Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Prasasti Gotama, Penulis asal Malang Raih Penghargaan Mendikbud hingga Lolos Kurasi London Book Fair

Mahmudan • Jumat, 3 Mei 2024 | 19:36 WIB
Photo
Photo

Sambil memegang selembar kertas berisi Curriculum Vitae (CV), Prasasti menunjukkan prestasinya di bidang kepenulisan. 

Prestasi itu tertulis dalam CV tersebut. 

Mulai menulis cerpen di media massa, menjadi pembicara dalam festival, hingga menulis buku yang monumental. 

Bahkan, salah satu bukunya lolos kurasi London Book Fair 2022 kategori fiksi. 

Buku tersebut berjudul Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam? ”Karya itu menjadi salah satu karya yang paling berkesan bagi saya,” ujar perempuan yang biasa disapa Sasti Gotama itu.

Baca Juga: Darwanto, Guru SD yang Juga Penulis Berprestasi

Gotama merupakan nama suaminya. Mereka sama-sama lulusan Universitas Brawijaya (UB). 

Bedanya, sang suami dari jurusan elektro, sedangkan Sasti mengambil pendidikan profesi kedokteran. 

Selain menjadi karya pertama yang diterbitkan oleh penerbit mayor, karya tersebut juga meraih banyak penghargaan. 

Di antaranya terpilih menjadi lima besar buku sastra pilihan Tempo pada 2020. 

Selanjutnya masuk nominasi Penghargaan Sastra Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada 2021. 

Lalu tahun 2022 menjadi pemenang I Sayembara Sastra “Rasa” yang diselenggarakan Ayu Utami dan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). 

Total ada 32 buku yang dihasilkan. 

Mulai dari yang ditulis sendiri, perannya sebagai editor, hingga penerjemah. 

Kariernya di bidang literasi bisa dibilang tanpa perencanaan. 

Meski gemar membaca, tapi profesinya sebagai dokter umum membuat dia tidak pernah berangan-angan bakal menjadi penulis. 

Apalagi dia sudah praktik selama 10 tahun. 

Di sela-sela praktik, pada 2018 lalu dia mulai menulis fiksi kilat (flash fiction) di media sosial (medsos). 

Panjangnya tulisannya sekitar 600 sampai 900 kata. 

“Waktu itu saya sedang sakit. Jadi, saya berusaha mengalihkan rasa sakit dengan menulis,” kata warga Tunjungsekar, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang itu. 

Baca Juga: Anak Milenial Pengunjung Perpustakaan Sarankan Tambah Koleksi Komik-Novel

Memasuki tahun 2019, ketertarikan terhadap kepenulisan semakin meningkat. 

Dia mulai mempelajari dasar-dasar penulisan dengan serius. 

Seperti cara membuat kalimat tunggal dan majemuk. 

Merasa semakin mumpuni, Sasti mencoba mengirim karya-karyanya ke berbagai media masa. 

Dia juga sempat menjadi editor. 

Di antaranya, editor di buku Musuh Bebuyutan karya Gunawan Triatmodjo, Jalan Menuju Rumah karya Mashdar Zainal, Wina Bojonegoro, Ailyn Yananda, Asti Mulyana, dan lainnya. 

Kegigihannya menulis membuahkan hasil. 

Setahun kemudian, yakni 2020, cerpen yang dia kirim ke surat kabar mulai direspons. 

Misalnya cerpen berjudul ”Apa yang Paul McCartney Bisikkan di Telinga Janitra?” ditayangkan Kompas. 

Juga ada Sima yang terbit di Jawa Pos pada 15 April 2023 lalu dan Serbuk Ragi terbit di Media Indonesia pada 31 Desember 2023. 

Terbaru, ada Bila Lelah yang terbit di Kompas pada 21 April 2024. 

Tulisannya kebanyakan bercerita tentang keadilan yang tidak berpihak pada perempuan. 

Misalnya Bila Lelah, karya terbarunya yang terbit di Kompas. 

Cerita tersebut terinspirasi dari kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang pernah dia temui. 

“Sekujur tubuhnya lebam-lebam. Namun karena tidak membawa surat permintaan visum, korban tidak bisa mendapatkan surat hasil visum,” kata dia. 

Baca Juga: Apple TV Rilis Miniseri Lisey's Story, Adaptasi Novel Stephen King

”Akhirnya hanya mendapatkan perawatan medis dan surat keterangan hasil pemeriksaan,” tambah ibu tiga anak itu. 

Terbaru, dia menerbitkan buku berjudul Akhir sang Gajah di Bukit Kupu-Kupu. 

Terdapat satu cerita tentang perempuan yang melawan ketika menjadi korban rudapaksa hingga pelaku terbunuh.

Namun ironisnya, korban malah dihukum sebagai pembunuh. 

Kemudian di cerita kedua juga tentang perempuan yang menjadi korban pemuka aliran kepercayaan. 

Perempuan tersebut dirudapaksa atas nama kepercayaan. 

Ada juga yang menunjukkan eksistensi perempuan yang kadang harus mengorbankan kariernya demi anak dan keluarga. 

Hal tersebut berbeda dengan laki-laki yang bisa terus mengejar karier impiannya. 

Bahkan hingga ke titik tertinggi pencapaian kariernya. 

Juni depan, novel perdananya bertajuk Ingatan Ikan-Ikan akan diterbitkan salah satu penerbit mayor. 

Novel tersebut bercerita tentang trauma psikologis orang-orang yang menjadi korban kerusuhan 98. 

Saat ini, Sasti juga aktif sebagai redaktur cerpen media online, mentor kelas kepenulisan, dan penerjemah buku sastra dan filsafat. 

Beberapa buku yang pernah dia terjemahkan antara lain Narsisme karya Sigmund Freud, Etika Ambiguitas dan Apa Itu Eksistensialisme karya Simone de Beauvior. (*/dan) 

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Penulis #prasasti gaotama #malang