Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Cerita Warga Tumpang Zura Nurja Ana Jadi Direktur Operasional Museum Ganesya Singosari Malang

Bayu Mulya Putra • Selasa, 24 September 2024 | 22:39 WIB

TEKUN: Zura Nurja Ana foto di samping wayang kardus saksemen shio kelinci
TEKUN: Zura Nurja Ana foto di samping wayang kardus saksemen shio kelinci

Ikut Rawat Topeng Karya Mbah Karimun Senilai Rp 500 Juta

Sesekali langkah Zura terhenti saat mengecek koleksi di lantai tiga Museum Ganesya, di Jalan Graha Kencana Raya, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.

Dia memperhatikan dengan seksama beberapa bagian koleksi museum.

Seperti celengan kuno, wayang potehi, Reog Ponorogo, hingga topeng Malangan.

Bila ada yang kotor atau berdebu, dia bakal segera membersihkannya.

Rutinitas yang ditunjukkannya Jumat malam itu (20/9) sudah dilakoni sejak 2022.

Tepatnya saat dia menjadi direktur operasional Museum Gubug Wayang Group, perusahaan yang menaungi Museum Ganesya.

Fokus dan perhatian Zura tidak hanya ke koleksi-koleksi di Museum Ganesya.

Namun juga koleksi-koleksi Museum Gubug Wayang di Kota Mojokerto dan Museum Srimulat di Kota Batu. 

”Setiap hari saya selalu keliling. Bisa ke Kota Mojokerto, Malang, atau Kota Batu,” cerita dia.

Meski harus berkeliling ke tiga museum, Zura tidak bosan.

Sebab, dia bisa mendapat banyak ilmu.

Terutama seputar pengelolaan museum, kebudayaan, dan sejarah.

Itu berbanding terbalik dengan latar belakang pendidikannya.

Dulu, Zura berkuliah di Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan (HKN) Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Malang (UM).

Zura baru mempelajari pengelolaan museum tahun 2021.

Saat itu, dia direkomendasikan sebuah vendor untuk bergabung di Museum Gubug Wayang.

Kebetulan, pihak museum sedang mencari pemuda-pemuda yang memiliki minat mengembangkan museum.

Zura pun mencoba mendaftar.

Dia kemudian diterima menjadi salah satu videografer.

Tugas pertamanya yakni mendata situs bersejarah.

Mulai dari candi, jolotundo, hingga sumber air.

Itu dia lakukan selama enam bulan.

”Pendataan dilakukan di beberapa lokasi seperti Mojokerto dan Pasuruan,” terangnya.

Karena dilakukan saat selesai skripsi, Zura tidak terkendala.

Apalagi, pendataan tidak dilakukan setiap hari.

Dalam satu bulan, pendataan dilakukan dua kali.

Dari sana, Zura banyak mendapat ilmu baru.

Untuk memperkaya pengetahuan, dia juga aktif membaca berbagai literasi dan menonton YouTube.

Setelah selesai melakukan pendataan, Zura sempat keluar.

Dia magang di Kantor Hubungan Internasional UM dan Kantor Imigrasi Kelas I TPI Malang.

Namun, pada 2022 Zura mendapat tawaran untuk bekerja di Museum Gubug Wayang Group.

Tidak tanggung-tanggung, dia langsung duduk di posisi direktur operasional.

”Waktu itu bertepatan dengan pandemi. Kalau tidak pandemi mungkin saya daftar CPNS,” ucapnya lantas terkekeh.

Saat mendapat tawaran bekerja di museum, Zura merasa senang sekaligus gamang.

Dia lantas meminta saran kepada orang tuanya.

Beruntung, orang tua Zura tidak keberatan.

Mereka malah mendukung dan menyerahkan keputusan sepenuhnya di tangan perempuan kelahiran 13 Desember 1999 tersebut.

Zura pun mantap menjajal pekerjaan sebagai direktur operasional di Museum Gubug Wayang Group.

”Waktu pertama kali datang, saya dibilangi ’selamat datang di dunia yang sepi’. Karena jarang ada yang berminat bekerja di museum,” cerita dia.

Namun, Zura tetap menjalani pekerjaan dengan sepenuh hati.

Tugas pertamanya kala itu yakni berkunjung ke beberapa mitra Museum Gubug Wayang Group.

Mulai dari sekolah hingga perguruan tinggi.

Beberapa mitra itu menjadi lokasi Museum Gubug Wayang Group menggelar program temporary museum.

Yakni dengan meletakkan 12 lemari berisi koleksi-koleksi untuk dipamerkan dalam jangka waktu tertentu.

Ada beberapa institusi pendidikan yang menjadi mitranya.

Misalnya saja Binus University di Kota Malang dan Universitas Surabaya (Ubaya).

Di samping itu, temporary museum juga pernah dilakukan di Kantor Bupati Ponorogo.

Dia juga ikut melakukan riset tentang karya-karya yang akan dibeli museum.

Juga menatanya menjadi ribuan koleksi sesuai tema.

”Koleksi yang paling mahal adalah topeng karya Mbah Karimun,” sebut Zura.

Satu karya seniman topeng Malangan legendaris itu dibanderol sampai Rp 500 juta.

Selama dua tahun berkecimpung di pengelolaan museum, Zura merasa selalu tertantang untuk terus mempromosikan koleksi-koleksi museum.

Baik melalui media sosial, program temporary museum, maupun festival atau kegiatan.

Upaya Zura dan timnya cukup membuahkan hasil.

Dengan banderol tiket Rp 25 ribu, ada ratusan pengunjung museum tiap harinya.

Tidak hanya menarik minat warga lokal, wisatawan mancanegara juga berhasil digaet.

Salah satunya dilakukan bekerja sama dengan perguruan tinggi di Thailand.

Dalam waktu dekat, tim Museum Gubug Wayang Group juga sedang menggarap museum baru.

Lokasinya di Pulau Bali.

”Untuk detailnya nanti saja kalau sudah selesai dibangun,” kata dia.

Sejauh ini, perkembangan museum baru di Pulau Bali hampir 50 persen.

Koleksi hingga konsepnya pun sudah tersedia. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#warga #Cerita #museum #Tumpang #Direktur Operasional