Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Malang Mural Family yang Getol Mengubah Bidang-Bidang Kosong Menjadi Estetis

Fathoni Prakarsa Nanda • Rabu, 24 Juli 2024 | 22:24 WIB
PROYEK SOSIAL: Anggota Komunitas Malang Mural Family berfoto bersama setelah menyelesaikan lukisan di lobi Poli Anak RSSA, Minggu lalu (21/7).
PROYEK SOSIAL: Anggota Komunitas Malang Mural Family berfoto bersama setelah menyelesaikan lukisan di lobi Poli Anak RSSA, Minggu lalu (21/7).

Beberapa kali mereka harus tidur di pinggir jalan karena lelah setelah melukis tembok. 

Kadang hasil lukisannya dirusak anak-anak kampung. 

Namun, berbagai pengalaman itu justru membuat komunitas Malang Mural 

Family (MMF) merasa kangen untuk memperindah tembok kosong dengan lukisan-lukisan yang estetis.

DUROTUL KARIMAH 

MINGGU (21/7), sekitar 10 anak muda tampak membubuhkan warna-warna cerah di tembok lobi poli anak Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Malang. 

Satu sisi tembok diblok dengan warna kuning cerah, kemudian diberi gambar lima karakter kartun. 

Sementara satu sisi tembok lainnya dipenuhi gambar taman. 

Lengkap dengan bunga dan hewan seperti ayam, burung, dan kupu-kupu.

Mural yang memenuhi dua bidang tembok itu sebenarnya sudah mulai dikerjakan pada 6 dan 7 Juli lalu.

Sempat jeda karena pekerjaan, aktivitas melukis mural itu kembali dilanjutkan pada 13 dan 14 Juli 2024. 

Proses finishing dilakukan pada 21 Juli. 

Proyek yang rampung dalam lima kali pengerjaan itu diberi nama Visual Healing Project. 

”Kami hanya bisa melukis mural pada akhir pekan. Kalau hari biasa, anggota kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing,” kata Ketua Komunitas MMF Januarispo Pratama. 

Komunitas MMF sempat menghentikan aktivitas melukis mural pada akhir 2019 karena terjadi pandemi covid-19. 

Mereka kembali aktif setelah pagebluk itu mereda. 

Banyak pertimbangan yang membuat MMF memutuskan untuk kembali beraktivitas. 

Salah satunya, pengalaman melukis bangsal kanker anak RSSA pada 2019. 

Saat itu, komunitas yang memiliki anggota aktif sekitar 15 orang tersebut diberi waktu selama dua hari. 

Selama pengerjaan mural, pihak RS mengosongkan bangsal dari pasien. 

Pengosongan tidak bisa dilakukan dalam waktu lama. 

Baca Juga: Mural Pengingat Tragedi Kanjuruhan

Hanya dua hari. 

Anggota MMF harus menuntaskan pembuatan mural itu juga dalam waktu dua hari. 

Terpaksa mereka lembur hingga tengah malam pada hari kedua. 

”Waktu itu hari Minggu. Senin kami harus sudah bekerja lagi. Makanya, mural harus selesai hari itu juga,” imbuhnya. 

Dalam kondisi lelah karena lembur, para anggota MMF mendengar rintihan anak-anak pasien kanker dari balik tembok yang mereka lukis. 

Beberapa pasien terdengar sesak bernapas meskipun sudah menggunakan alat bantu. 

Sesekali terdengar suara tangisan. 

Semakin malam, anak-anak yang menangis semakin banyak. 

Itu pun masih ditambah suara ”bib” dari alat-alat di RS yang terdengar jelas saat tengah malam. 

Mendengar suara-suara itu, lelah yang dirasakan anggota MMF seperti hilang. 

Terusir oleh rasa iba atas perjuangan para pasien-pasien yang masih sangat belia itu untuk sembuh. 

”Malam itu menjadi pengalaman pertama kami menggambar mural dalam kondisi sunyi. Biasanya kamu membuat mural ditemani suara musik yang keras,” kenang Pria kelahiran 1990 tersebut.

Tahun ini mereka kembali mendapat proyek serupa, yakni menggambar di tembok lobi poli anak dengan tema Visual Healing Project. 

Kebetulan proyek tersebut mendapatkan sponsor dari kantor tempat Rispo bekerja, yakni 24 Slides. 

Perusahaan asal Denmark itu bergerak di bidang desain. 

Visual Healing Project menjadi proyek tersulit karena harus benar-benar teliti dalam pemilihan warna. 

Mereka bekerja sama dengan Sahabat Anak Kanker (SAK) dalam melaksanakan proyek tersebut. 

Termasuk riset gambar dan warna yang tepat. 

Menjalankan proyek sosial di tengah kesibukan anggota komunitas yang sudah 

berkeluarga dan bekerja tentu menjadi tantangan tersendiri. 

Mereka harus mencari waktu luang yang sama. 

Berbeda dengan saat masih menjadi mahasiswa, mereka bisa lebih leluasa saat menggambar mural. 

MMF berdiri pada tahun 2015. 

Bermula dari aktivitas Himpunan Mahasiswa Jurusan Desain dan Seni Rupa Universitas Negeri Malang (UM) yang sering mengadakan proyek menggambar bersama. 

Salah satunya di tembok gedung E8 UM. 

Setelah itu mereka sering diundang oleh kampung-kampung di Kota Malang untuk melukis di tembok. 

Saat itu mereka tidak meminta bayaran. 

Tapi, catnya disediakan oleh pihak kampung. 

Kebanyakan mural yang mereka gambar adalah kata-kata bijak. 

”Biasanya kami lakukan di kampung-kampung pinggiran yang di sana banyak pemuda nakal. Seperti pemabuk,” ungkapnya.

Dalam pengerjaannya, MMF juga selalu melibatkan warga kampung untuk ikut menggambar. 

Cara itu bisa menumbuhkan rasa memiliki. 

Sehingga mereka ikut menjaga mural dari tangan-tangan jahil. 

”Mural yang kami buat pernah dicoret-coret. Padahal lukisannya masih belum selesai. Hanya kami tinggal istirahat sebentar waktu magrib,” kata Rispo. 

Berbeda dengan pengalaman melukis di kawasan perumahan yang lebih modern. 

Ditinggal tiduran di pinggir jalan pun tidak ada yang mengganggu. 

Tapi, yang justru mereka rindukan adalah menggambar di tembok-tembok kampung. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#getol #kosong #menjadi #Malang Mural Family #bidang #Mengubah #lukis tembok kampung