Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kisah Firman Ferdiansyah asal Pakis Malang, Kelola Limbah Organik Jadi Energi Alternatif Kontrak Kirim Wood Pellet ke Korea Selatan hingga 2030

Fathoni Prakarsa Nanda • Senin, 23 September 2024 | 22:22 WIB
Photo
Photo

Di tangan Firman Ferdiansyah, limbah organik bisa diolah menjadi wood pellet.

Sebuah energi alternatif pengganti batu bara yang bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar industri.

Melalui kerja sama dengan perusahaan, produk wood pellet itu dipasarkan ke Korea Selatan sebagai sumber energi Pembangkit Listrik Tenaga Uap.

INDAH MEI YUNITA

LIMBAH tripleks terlihat menumpuk di bagian depan pabrik pengolahan wood pellet di Desa Tirtomoyo, Kecamatan Pakis.

Di lokasi yang sama juga ada limbah dari tebu dan kulit kacang Edamame.

Saat pabrik aktif beroperasi, limbah-limbah itu dihancurkan menggunakan mesin hammer mill agar berubah menjadi serbuk.

Selanjutnya tinggal diekstrak menjadi wood pellet menggunakan mesin khusus.

Dalam satu jam, mesin tersebut bisa menghasilkan sekitar 1 ton wood pellet.

Saat Jawa Pos Radar Malang berkunjung pada Sabtu lalu, pabrik itu berhenti beroperasi.

“Permintaan dari luar negeri sangat banyak. Kami sampai tidak bisa memenuhi. Karena itu kami masih fokus menambah mesin pengolahan yang rencananya akan dipindah ke Turen,” ujar Firman

Permintaan dari Korea Selatan sekitar 400 ribu ton per bulan.

Akan tetapi, karena adanya keterbatasan bahan baku, pabriknya hanya mampu memenuhi kebutuhan sekitar 36 ribu ton per bulan.

Terpaksa harus digabung dengan produksi dari pabrik lain.

Firman bukanlah ahli dalam bidang energi terbarukan maupun teknik pengolahan.

Namun, dia sudah aktif berorganisasi sejak 2008.

Saat itu Firman bergabung dalam Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan Kecamatan Bululawang.

Bahkan saat ini menjabat sebagai direktur Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesma) Bululawang.

Aktif berorganisasi membuat Firman memiliki banyak jaringan dan berani merintis produksi wood pellet.

Semula dia hanya memperhatikan banyaknya tripleks maupun kayu yang terbuang di lingkungannya, yakni di Desa Bululawang, Kecamatan Bululawang.

Prihatin dengan kondisi tersebut, dia mulai belajar mengolah limbah kayu pada 2018.

“Saat terjadi pandemi Covid-19 sekitar tahun 2020, permintaan wood pellet semakin melonjak. Khususnya dari Korea Selatan yang memanfaatkannya sebagai sumber energi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU),” kata alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) itu.

Sejak saat itu, produksi wood pellet semakin masif dilakukan.

Terlebih wood pellet juga bermanfaat sebagai energi alternatif karena mengandung sampai 3.500 kilokalori (kkal).

Bisa menggantikan bahan bakar batu bara dan minyak bumi.

“Meskipun asapnya mengandung CO2 (karbondioksida), tetapi tidak berbahaya seperti CO (karbon monoksida). Jadi bisa mengurangi polusi udara,” lanjutnya.

Selain sebagai bahan bakar, wood pellet juga dapat digunakan untuk alas hewan ternak agar selalu steril dan higienis.

Bisa juga sebagai sumber energi panas penghangat ruangan, penghangat kandang ternak, hingga kompor penggorengan industri.

“Disini, kami juga ada pengolah pakan ternak dari kulit singkong. Jadi, kulit singkong ini dipanaskan menggunakan api yang dihasilkan dari wood pellet,” imbuhnya.

Namun karena kurang sosialisasi, pemanfaatan wood pellet di dalam negeri, khususnya Malang Raya, masih minim.

Padahal harganya lebih terjangkau jika dibandingkan dengan bahan bakar lain.

Hanya Rp 1.700 per kilogram.

Tiap kilogram wood pellet bisa membuat api menyala besar selama sekitar 2 jam.

Jika dimanfaatkan dapat menghemat pengeluaran industri.

“Kami ada kontrak sampai 2030 dengan Korea Selatan. Makanya kami terus berupaya untuk memaksimalkan produksi,” kata Firman.

Sementara untuk pemasaran di tingkat lokal terus diupayakan bersama BUMDesma Bululawang.

Hal itu berbeda dengan pemasaran ke luar negeri yang bekerja sama dengan PT.

Sebab, pihak Korea Selatan belum mengenal istilah BUMDesma.

Ke depan Firman mengaku berusaha terus meningkatkan kapasitas produksi.

Pabrik pengolahan bahan baku pun akan terus ditambah.

Salah satunya di Kecamatan Turen yang akan dimanfaatkan untuk memproduksi wood pellet.

Sebab, pabrik di Kecamatan Pakis berada di lingkungan permukiman masyarakat.

Bisa terjadi masalah saat proses pengiriman.

”Contohnya awal tahun lalu. Ada empat truk kontainer yang datang dan sampai memutuskan kabel listrik. Untuk antisipasi, kami akan memindahkan produksi wood pellet,” pungkasnya. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#mengelola #Wood Pellet #Kisah #limbah organik #Kontrak #ke #energi alternatif #Firman Ferdiansyah #Jadi #korea selatan (korsel) #Kirim