Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perjuangan Meralda Nindyasti Eka Budi Astutie Kampanyekan Bank ASI, Sudah Bantu Proses Donor 8.500 Liter ASI

Bayu Mulya Putra • Jumat, 5 Juli 2024 | 18:37 WIB

GIATKAN EDUKASI: Dokter Meralda Nindayasti Eka Budi Astutie (kanan) memberikan edukasi pentingnya ASI kepada salah satu warga di Kajoetangan Heritage, beberapa waktu lalu.
GIATKAN EDUKASI: Dokter Meralda Nindayasti Eka Budi Astutie (kanan) memberikan edukasi pentingnya ASI kepada salah satu warga di Kajoetangan Heritage, beberapa waktu lalu.

Diawali dengan aplikasi pada 2018, gerakan Lactashare kini merambah ke Bank ASI. 

Skrining dilakukan dengan sangat detail untuk menghindari saudara sepersusuan. 

Ada sertifikat dari MUI untuk setiap pendonor dan penerimanya. 

NABILA AMELIA

Tahun ini adalah tahun keenam dr Meralda Nindayasti Eka Budi Astutie mengembangkan Lactashare, lembaga nirlaba yang getol mengampanyekan pentingnya pemberian air susu ibu (ASI). 

Awalnya mereka fokus berkampanye lewat aplikasi. 

Meralda melakukan itu karena ingin berpartisipasi dalam Gerakan Nasional 1.000 startup digital yang digelar Kementerian Kominfo. 

Lama kelamaan, Meralda dan timnya tidak bisa mengelola aplikasi Lactashare. 

Mereka kemudian memilih media sosial (medsos) sebagai platform kampanye ASI. 

Tidak hanya itu, dia juga membangun Bank ASI syar’i untuk menyesuaikan mayoritas masyarakat Indonesia. 

Semangat Meralda dalam mengampanyekan ASI tidak lepas dari pengamatannya terhadap fenomena susu formula Selama ini, dia melihat banyak ibu yang menjadikan susu formula sebagai alternatif jika tidak mampu memberikan ASI. 

Di samping itu, Meralda terinspirasi dari seminar di Semarang yang dia ikuti saat masih berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB). 

Saat itu, pematerinya adalah salah satu pakar nutrisi dan metabolik sekaligus dokter spesialis anak, Damayanti R Sjarif. 

Dari seminar tersebut, Meralda banyak mendapat ilmu seputar gizi anak.

Puncak perhatiannya terjadi saat dia pergi ke Filipina untuk menjadi dokter relawan sekitar tahun 2013. 

Kebetulan, Meralda sedang mencapai titik jenuh selepas lulus dari FK UB.

”Karena itu, saya ikut program relawan dari Kemenko Kesra di Filipina,” kenangnya. 

Saat mengelilingi Filipina, Meralda melihat ada banner. 

Banner tersebut memuat tulisan ’human milk bank’ atau Bank ASI.

Tidak lama setelah pulang dari Filipina, dia kembali menjadi dokter relawan di Kepulauan Nias. 

Di sana, dia menjumpai anak umur dua tahun yang hanya memiliki berat badan lima kilogram. 

Anak tersebut tinggal bersama ibunya yang juga kurus kering. 

Bahkan, ibunya menderita tuberkulosis. 

”Saya kemudian bertanya-tanya, kok ada negara makmur yang sebagian penduduknya telantar secara gizi,” ucapnya. 

Dari pengamatannya terhadap kondisi anak di Kepulauan Nias, Meralda teringat banner soal Bank ASI di Filipina. 

Dia kemudian memutuskan untuk menjadi konselor untuk lebih mendalami ASI. 

Pada 2018, dia mulai merintis Lactashare hingga berkembang menjadi Bank 

ASI seperti sekarang. 

Donor melalui Bank ASI tidak bisa dilakukan sembarangan. 

Ada beberapa aturan yang perlu dipatuhi. 

Misalnya saja, pendonor dalam kondisi sehat, tidak bertato, tidak memiliki riwayat penyakit seperti penyakit menular, dan melakukan gaya hidup berisiko.

Pendonor juga harus menjalani skrining laboratorium. 

Antara lain pemeriksaan darah, serum darah, HIV/AIDS, hepatitis, dan sitomegalovirus (kelompok virus herpes). 

Penerima donor atau resipien juga harus jelas latar belakangnya. 

Jika kedua pihak lolos skrining, akan dilakukan tes wawancara dan dipertemukan. 

Proses donor ASI sangat ketat untuk mencegah terjadinya saudara sepersusuan. 

Kedua belah pihak pun mendapat sertifikat dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). 

”Saat ini kami sudah membantu mendonorkan lebih dari 8.500 liter ASI,” ungkap Meralda. 

Selama turun ke lapangan untuk bersosialisasi, dia menemukan banyak warga yang penasaran dan ingin tahu prosedur donor. 

Selama berkampanye itu, Meralda juga banyak menemui cerita mengharukan.

Ada tiga kisah yang masih diingatnya. 

Salah satunya saat Meralda didatangi seorang ibu dari Kota Malang. 

Ibu tersebut merupakan penderita tuberkulosis dan memiliki bayi berusia dua bulan. 

Berat badan bayinya sekitar 2,9 kilogram. 

Seharusnya, bayi tersebut perlu naik berat badan 1,7 kilogram lagi. 

Melalui Bank ASI, ibu tersebut mendapat tiga ibu susu untuk anaknya. 

Total, ada 40 liter yang berhasil dikumpulkan. 

Hingga akhirnya, dalam tempo tiga bulan, berat bayi itu perlahan naik menjadi 3,1 kilogram. 

Kemudian, menjadi 7,5 kilogram. 

Ada pula ibu yang akhirnya menjadi pendonor untuk anak angkatnya. 

”Saya melihat perempuan yang jadi ibu susu untuk anak angkatnya lama kelamaan banyak ditemui,” jelasnya. 

Meski demikian, itu merupakan hal yang positif. 

Lebih baik dibanding mengonsumsi susu formula.

Satu lagi kisah seorang ibu yang wafat setelah melahirkan anaknya karena Covid-19. 

Alhasil, anak kelima dari ibu tersebut tidak bisa mendapat ASI. 

”Yang bikin saya trenyuh, suaminya adalah seorang pemulung dengan hidup serba kekurangan. Beruntung, bayinya bisa dapat donor,” cerita dia.

Beberapa kisah tersebut menguatkan Meralda untuk terus mengampanyekan pentingnya ASI. 

Menjelang Hari ASI Sedunia pada 1 Agustus mendatang, Meralda memiliki misi untuk memasang billboard yang memuat edukasi soal ASI. 

Dia menyasar dua kota, yakni Kota Malang dan Kota Jakarta.

”Kami sedang menggalang dana, karena untuk satu billboard biayanya sekitar Rp 15 juta,” terangnya. 

Di samping itu, Meralda juga melibatkan respons masyarakat tentang pesan-pesan apa yang nantinya disampaikan dalam billboard. 

Tidak hanya itu, pekan depan Meralda berencana melakukan audiensi tentang inovasi peningkatan cakupan ASI eksklusif di Kota Malang. 

Audiensi tersebut akan dilakukan di DPRD Kota Malang pada 10 Juli. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#bank ASI #donor ASI #Meralda Nindyasti Eka Budi Astutie