USIANYA baru 28 tahun ketika terpilih menjadi Kepala Desa (Kades) Senggreng, Sumberpucung. Relatif muda jika dibandingkan kades lain di Bumi Kanjuruhan. Tapi Rendyta Witrayani Setyawan mampu memajukan wilayah yang dipimpinnya. Terbaru, Senggreng dinobatkan sebagai Kampung Keluarga Berkualitas (KB) se-Indonesia.
KAMPUNG KB merupakan desa yang memiliki integrasi pemberdayaan dan penguatan institusi keluarga. Salah satu tujuannya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, keluarga, dan masyarakat. Itulah yang dialami Kampung KB Jaya Manunggal, Desa Senggreng, Kecamatan Sumberpucung.
Kades Senggreng Rendyta Witrayani Setyawan menyebutkan, di dalam Kampung KB terdapat berbagai bidang. Di antaranya Pojok Edukasi Masyarakat (PESAT), Pusat Informasi dan Konseling (PIK) Remaja, hingga kelompok kegiatan balita dan lansia. Dengan demikian, hampir seluruh kelompok masyarakat terlibat dalam mewujudkan Desa Senggreng menjadi kampung KB.
“Programnya berjalan dengan baik. Partisipasi masyarakatnya juga aktif. Karena itu, kami bisa meraih penghargaan sebagai Kampung KB se Indonesia,” ucap Rendyta yang kini berusia 30 tahun itu.
Penghargaan yang diserahkan oleh Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo itu diterima langsung oleh Rendyta pada 27 Juni 2024 lalu.
Sebulan kemudian, tepatnya Juli 2024, Desa Senggreng meraih dua penghargaan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur. Yakni juara pertama lomba Kampung KB tingkat provinsi dan juara pertama digitalisasi rumah dataku tingkat provinsi.
Untuk dapat meraih berbagai penghargaan, kualitas permukiman di lingkungan juga diperhatikan. Sebagai contoh, Desa Senggreng saat ini sudah nihil Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Juga 100 persen Open Defecation Free (ODF) atau bebas dari orang Buang Air Besar Sembarangan (BABS).
Selain penghargaan yang sudah dikumpulkan, dia juga memiliki berbagai inovasi di bidang pelayanan masyarakat. Seperti inovasi Sistem Mencegah Stunting Dini (Si Mudin). Dengan sistem ini, para calon pengantin (catin) sudah mendapatkan pendampingan sedini mungkin dari kader pemburu stunting. Hal tersebut, sebagai pencegahan supaya tidak muncul kasus stunting baru.
"Upaya tersebut pada tahun berhasil. Kami sudah nihil kasus stunting baru,” kata perempuan yang sudah dua tahun menjabat Kades Senggreng itu.
Kemudian di bidang kependudukan, terdapat inovasi Pelayanan Cepat Tanpa Meninggalkan Kerjoan (Pecel Tempe Mendoan). Dia menjelaskan, banyak warga Senggreng yang bekerja di luar desa. Sehingga ketika membutuhkan pelayanan administrasi kependudukan, mereka terkendala waktu.
Melalui inovasi itu, masyarakat bisa mengurus administrasi kependudukan tanpa meninggalkan pekerjaannya. Sebab, Pemdes Senggreng melayani administrasi kependudukan dengan jemput bola. “Masyarakat tinggal menghubungi contact person, kemudian dari pihak desa akan mengambil berkas-berkas ke rumahnya. Begitu sudah jadi, dokumen juga akan diantarkan,” ucap alumni Magister Manajemen Keuangan Universitas Merdeka Malang (Unmer) itu.
Masyarakat yang memiliki permasalahan sosial juga tidak perlu panik. Sebab, Pemdes Senggreng sudah menempel kontak-kontak darurat di rumah masyarakat. Seperti kontak ambulans maupun pemadam kebakaran (damkar). (yun/dan)
Editor : Mahmudan