Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Transformasi Eka Brilian Pariwara dari Pilot Drone Aerial ke Drone FPV, Sempat Jadi Langganan Program TV dan Film Layar Lebar

Bayu Mulya Putra • Selasa, 9 Juli 2024 | 20:15 WIB

FREELANCE: Eka Brilian Pariwara mengenal dan mendalami dunia drone sejak 2015. Awalnya dia menjadi pilot drone aerial. Mulai 2020, dia menjadi pilot drone FPV.
FREELANCE: Eka Brilian Pariwara mengenal dan mendalami dunia drone sejak 2015. Awalnya dia menjadi pilot drone aerial. Mulai 2020, dia menjadi pilot drone FPV.

Eka Brilian Pariwara sudah sembilan tahun menjadi pilot drone aerial. 

Sejak mengenal drone FPV pada 2020, dia kembali harus belajar dari nol. 

Butuh waktu dua tahun untuk menguasainya. 

DUROTUL KARIMAHRUTINITAS 

 

Eka berbeda dari orang kebanyakan. 

Dia baru bisa bersantai-santai pada hari Senin. 

Sementara saat akhir pekan, dia bakal disibukkan dengan bekerja sebagai freelance pilot droneFPV (First Person View) Acara-acara seperti pernikahan 

hingga event rally sering menggunakan jasanya. 

Saat luang, dia terbiasa membuat konten untuk menambah portofolionya di media sosial. 

”Jadwal terdekat untuk job masih pertengahan bulan Juli,” kata dia saat ditemui di salah satu kedai kopi di Kecamatan Blimbing, kemarin. 

Sebelum menjadi pilot drone FPV, Eka lebih banyak menggunakan drone konvensional atau aerial. 

Awalnya, dia hanya suka traveling dan mengabadikan momen traveling-nya dengan membuat video. 

Pada tahun 2016, dia membeli drone profesional pertamanya dengan harga Rp 9 juta. 

Eka harus menabung dari gajinya selama satu tahun bekerja di bidang instalasi jaringan

”Sebelumnya (tahun 2015) saya beli drone mainan dulu, harganya sekitar Rp 1,5 juta,” tutur pria kelahiran tahun 1997 tersebut. 

Saat itu dia baru lulus SMK. 

Meski menggunakan uangnya sendiri, dia sempat ditentang oleh orang tuanya. 

Sebab, dia dianggap membeli mainan. 

Karena pada tahun-tahun tersebut masih belum banyak pilot drone di Kota Malang, Eka sering mendapatkan job untuk pengambilan video. 

Dari sana, orang tuanya melihat Eka memanfaatkan drone yang dikira mainan tersebut sebagai sumber pendapatan. 

Mereka akhirnya mendukung anak pertamanya tersebut. 

Saat itu, Eka menjalani pekerjaan freelance sambil menjalani kuliah S1 di Sekolah Tinggi Teknik (STT) Multimedia Malang. 

Sekitar tahun 2019, dia sempat diminta untuk menjadi pilot drone dalam acara Jejak Petualang atau sekarang Amazing Trip di Trans 7. 

Selama satu tahun, dia berkeliling Indonesia dan meliput program petualangan di tempat-tempat wisata. 

Sistemnya saat itu yakni bekerja selama 11 hari untuk mengambil tiga episode di suatu daerah. 

Dari sana, impian Eka untuk dapat traveling secara gratis bisa terwujud. 

”Dulu pengen banget main tapi dibayar,” kata Eka. 

Dengan menggunakan drone aerial, dia merekam keindahan alam di berbagai tempat di Indonesia. 

Pengalaman menegangkan hingga menyenangkan dia dapatkan saat itu. 

Dia pernah menerbangkan drone dalam balap sampan event Sangiang Api di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). 

Di tengah angin kencang laut Flores, Eka menerbangkan drone dengan cara melemparkan. 

Dia melakukannya dari kapal bermesin. 

Sementara kapal peserta lomba hanya mengandalkan layar dan tiupan angin. 

”Tapi laju mereka lebih cepat daripada kapal kami yang pakai mesin,” imbuhnya. 

Saat menurunkan drone, dia kesulitan karena putaran propeller atau baling-baling pada drone miliknya melemah. 

Sehingga dronenya akan terbawa angin kencang. 

Eka harus menangkap dronenya saat masih di udara. 

Kalau tidak, drone itu akan jatuh ke laut. 

”Jadinya tangan dan lengan saya sobek kena baling-balingnya,” kata dia. 

Meski begitu, dia sangat terkesan dengan festival tersebut. 

Pengalamannya menerbangkan drone di atas Sungai Asahan, Sumatera Utara 

juga memiliki kesan tersendiri. 

Saat mendengar kata sungai, dia sangat santai membayangkan. 

Namun saat tiba di lokasi, dia melihat sungai yang mengalir dari mulut Danau Toba tersebut adalah sungai dengan jeram terbaik ketiga di dunia. 

”Aliran sungainya sangat cepat, sampai bisa menciptakan ombak sendiri,” kata dia. 

Tanpa persiapan matang, Eka harus mengendalikan drone dari atas sungai di antara tebing-tebing curam. 

Dia juga harus menghindari cipratan air. 

Pengalaman berburu gambar berikutnya terjadi di Sumbawa. 

Saat dia harus merekam hiu paus di Teluk Saleh. 

Dia dan tim harus berangkat pukul 12 malam menaiki kapal dana perjalanan selama empat jam untuk melihatnya. 

”Itu pun kita berputar-putar lama sampai hampir menyerah,” kata dia.

Namun beruntung, dia bisa bertemu hiu paus yang masih kecil dengan panjang 7 meter. 

Pengalaman mengikuti program Amazing Trip itu berjalan selama satu tahun. 

Setelah itu, dia sempat menggarap program merajut asa hingga Laptop si Unyil selama dua tahun. 

Kemudian dia berhenti dan menjalani pekerjaan freelance-nya. 

Di sela-sela itu, dia juga pernah menjadi pilot drone dalam serial Yowes Ben dan Film Yowes Ben 3. 

Setidaknya sekitar tujuh kali dia men-upgrade drone miliknya dengan teknologi terbaru untuk mendukung pekerjaannya. 

Sampai akhirnya dia mencoba drone FPV mulai 2020 lalu. 

Dia butuh waktu selama dua tahun untuk belajar dengan simulator. 

Hingga akhirnya berani menerbangkan jenis drone yang dianggap sulit tersebut. 

Berbeda dengan drone aerial, drone FPV dapat menjangkau spot-spot yang tidak terjangkau oleh drone aerial. 

Sebab, drone FPV memakai kacamata khusus yang membuat pilotnya akan merasa berada di dalam drone. 

Dengan FPV, dia dapat melakukan manuver-manuver yang sulit seperti menukik tajam dari ketinggian. 

”FPV juga bisa terbang dengan kecepatan 150 kilometer per jam,” imbuhnya. Menurut dia, skill memainkan drone FPV itu tidak bisa tergantikan dengan teknologi. 

Sebab, dibutuhkan keterampilan dan feeling yang kuat terhadap gerakan terhadap spot-spot tertentu. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#langganan program tv #fpv #pilot drone #Eka Brilian Pariwara