Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Lukman Hakim, Produsen Tasbih asal Gunung Kawi Malang, Ada Produk yang Berbahan Kayu Kelor Hitam Favorit Kiai

Mahmudan • Kamis, 2 Mei 2024 | 19:37 WIB
Lukman Hakim (kiri) produsen tasbih asal Gunung Kawi Kabupaten Malang yang tembus pasar internasional
Lukman Hakim (kiri) produsen tasbih asal Gunung Kawi Kabupaten Malang yang tembus pasar internasional

Duduk bersila, Lukman Hakim menghadap karung berisi butiran tasbih. 

Sedangkan sang istri di sampingnya sibuk membuat tasbih. 

Usaha pembuatan tasbih digeluti sejak 1997 silam, setahun setelah mereka menikah. 

Lukman bersama istrinya, Sriati tinggal di Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang. 

Tepatnya di lereng Gunung Kawi. 

Kepiawaian membuat tasbih diperoleh dari keluarganya. 

Ayah dan kakeknya merupakan perajin tasbih. 

Baca Juga: Polisi Evakuasi Dua Pendaki di Gunung Kawi Malang

Ketika duduk di bangku MTs (setara SMP), Lukman remaja kerap menyaksikan ayahnya membuat tasbih. 

”Sewaktu mengetahui saya menekuni usaha tasbih, keluarga juga mendukung. Malah bilang, nggawe o tasbih, ngkok kene seng ngedolke (kamu bikin tasbih nanti kami bantu jual, red),” cerita dia sambil sesekali menunjukkan tasbih buatannya. 

Dalam membuat tasbih, Lukman menggunakan bahan-bahan lokal tapi pemasarannya tembus internasional. 

Seperti kayu bidara, secang, setigi, gaharu, cendana, galih kelor, galih asam, kalimusodo, nogosari, hingga agastis. 

Beberapa bahan bisa ditemui di Malang, tapi ada yang juga harus ke daerah lain seperti Kupang, Madura, dan Sumbawa. 

Kualitas bahan menentukan harga jual. Selain itu, ukuran dan tingkat kesulitan juga menentukan. 

”Makanya harga bervariasi, sesuai bahan dan ukuran yang diminta pelanggan,” kata pria yang menikah pada 1996 itu. 

Meski pemasaran sempat dibantu keluarga, Lukman juga promosi ke Pesarean Gunung Kawi. 

Ini karena kediaman mereka yang berada di Dusun Magersari hanya berjarak 500 meter dari pesarean. 

Di samping itu, kunjungan ke Pesarean Gunung Kawi juga sangat tinggi. 

Banyak pengunjung dari kalangan menengah ke atas juga. 

”Akhirnya jadi getok tular (dari mulut ke mulut, red). Orang sering bertanya, tasbihnya dibuat siapa dan penjualnya di mana,” terang dia. 

Baca Juga: Berkunjung ke Gunung Kawi Malang : 3 Rekomendasi Hotel & Villa Dekat Pesarean, Cukup Jalan Kaki sudah Sampai!

Agar tasbih buatannya semakin terkenal, Lukman juga pergi ke Pasar Besar Malang (PBM). 

Di sana, tasbihnya sering diborong oleh Toko Ojo Lali. 

Pemesanan tasbihnya bisa sampai 750 kodi. 

Setiap kodi berisi 20 pcs. 

Semakin lama, semakin banyak yang mengetahui tasbih buatan Lukman. 

Terutama dari sejumlah pondok pesantren di Jombang. 

Di luar Malang, tasbihnya juga dicari-cari masyarakat dari Surabaya, Sidoarjo, Jakarta, hingga Banten. 

Jalan Lukman dalam berbisnis tasbih kian terbuka lebar. 

Sebab, pada 2006 ada teman-teman terdekat yang mengenalkan Lukman dengan pengusaha asal Tiongkok yang bekerja di Singosari. 

Melalui orang tersebut, tasbih pertama kali dipesan 150 buah dengan ukuran 18 milimeter. 

Setiap tasbih dibeli dengan harga Rp 650 ribu. 

Pemesanannya juga tidak sekali. Pengusaha Tiongkok juga semakin sering membeli tasbih untuk dijual kembali ke negeri panda. 

Harga jualnya bervariasi sampai Rp 1 juta per tasbih. 

”Kenapa waktu itu saya percaya dengan pengusaha Tiongkok ini, karena transaksinya dilakukan langsung,” ungkap pria berusia 50 tahun tersebut. 

Karena percaya dengan tasbih yang dibuat Lukman, sang pengusaha memesan 1.000 gelang. 

Satu gelang berukuran dua sentimeter dibanderol Rp 350 ribu. 

Baca Juga: Catat Harganya! Ini 3 Rekomendasi Kafe Resto Instagrammable di Sekitaran Gunung Kawi Jalur Blitar

”Juga pesan tasbih lagi berukuran 12 milimeter sebanyak 300 tasbih. Satu tasbih dibeli dengan harga Rp 750 ribu,” imbuh Lukman. 

Selain sudah ekspor ke Tiongkok, relasi membuat tasbih Lukman ke Korea dan Jepang. 

Spesifikasi yang biasa dijual di dua negara tersebut berupa tasbih berisi 38 butir dan 108 butir. 

Pernah juga produk tasbihnya dibeli untuk dijual kembali di Dubai. 

Harga bervariasi. Mulai Rp 200 ribu dengan ukuran delapan millimeter dan yang paling mahal berukuran dua sentimeter dengan harga Rp 1,5 juta hingga Rp 5 juta. 

”Ada pula yang favorit kiai dari bahan kelor hitam. Harganya bisa sampai Rp 1 juta,” bebernya. 

Dengan animo pembeli yang semakin banyak, dalam satu bulan Lukman bisa memproduksi sekitar 200 tasbih. 

Dia dibantu Sriati dan tujuh pegawai lain yang bertugas untuk mencetak kayu menjadi butirbutir kecil. 

”Alhamdulillah sejak ada pegawai, saya tinggal finishing, seperti menghaluskan hingga meronce tasbihnya,” kata ayah dua anak dan dua cucu tersebut. 

Pada tahun 2006, Lukman melebarkan usahanya ke kerajinan lain. 

Misalnya saja pembuatan ulek-ulek, kerokan, hingga tongkat komando yang biasanya digunakan oleh jenderal bintang dua. (*/dan)

 

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#tasbih #malang #gunung kawi