Muhammad Isyroqi Basil memilih kritis terhadap pemerintah melalui aksi lingkungan. Dua minggu sekali bersama Trash Hero Tumapel, dia membersihkan sampah yang berserakan di fasilitas umum maupun sungai. Tanpa bayaran, malah kerap keluar ongkos.
NAHDIATUL AFFANDIAH
SETIAP akhir pekan, Isyroqi Basil bersama rekan-rekannya selalu terlihat berkeliaran di fasilitas-fasilitas umum, khususnya saluran air dan sungai.
Ciri khas mereka memakai baju kuning.
Bersenjata sarung tangan dan keinginan kuat untuk menuntaskan masalah sampah yang mengotori lingkungan.
Baca Juga: Parkir Liar Jalan Semeru Kota Malang Biang Macet, Ditertibkan Dishub Berkali-kali Masih Membandel
Sejak 2022, pria yang akrab disapa Coqi itu didapuk menjadi ketua chapter Trash Hero Tumapel.
Sebuah organisasi nonprofit penjaga lingkungan yang fokus membersihkan sampah di sungai maupun fasilitas umum di wilayah Malang Raya.
Dibentuk sejak 2018, saat ini organisasi tersebut sudah melakukan 131 kali aksi bersih-bersih sampah.
Total sampah yang mereka kumpulkan mencapai 3,5 ton.
Dalam sekali kegiatan, mereka bisa mengumpulkan 20 kilogram sampah per jam.
Itu khusus untuk aktivitas di fasilitas umum Kota Malang.
Beda cerita kalau bersih-bersih sungai.
Perolehan sampahnya bisa dua kali lipat lebih besar.
”Yang agak berat dan menjadi tantangan kami sekarang memang bersih-bersih sungai. Terutama Sungai Brantas. Peralatan kami belum banyak, anggota masih puluhan, medannya juga sulit,” terang Coqi.
Dia mencontohkan bersih-bersih sampah di sungai Kalisari pada 2023 setelah terjadi banjir, bertepatan dengan musibah banjir bandang di Kota Batu. Kegiatan itu menjadi tidak maksimal karena terlalu banyak sampah yang tersangkut di pohon beringin.
Ketinggiannya ada yang mencapai empat meter.
Selain aksi nyata di lapangan, laki-laki berusia 26 tahun itu juga ingin mendorong pemerintah lebih peduli terhadap persoalan sampah.
Sayang, langkah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Berkali-kali dia mengajukan audiensi tentang penanganan masalah sampah ke Pemerintah Kota Malang, tapi ber-kali-kali juga diabaikan.
Bersama 12 orang anggota inti Trash Hero Tumapel, dia berharap Dinas Lingkungan Hidup (DLH) lebih serius dalam penanganan sampah.
Baca Juga: Lagi, Bakar Sampah di Malang Berujung Kebakaran
Menurutnya, kampanye peduli sampah harus terus digaungkan lantaran kesadaran masyarakat dalam masalah itu masih timbul tenggelam.
Berdasar penilaian Coqi, kampanye semacam itu kurang maksimal.
”Terbukti masih banyak sampah berserakan. Bahkan buang sampah di sungai masih jadi kebiasaan warga sekitar,” lanjut Coqi.
Padahal, ketika sudah aturan yang berisi sanksi tentang membuang sampah sembarangan, pemerintah harus lebih tegas melakukan pengawasan dan penertiban.
Tantangan untuk membersihkan sampah bersama Trash Hero Tumapel juga datang dari sisi yang tak terduga.
Selama hampir enam tahun Coqi menjadi ketua, hambatan dan tekanan justru ada yang muncul dari kelompok masyarakat tertentu.
Dia kerap dipalak preman di sekitar Tempat Pembuangan Sampah (TPS).
Tak jarang harus merelakan uang pribadi untuk membayar preman itu.
Kendala semacam itu bisa muncul karena adanya peraturan daerah yang menutup seluruh TPS pada pukul 11.00.
Sementara aksi bersih-bersih sampah yang dilakukan Trash Hero Tumapel biasanya baru selesai pukul 11.00.
Itu karena mereka harus menyesuaikan dengan waktu luang anggota.
”Beberapa kali kami harus membayar uang sekitar Rp 25 ribu agar diizinkan membuang sampah di TPS yang sudah tutup,” terangnya.
Pengalaman lain yang terjadi saat melakukan bersih-bersih adalah menemukan sampah hasil perbuatan asusila. Misalnya, alat kontrasepsi seperti kondom bekas pakai di kawasan taman kota.
Baca Juga: Bikin Tempat Pembuangan Sampah di Kota Batu, Penolakan Warga Jadi Tantangan Besar
”Selalu kami temukan di Taman Merjosari,” kenangnya.
Saat ini Coqi dan teman-temannya di Trash Hero Tumapel juga melakukan audit brand.
Setiap aksi bersih lingkungan, sampah yang terkumpul akan dipilah berdasar nama brand.
Ke depan, jumlah yang terkumpul akan dilaporkan kepada brand masing-masing agar produsen sadar bahwa perusahaannya sudah menyumbang banyak sampah.
”Sebenarnya permintaan kami sederhana, tolong dikurangi produksi bungkus plastik sekali pakai,” ungkap laki-laki yang kesehariannya mengajar les itu.
Namun permintaan tersebut juga bukan hal mudah untuk dipenuhi.
Beberapa brand berkelit ketika diprotes dengan fakta-fakta yang ada.
Mereka selalu mengatasnamakan kemampuan daya beli konsumen. Seolah-olah mereka juga terpaksa. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana