Setelah 33 tahun menjadi guru honorer, bulan Desember nanti Siti Nurlaila bakal pensiun.
Keinginannya menjadi PNS atau PPPK harus pupus karena ijazahnya tak linier untuk guru SD.
Dia tak pernah mengeluh, karena ada semangat yang selalu tumbuh ketika melihat senyum dari siswa-siswinya.
RORI DINANDA BESTARI
Enam siswa-siswi kelas V SD Negeri Jatimulyo 4 tengah belajar Bahasa Jawa siang kemarin (10/9).
Dengan sabar, Siti Nurlaila membimbing mereka satu persatu.
Sesekali dia mengetes setiap siswa. Rutinitas itu sudah dijalaninya selama puluhan tahun.
Kerutan di wajahnya cukup menunjukkan usianya yang tak lagi muda.
Tahun ini, Nur, sapaan akrabnya menginjak usia 62 tahun.
Meski begitu, semangat mengajarnya masih tinggi.
Tubuhnya juga masih terlihat bugar.
”Saya mulai mengajar sejak tahun 1991,” terang dia, kemarin (10/9).
Sebagai lulusan Akademi Manajemen Koperasi (AMKOP) Malang, dia yang mendapat gelar Dra. awalnya mengabdi di SMP PGRI 10 Malang.
Dia berkesempatan untuk meniti karier sebagai guru di sana selama tiga tahun.
Nur ingat betul saat pertama kali mendapat gaji dari yayasan sebesar Rp 1.500.
Saat itu, cita-citanya untuk mengabdi sebagai guru sangat besar.
Dari sana, dia diminta untukMmengajar di SD Negeri Jatimulyo 4 pada 1994.
Meski punya pengalaman di SMP, Nur sedikit kewalahan mengajar siswa SD.
Dia juga tak begitu menguasai ilmu keguruan karena sebelumnya mengajar ekonomi.
Saat itu, Nur mengajar di kelas III.
Dia seringkali meminta bantuan teman sesama guru untuk diajari mengajar.
Dari sanalah ilmu mengajarnya terus berkembang. Sebagai tenaga honorer, usaha Nur untuk beralih status ke pegawai negeri nyatanya tidak mudah.
Mengantongi ijazah akta IV, Nur sudah dua kali mengikuti tes calon pegawai negeri sipil (CPNS). Namun hasilnya terus nihil.
”Saya kira memang jurusan saya tidak linier, ya mungkin itu yang membuat sulit untuk diangkat,” kata ibu dari dua anak itu.
Honor pertamanya yang diterima di SD Negeri Jatimulyo 4 senilai Rp 15 ribu. Angka itu terbilang cukup besar untuknya setelah mengajar SMP.
”Sayan ingat betul waktu itu uangnya saya belikan baju untuk anak saya satu setel,” cerita Nur.
Saat ini, gajinya sebagai guru honorer berkisar Rp 2 juta per bulan. Nominal uang memang bukan perkara utama baginya.
Dia hanya berfokus untuk terus memberikan ilmu kepada siswa-siswinya.
Menurutnya, keceriaan anak-anak menjadi motivasi terbesarnya untuk terus mengabdi hingga puluhan tahun.
Berbagai memori mengesankan telah dialaminya selama mengajar.
Nur sering disapa orang-orang yang pernah diajarnya dulu.
”Ada yang dulu saya ajar, sekarang giliran cucunya,” imbuh perempuan kelahiran 1962 itu.
Berbagai aral dan rintangan tentu pernah Nur hadapi semasa mengabdi di SD Negeri Jatimulyo 4.
Saat guru kelas I pensiun, dia diminta mengajar kelas I hingga tahun 2019.
Kemudian pada tahun 2020 di mengajar kelas II, lalu 2023 mengajar kelas III.
”Kalau tahun ini saya khusus mengajar Bahasa Jawa,” ujarnya.
Perkembangan pendidikan menjadi tantangan lainnya.
Puluhan tahun menjadi guru, dia harus mempelajari berbagai macam kurikulum.
Sebagai contoh, terbaru ada Kurikulum Merdeka.
Itu mengapa saat ini Nur ditugaskan untuk mengajar mata pelajaran Bahasa Jawa sejak satu tahun terakhir.
Sebab, dengan mengajar di satu mata pelajaran saja, dia tak perlu banyak belajar tentang kurikulum.
Nur mengatakan, sebenarnya Kurikulum Merdeka banyak mengadopsi dari kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) yang diterapkannya saat awal dia mengajar.
”Bedanya kalau sekarang banyak pakai teknologi digital, itu saya memang tidak bisa,” ungkap wanita yang tinggal di Klojen itu.
Kurikulum Merdeka juga banyak menggunakan IT dan menginput data online.
Dia mengaku kesulitan untuk itu.
Dengan penerapan kurikulum itu, mau tidak mau dia harus mempelajari karakter siswa.
Dulu siswa bisa diajar dengan tegas dan disiplin.
Sementara saat ini, siswa perlu pendekatan lebih personal.
Namun, hal itu juga tak menghalangi semangat Nur dalam mengajar.
Rasa lelahnya hilang saat bertemu siswa-siswinya di SD Negeri Jatimulyo 4.
Karakter yang berbagai macam, serta teman guru sejawat membawa semangat tersendiri.
Itu menjadi alasan terbesar Nur bertahan hingga saat ini.
Bulan Desember mendatang, Nur mantap ingin pensiun mengajar.
Kalau ada kesempatan lebih, sebenarnya dia masih ingin tetap mengajar.
”Rencananya mau buka usaha di rumah, saya memang tidak bisa diam orangnya,” kata Nur.
Kesempatannya menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) juga tertutup.
Sebab, ada pembatasan dalam pendaftaran guru di dalam data pokok pendidikan (dapodik).
Guru yang didaftarkan maksimal berusia 60 tahun. (/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana