SUKSESNYA Sabriza menjadi paskibra di KJRI Melbourne, Australia tak lepas dari peran sang orang tua.
Khususnya sang ibu tercinta yakni Arie Wuryandari SSi MKes-Biomed.
Arie turut hadir secara langsung menemani sang anak. Tak sekadar menemani, tapi juga memberikan support.
Arie ingin melihat langsung sang anak tampil menjadi paskibra.
”Tentu sangat bangga melihat sang anak tampil dilihat ribuan orang,” jelas Arie.
Pengibaran bendera dilakukan sebanyak dua kali. Pagi hari di KJRI Melbourne dan sore hari di Federation Square yang merupakan jantung Kota Melbourne.
Pengibaran di Fed Square lebih berkesan lagi bagi Sabriza karena disaksikan oleh masyarakat umum yang tengah berkunjung di sana.
Selain pengibaran bendera juga ditampilkan atraksi formasi barisan.
Tentu saja penampilan tersebut mengundang perhatian tidak hanya WNI tetapi juga warga Australia bahkan wisatawan dari negara lain.
”Upacara pagi hari di KJRI Melbourne yang hadir tumpah ruah, sangat banyak,” ungkapnya.
Setelah tidak menjadi paskibra, kegiatan Sabriza akan disibukkan dengan kuliahnya yang sudah di pertangahan semester dua.
Selain itu, secara aktif gadis lulusan National Leader School Malang tersebut menjadi anggota Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA).
Mendalami jurusan Psychological Science, Sabriza ingin menjadi akademisi dan peneliti di bidang tersebut.
Selain itu, ia juga sangat tertarik dengan isu drug abuse pada kalangan remaja.
Sehingga Sabriza ingin belajar lebih jauh dan melakukan riset tentang penanggulangan dan pencegahan isu tersebut.
Selama dua semester, Sabriza sangat cepat menyesuaikan diri dengan budaya di Australia.
”Bahkan nilai kuliahnya terhitung High Distinction (HD) semua, yakni nilai tertinggi untuk standar perkuliahan di Australia. Di sana, Sabriza juga tetap menjalani hobinya yakni olahraga beladiri Brazilian Jiu Jitsu (BJJ),” ungkap Arie. (dur/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana