Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Resign saat Jadi Manajer, Kisah Pengusaha Malang Awali Usaha dengan Modal Rp 2 Juta

Bayu Mulya Putra • Jumat, 23 Agustus 2024 | 23:00 WIB

ULET: Buyung Amsal berpose di depan tempat gymnya di Kota Batu, beberapa hari lalu. Usaha itu sudah dibuka sejak 2020.
ULET: Buyung Amsal berpose di depan tempat gymnya di Kota Batu, beberapa hari lalu. Usaha itu sudah dibuka sejak 2020.

Setelah empat tahun bekerja di sebuah restoran dan dipercaya menjadi manajer, Buyung memutuskan resign.

Dia memilih merintis usaha dengan modal minim.

Kerja keras dan keuletannya kini membuahkan hasil

BUYUNG Amsal kini tinggal memanen hasil kerja kerasnya sejak muda.

Bisnis restoran Korea dan tempat fitnessnya sudah berjalan.

Dua bisnisnya itu bisa mendatangkan omzet cukup besar setiap bulan.

Itu sekaligus mewujudkan mimpinya sejak lama.

Terutama saat berhasil membuka restoran Korea sendiri di Malang City Point (MCP).

Dulu, Buyung memiliki cita cita menjadi juru masak.

Baca Juga: Keren! Ini Lima Inspirasi Desain Rumah Kekinian cocok buat Anak Muda

Semua berawal dari kegemarannya membantu ibu memasak dan mencoba resep baru di dapur.

”Kalau lewat jalan lihat penjual nasi goreng sedang memasak itu kelihatan keren dan suka,” ujarnya.

Itulah yang membuat dia memilih berkuliah di School of Business (SOB) Malang mulai 1996 sampai 1999.

Pria yang kini berusia 47 tahun itu mengambil jurusan perhotelan.

Sebab, di dalamnya dia bisa belajar memasak juga.

Saat berkuliah, Buyung ingin bisa magang sebagai juru masak di hotel besar.

Sampai akhirnya dia diterima di sebuah restoran Korea di Surabaya pada 1999.

Saat itu, statusnya bukan mahasiswa magang.

Namun, langsung menjadi karyawan.

”Tapi saya tetap minta surat bukti magang dari restoran untuk kampus,” ucap dia.

Sayangnya, di restoran itu Buyung tak mendapat posisi yang diinginkan.

Baca Juga: Keren! Ini Lima Inspirasi Desain Rumah Kekinian cocok buat Anak Muda

Sebab, dia ditempatkan sebagai waiter.

Dia tak mampu menolaknya.

Akhirnya, posisi tersebut tetap dilakoninya.

Perjalanan kariernya di sana cukup bagus.

Dia mampu menduduki jabatan manajer setelah dua tahun bekerja.

Jabatan itu tak dilakoninya secara lama.

Sebab, pada 2003 dia memutuskan untuk resign setelah kurang empat tahun bekerja di sana.

”Waktu itu saya sudah tidak ingin ikut orang,” ungkapnya.

Setelah resign, Buyung merintis usahanya dari bawah.

Dia tidak langsung berbisnis kuliner seperti keinginannya.

Dia memulai dengan berbisnis voucher pulsa.

Saat itu, modal yang dia keluarkan senilai Rp 2 juta.

Dia menggunakan sistem jemput bola.

Dengan cara mendatangi satu per satu counter pulsa untuk mena warkan kerja sama suplai voucher.

”Saat itu keuntungan satu voucher hanya Rp 100 sampai Rp 250 saja,” ucapnya.

Bisnis itu kemudian berkembang dan merambah ke jual beli ponsel bekas.

Dia tertarik menjalankan bisnis itu karena keuntungannya lebih besar.

Saat itu penjualan ponsel juga sedang tinggitingginya.

Baca Juga: Malang Mulai Memasuki Musim Dingin, Berikut Inspirasi Outfit yang dapat Menjaga Tubuh Tetap Hangat namun Stylish

Beberapa waktu berjalan bisnisnya itu semakin berkembang.

Dia sempat membuka sebuah ruko di Semarang untuk jual beli ponsel bekas.

”Saya pikir kalau di Malang kan banyak saingannya,” imbuhnya.

Setelah berhasil, ayah dari satu orang putri itu juga mulai merambah ke bidang bisnis lainnya.

Seperti swalayan dan tempat fitness.

“Saat itu saya buka swalayan dan tempat fitness pertama saya di Sumba,” ucapnya.

Setelah sukses menjalan kan bisnis, Buyung sempat boyongan ke Sumba untuk tinggal di kampung halaman sang istri. 

Momen itu dimanfaatkan untuk membuka peluang usaha baru di sana.

Saat memutuskan membuka bisnis tempat fitness, dia memiliki alasan khusus.

Dia merasa kecanduan dengan gym sejak 2010 lalu.

Awalnya, Buyung kurang percaya diri dengan tubuhnya.

Tubuhnya dulu cukup kurus.

Berat badannya stagnan di angka 50 kilogram.

Sejak memutuskan ikut gym, berat badannya meningkat signifikan.

Beberapa prestasi pernah dia dapat dari rutinitas itu.

Seperti menyabet predikat best six pack dalam ajang LMen tahun 2012.

Itu yang membuatnya termotivasi untuk berlatih.

Beberapa ajang body contest lainnya juga dia ikuti.

Beberapa berhasil dimenangkan.

Sampai saat ini, bisnis tempat fitnessnya di Sumba masih berjalan.

”Ada orang kepercayaan saya di sana,” ungkapnya.

Sementara sejak 2020 lalu, dia membuka cabangnya di Kota Batu.

Sebab, sejak saat itu dia memutuskan untuk kembali ke Malang.

Perjalanan merintis berbagai bisnis tentu tak mudah.

”Kuncinya harus tekun dan disiplin,” kata dia.

Dia kadang tak menyangka bisnis tempat fitnessnya telah mengeluarkan modal yang cukup fantastis.

Mencapai Rp 2 miliar. (*/by)


 

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Pengusaha #Sosok #Buyung #malang #kerja keras #Inspirasi