 1994 saya memutuskan berhenti mengajar di sanggar dan fokus melanjutkan S1 di bidang seni tari,” katanya.

Tapi karena tak punya uang untuk biaya kuliah, dia mencari beasiswa di Jurusan Seni Tari Institute Seni Indonesia (ISI) Solo. 

”Selama kuliah di sana saya kerap menggelar pertunjukan tari. Dengan pertunjukan tersebut, saya mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” tuturnya.

Baca Juga: Sukses Buat Kamu yang Pilih Prodi Pendidikan Seni Tari dan Musik UM di UTBK SNBT 2024, Pesaingmu 2 Orang Saja!

Setelah menggelar pentas, akhirnya Winarto memutuskan mendirikan sanggar sendiri. 

Sanggar tari tersebut diberi nama Winarto Dance Ekram. 

Sengaja menggunakan kata ”Dance” agar sanggarnya dikenal hingga mancanegara. 

”Pada 2005 saya juga membuat Malang Dance Company. 

Lalu pada 2021 membuat Latar Seni Winarto Ekram,” kata Winarko yang kini mengaku mempunyai 75 murid itu.

Sejak menekuni dunia seni pada 1994 silam, kini Winarto sudah mempunyai 109 karya. 

Mulai berupa tari, dramatari, teater tari, dan sendratari, baik kolosal maupun nonkolosal. 

Karya-karyanya itu sudah di tampilkan di 85 lebih festival dan forum seni, baik dalam maupun luar negeri.

Selama menekuni dunia seni tari, Winarto berpegang teguh pada tiga hal. 

Pertama disiplin dalam latihan dan kerja keras. 

Kedua pengabdian. 

Dan ketiga adalah, menikmati apa yang sedang dilakukan.

Dengan ketiga prinsip tersebut, Winarto yakin tidak akan ada penyesalan di kemudian hari. 

”Bagi para seniman, jangan berhenti berkarya dan terus meningkatkan potensi. Masih banyak hal-hal yang bisa diperjuangkan. Masih banyak pula potensi yang harus digali agar dapat menjadi seseorang yang hebat,” pungkas pria yang mendapat penghargaan sebagai seniman kreator tari se-Jawa Timur dari Gubernur Jatim pada 2019 itu. (*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Kota Batu #Winarto Ekram