Siva selalu membawa sample kopi produksi petani di Malang saat menjadi juri di luar negeri.
Kopi-kopi itu juga dia seduhkan.
Beberapa masukan dia dapatkan agar komoditas tersebut bisa bersaing di pasar internasional.
DUROTUL KARIMAH
Coffee Shop Amstirdam di kawasan Ruko Jalan Soekarno-Hatta tampak ramai kemarin siang (25/9).
Dua peracik kopi terlihat sibuk dengan alat-alat pembuat kopi.
Tak jauh dari coffee shop tersebut, terdapat tempat penggorengan kopi yang hanya dibatasi dengan dinding kaca.
Pengunjung dapat menyaksikan proses penggorengan kopi di sana
Seseorang dengan perawakan khas India sesekali mengawasi aktivitas karyawannya di sana.
Dialah Sivaraja, CEO Amstirdam.
Saat senggang, dia biasanya ikut membuatkan kopi pelanggan di Amstirdam.
”Biasanya saat slow bar saya buatkan kopi oleh-oleh dari suatu negara untuk dicicipi bersama,” kata dia.
Setiap tahun, pria kelahiran Malang tersebut bisa pergi ke tiga negara berbeda untuk melakukan penjurian kompetisi kopi dunia atau World Coffee Championship (WCC).
Setiap berkunjung ke negara-negara tersebut, Siva biasanya membawa pulang minimal1, 0 jenis kopi yang berbeda.
Oleh-oleh itu bakal diseduh bersama di Amstirdam Coffee.
”Terakhir Juli lalu, slow bar oleh-oleh dari Copenhagen, Denmark,” kata Pria kelahiran tahun 1980 tersebut.
Slow bar tersebut bebas diikuti siapa pun.
Bahkan tak jarang petani-petani kopi ikut mencicipi oleh-oleh tersebut.
Tentu saja, setiap kopi memiliki ciri khas masing-masing.
Begitu juga oleh-oleh kopi yang dia bawa dari berbagai daerah di negara-negara lain.
Seperti Melbourne, Australia; Busan, Korea Selatan; hingga Milan, Italia.
Dari slow bar tersebut, Siva juga membuktikan bahwa kopi-kopi yang dia bawa dari belahan dunia lain akan terasa berbeda apabila diseduh di Indonesia.
”Karena suhu dan kualitas airnya berbeda-beda,” kata dia.
Namun apabila ada kopi yang terasa enak, dia akan mempelajari bersama faktor-faktor pendukungnya.
Mulai dari tanah, atau saat proses penggorengannya.
Seperti yang saat ini dilakukannya.
Yakni mencoba menerapkan metode Hard Skin (HSN) pada kopi Arjuno.
Caranya dengan memasukkan ceri kopi setelah panen ke dalam kantong.
Lalu didiamkan pada suhu ruangan tertentu dengan jangka waktu tertentu.
Dengan begitu, biji kopi akan mendapat lebih banyak gula saat proses fermentasi.
”Ini masih proses pengeringan, saya juga belum mencicipi rasanya,” kata Siva.
Dengan proses tersebut, kopi Arjuno yang memiliki karakteristik rasa fruity bisa lebih menonjol.
Karakteristik tersebut yang seharusnya dapat menjadi unggulan kopi-kopi dari Malang.
Sehingga dapat menjadi kopi premium.
Selain membawa oleh-oleh kopi ketika pulang dari luar negeri, Siva biasanya membawa kopi dari Malang di setiap acara WCC.
”Dan komentar teman-teman di sana, selalu sama ’kopi ini punya potensi’,” imbuh ayah satu anak tersebut.
Sayangnya, dia melihat ada beberapa yang salah dalam proses pengolahan kopi.
Salah satunya saat proses penggorengan.
Itu bisa membuat karakteristik rasa dari kopi memudar.
”Kebanyakan kopi di goreng sampai berwarna cokelat tua,” kata dia.
Semua kopi akan menghasilkan rasa yang sama apabila diproses dengan cara tersebut.
Seharusnya, proses penggorengannya hanya dilakukan sampai warna kopi menjadi cokelat muda.
Tujuannya agar karakteristik rasanya tetap melekat.
Saat ini, Siva masih berusaha meningkatkan kualitas kopi dari Malang melalui berbagai proses.
Mulai dari tingkat petani hingga proses produksi menjadi kopi siap seduh.
”Tapi memang tidak mudah, karena proses penciptaannya sangat kompleks,” ungkapnya.
Namun dia yakin dengan semakin banyaknya pengusaha dan pencinta kopi di Malang, itu akan meningkatkan kualitas kopi lokal. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana