Teguh Wijiono hanya lulusan SMA.
Sama sekali tidak memiliki bekal pendidikan khusus di bidang kesehatan.
Tapi, dia dipercaya merawat lima cadaver atau mayat manusia yang diawetkan sebagai media pembelajaran anatomi tubuh.
FAJAR ANDRE SETIAWAN
TEGUH Wijiono sudah tampak bersahabat dengan lima cadaver yang disimpan di ruang cadaver Museum Tubuh Jatim Park I.
Tak ada lagi ketakutan dalam benaknya.
Jauh berbeda saat dia pertama kali ditugaskan di ruangan itu sekitar sepuluh tahun silam.
Kala itu bulu kuduknya selalu berdiri setiap kali memasuki ruang cadaver.
Pada awal-awal bertugas, pria asli Pujon, Kabupaten Malang itu juga sempat ragu dengan keaslian jenazah yang diawetkan di Museum Tubuh.
Dia bahkan menduga cadaver itu imitasi jasad manusia
Teguh baru yakin setelah dia diminta ikut merawat dan memegang cadaver
secara langsung.
Ya, kali pertama bekerja, Teguh tak langsung diminta menjadi perawat cadaver.
Melainkan lebih dulu sebagai petugas penjaga ruangan.
Sehari-hari dia diminta member-sihkan ruangan hingga menjelaskan detail masing-masing cadaver kepada pengunjung.
Meski awalnya sebatas penjaga ruangan cadaver, pekerjaan itu bukan hal mudah bagi Teguh.
Dia tidak memiliki pengetahuan apa pun di bidang kesehatan.
Malah, Teguh adalah lulusan SMA dari jurusan IPS.
”Saya harus mempelajari banyak hal. Mulai dari sejarah cadaver, proses pengawetan, hingga anatomi tubuh manusia,” ujarnya.
Untuk sejarah cadaver, tidak ada kesulitan berarti bagi bapak dua anak itu untuk menjelaskannya.
Sebab, dia diterima bekerja di Museum Tubuh Jatim Park I benar-benar sejak awal operasional.
Teguh paham betul gambaran umum konsep Museum Tubuh.
Termasuk rencana untuk mendatangkan lima cadaver yang dipesan langsung dari Taiwan.
Namun, untuk memberikan penjelasan tentang anatomi tubuh, Teguh harus belajar ekstra secara mandiri.
Beruntung dia tidak bertugas sendirian di ruang cadaver.
Ada dokter forensik yang hampir setiap hari melakukan pengecekan.
Dokter tersebut juga biasa membantu tugas Teguh untuk menjelaskan detail
cadaver kepada pengunjung.
Khusus untuk kunjungan kolektif dari SMA, SMK jurusan kesehatan, serta mahasiswa, maka yang bertugas memandu adalah dokter itu.
Dari dokter itu pula, Teguh bisa bertanya banyak hal tentang anatomi tubuh manusia. ”
Sering juga diarahkan ke referensi-referensi tertentu untuk sumber belajar saya,” ungkapnya.
Rasa penasaran mendorong Teguh untuk terus belajar.
Khususnya rangkaian proses perawatan cadaver.
Mulai dari penyemprotan alkohol, pengecatan ulang, hingga pemberian formalin.
Akhirnya, pria berusia 35 tahun itu mendapat kesempatan untuk ikut merawat
cadaver secara langsung.
Bahkan, pada beberapa kesempatan dia memegang cadaver itu dengan tangan telanjang alias tak menggunakan sarung tangan.
Misalnya, ketika harus memastikan apakah ada jamur yang tumbuh pada cadaver.
Saat itulah Teguh tak lagi ragu-ragu apakah cadaver itu asli atau hanya imitasi.
“Saya mikir juga, kalau imitasi apakah akan sedetail itu,” ungkapnya.
Lama-kelamaan,Teguh diandalkan untuk merawat lima cadaver.
Dia juga yang menyemprotkan alkohol 95 persen ke setiap permukaan cadaver dua pekan sekali.
Tujuannya agar tak ada jamur yang tumbuh.
Teguh pula yang menyemprotkan formalin minimal enam bulan sekali.
Namun saat ini insting Teguh lebih tajam.
Penyemprotan alkohol dan formalin bisa dilakukan sesuai kebutuhan.
Biasanya dia lakukan setelah merasa cadaver-cadaver itu mulai ada perubahan.
Perubahan yang terjadi tak bisa dijelaskan secara spesifik oleh Teguh.
Yang jelas, dia punya insting kuat terhadap perubahan sekecil apa pun yang ada pada cadaver.
Bah-kan pria kelahiran 12 Agustus 1989 itu tak pernah memperlakukan kelima cadaver itu sebagai benda mati.
Dia selalu mengucap kalimat izin setiap akan melakukan perawatan. ”Bagaimana pun, ini kan dulu badannya orang yang juga hidup,” ungkapnya.
Banyak hal yang menjadi pelajaran bagi Teguh selama menjadi perawat cadaver.
Mulai dari kesadaran hidup sehat yang baik dan bisa paham apa yang harus dilakukan saat orang-orang terdekat sedang sakit.
Misalnya, ada keluarga yang mengeluhkan sakit di area tubuh tertentu.
Teguh mulai bisa menjelaskan nama organ tubuh yang sakit.
Ruang cadaver kini sudah menjadi tempat yang nyaman bagi Teguh.
Kendati setiap tiga bulan sekali ada perubahan tugas di zona lainnya.
Namun, untuk perawatan cadaver masih dalam tanggung jawabnya.
”Kadang kalau saya nggak mengecek ke ruang cadaver malah jadi kepikiran,” ucapnya.
Teguh sangat memahami bahwa lima cadaver yang dia rawat adalah aset termahal di Museum Tubuh Jatim Park I.
Perawatannya harus dilakukan dengan pengaturan suhu ruangan.
Yakni di angka 24 derajat celsius.
Sebelum tutup operasional, kotak kaca yang menyimpan cadaver juga harus dibuka.
Hal itu bisa mencegah tumbuhnya jamur.
Lima cadaver itu sebenarnya juga sudah tak mengeluarkan bau.
Namun, untuk kenyamanan pengunjung, Teguh meletakkan arang dan kamper
di setiap kotak kaca.
Saat ini ruang cadaver men-jadi daya tarik utama di Museum Tubuh.
Namun, tak semua pengunjung bisa masuk.
Hanya mereka yang berusia 18 tahun ke atas saja yang boleh masuk.
Pengecualian bisa diberikan kepada pelajar yang berasal dari sekolah kesehatan.
Teguh menyebut ruang cadaver adalah tempat yang tepat untuk merenung.
Utamanya dalam kondisi sepi.
”Karena sunyinya di sini dapat. Jadi enak untuk merenung, apalagi untuk merenungkan hidup,” pungkasnya. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana