Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perjuangan Vina Dhesya Maharani Dwinata Mendirikan dan Membesarkan Laskar Belajar Sempat Mengajar di Tempat Penyimpanan Keranda

Fathoni Prakarsa Nanda • Senin, 22 Juli 2024 | 23:35 WIB
AKTIVITAS RUTIN: Vina Dhesya Maharani Dwinata mengajar anak- anak di Rumah Belajar Nusantara, Jalan Muharto Gang VII
AKTIVITAS RUTIN: Vina Dhesya Maharani Dwinata mengajar anak- anak di Rumah Belajar Nusantara, Jalan Muharto Gang VII

Lima tahun sudah Vina Dhesya Maharani Dwinata mendampingi anak-anak kurang mampu dan anak-anak yang putus sekolah untuk belajar. 

Berbagai tantangan mampu dia lewati bersama teman-temannya. 

Termasuk mengajar di tempat penyimpanan keranda dan diusili makhluk halus.

NAHDIATUL AFFANDIAH

MINGGU adalah hari yang istimewa bagi Vina. 

Bukan untuk berlibur atau melepas lelah. 

Melainkan dia gunakan untuk mengajar anak-anak kurang mampu. 

Beberapa dari mereka adalah anak-anak putus sekolah karena masalah biaya atau harus membantu orang tuanya bekerja. 

Pembelajaran model les gratis itu konsisten dilakukan Vina selama lima tahun terakhir. 

Kini, komunitas yang dia dirikan itu sudah berkembang menjadi yayasan gabungan dengan nama Yayasan Bersama Anak Bangsa.

Saat mendirikan Komunitas Laskar Belajar pada 2019 lalu, usia Vina masih 18 tahun. 

Awalnya, komunitas itu berisi guru-guru dari kalangan anak muda yang suka rela meluangkan waktu serta tenaganya untuk mengajar anak-anak kaum marginal

”Waktu itu saya diberi tahu ayah tentang permasalahan anak-anak di kawasan Jalan Muharto yang tidak tersentuh pendidikan,” kata Vita mengawali cerita tentang pendirian Komunitas Laskar Belajar.

Dara asal Jalan Kalisari, Kelurahan Wonokoyo, Kecamatan Kedungkandang itu 

pun mendatangi lokasi yang diceritakan ayahnya. 

Melalui warga yang rata-rata bekerja sebagai pemulung, Vina mengetahui bahwa sebelumnya sudah ada guru les gratis untuk anak-anak. 

Tapi tidak ada yang bertahan lama. 

Vina pun mengajak dua temannya untuk mulai mengajar anak-anak di kawasan Jalan Muharto secara gratis. 

Warga sekitar menyambut baik dengan membantu mencarikan tempat untuk belajar. 

Sayang, saat itu mereka tidak menemukan bangunan kosong. 

Yang ada hanya tempat penyimpanan keranda mayat di dekat kantor kelurahan. 

”Mau bagaimana lagi, terpaksa mengajar di tempat itu,” katanya.

Baca Juga: Perjalanan Arief Boediono Menjadi Embriolog di Tanah Air Pelopori Metode Baru, Jadi Headline di Surat Kabar Jepang

Bangunan itu hanya memiliki lebar lima meter dan panjang enam meter. 

Waktu awal-awal digunakan sebagai tempat belajar, lantai bangunan itu hanya diberi karpet sederhana. 

Meski demikian, kondisi itu tak mengurangi semangat anak-anak untuk belajar. 

Kerap kali ruangan itu diisi 50 anak yang belajar bersama.

Karena beraktivitas di tempat penyimpanan keranda, cerita-cerita unik pun kerap dialami Vina dan teman-temannya. Suatu ketika, setelah selesai mengajar pada pukul 13.00, Vina melakukan evaluasi bersama teman-temannya. 

Tiba-tiba, keranda yang berada di sebelah bangunan dan ditutup seng terdengar mengeluarkan suara seperti dipukul-pukul. 

Padahal, di luar bangunan tidak ada siapa-siapa. 

Namun kejadian semacam itu tidak menggentarkan semangat Vina untuk tetap mengajar.

Proses belajar mengajar di tempat penyimpanan keranda itu berlangsung selama setahun. 

Pada 2020, warga bergotong royong merenovasi bangunan tersebut agar lebih 

layak dijadikan tempat belajar. 

Warga membantu tenaga, sementara Vina dan teman-teman komunitas lain berperan mencari uang donasi.

Saat ini ruang tersebut sudah jauh lebih layak digunakan sebagai tempat pembelajaran. 

Ukurannya lebih besar, bangunannya lebih kokoh, dan lantainya menggunakan 

keramik. 

Ruang itu diberi nama Ruang Belajar Nusan-tara yang terletak di Jalan Muharto Gang 7.

Saat ini Vina juga dipercaya menjadi sekretaris di Yayasan Bersama Anak Bangsa. 

Di kantornya itu, Vina menceritakan berbagai tantangan lain yang dia hadapi. Misalnya, ketika pertama kali mendirikan Komunitas Laskar Belajar. 

Kala itu Vina belum memiliki pengalaman mengajar apa pun. 

Padahal dia harus menghadapi karakter anak-anak yang beragam. 

Mulai dari anak yang pendiam, usil, hingga nakal. 

Pernah suatu ketika ada anak yang datang dengan membawa senjata tajam. 

Tidak ada yang berani mendekati anak itu selain Vina.

”Saya ingatkan dia dengan cara halus dan terus saya dekati. Ternyata sikap dia yang seperti itu karena kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya,” kenang Vina.

Di hari lain, bocah itu juga sempat membawa botol miras. 

Meskipun tidak ada isinya, botol itu tetap membuat Vina resah karena sikap anak-anak yang labil bisa menjadikan anak itu melukai siapa saja. 

Melalui pendekatan yang telaten, anak itu akhirnya bisa bersikap normal seperti teman-temannya.

Baca Juga: Sepak Terjang Novia Dina Romadhona sebagai Ilustrator Lepas asal Malang Aktif Ikut Pameran untuk Penuhi Biaya Kuliah

Tantangan juga pernah datang dari warga sekitar. 

Misalnya pada 2021, saat tempat belajar yang dikelola Vina sudah bertambah menjadi tiga ruang. 

Tempat itu terpisah-pisah. 

Satu di Jalan Muharto Gang 7 dengan nama Ruang Belajar Nusantara. 

Satu lagi Ruang Satap Semi (Satu Atap Sejuta Mimpi) di Jalan Muharto Gang 5. 

Dan yang terakhir ruang belajar di dekat rel kereta Jalan Ciliwung.

”Ruang belajar di Jalan Ciliwung itu terpaksa ditutup karena ada perselisihan di 

kalangan warga,” kenang dara yang baru menyelesaikan pendidikan S-1 Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang itu. 

Untungnya, Vina dan kawan-kawan mendapatkan tambahan dua ruang belajar yang juga lebih layak. 

Yakni ruang belajar bernama Aksara di Rusunawa 1 Kelurahan Buring, 

Kecamatan Kedungkandang, dan Rumah Harsa di Kecamatan Sukun. 

Dua tempat itu dibangun pada 2023 hasil kerja sama dengan warga dan komunitas setempat.

Yayasan yang dikelola Vina pun berkembang dengan tidak hanya mengajar anak-anak dari keluarga kurang mampu dan putus sekolah saja. 

Mereka juga mendampingi masyarakat yang mengidap penyakit kronis serta pendampingan terhadap korban kekerasan seksual. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Perjuangan #Vina Dhesya Maharani Dwinata #mendirikan laskar belajar