Arta Tatasawara berusaha mengenalkan warna musik baru di dunia internasional.
Nama genrenya world music kontemporer.
Bulan depan mereka tampil pada event World Music Festival Traditional di Pulau Kalimantan.
RORI DINANDA BESTARI
ALUNAN musik etnik yang sangat merdu terdengar dari ruang pameran Pop Mason 52 Gallery di Jalan Aries Munandar Nomor 52, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jumat lalu (27/9).
Suara merdu vokalis Arca Tatasawara seakan berpadu dengan hujan deras sore itu.
Applause dari penonton menggema di ujung penampilan mereka.
Momen itu sekaligus menjadi acara lepas pemberangkatan Arca Tatasawara ke Kalimantan untuk tampil pada event World Music Festival Traditional.
Sengaja digelar di galeri seni dengan alasan mereka memang jatuh cinta pada karya seni.
Termasuk nama grup yang mereka gunakan.
“Nama grup kami terinspirasi dari pahatan Candi Jago,” ungkap Nova Andiano, vokalis Arca Tatasawara
Pahatan itu menggambarkan para seniman dengan alat musik pada abad ke-13 atau zaman Kerajaan Singasari.
Maka, nama Arca Tatasawara dimaknai sebagai keindahan bunyi yang kokoh dan tertata.
Dibentuk pada Agustus 2023, grup musik etnik itu digawangi tujuh orang.
Nova Andiano menjadi vokalis sekaligus pemain gitar dan kecapi.
Agus Wayan sebagai pemain sapek dan painting.
Faisal Satria Defrianto sebagai pemain kendang, seruling, dan terompet.
Koko Hardianto pemain lead guitar.
Kemudian Mohammad Sholeh pemain gitar bass.
Aditya Hendra pemain drum.
Sementara Tutut Pristiati sebagai pemain biola.
Beberapa anggota band memang bisa memainkan lebih dari satu alat musik.
Hal itu menjadi keunikan tersendiri.
Terlebih, mereka tidak kesulitan berganti alat musik di tengah memainkan lagu.
“Termasuk saya, tidak hanya menyanyi tapi juga bermain kecapi dan gitar. Kadang saya sisipi juga dengan menirukan suara binatang,” papar Nova.
Gaya musik etnik yang diusung Arca Tatasawara diklaim sarat makna.
Untuk membuat lagu, mereka tak segan berkonsultasi langsung dengan arkeolog.
Beberapa lagu yang mereka ciptakan juga terinspirasi dari panel relief candi.
Tujuannya untuk memperkenalkan budaya yang ada di Nusantara.
Misalnya lagu berjudul Malang.
Liriknya menggambarkan kenyamanan Malang bagi wisatawan.
Mulai dari suasana alam hingga keramahan masyarakatnya.
Karena itu, orang yang sedang berkunjung ke Malang cenderung punya perasaan enggan untuk pulang,
“Lagu itu sudah diputar di berbagai event yang digelar Pemkot Malang,” ujar pria asal Blimbing itu.
Di balik kekompakan tujuh anggota Arca Tataswara, ternyata mereka berasal dari background genre musik yang berbeda-beda.
Ada yang etnik, pop, klasik, jazz, indie, hingga rock.
Penggabungan berbagai genre itu justru menjadikan karya-karya Arca Tatasawara sangat khas.
Ciri khas itu pula yang menjadi latar belakang mereka melabeli diri sebagai grup musik dengan genre world music kontemporer.
Artinya, komposisi yang mereka ciptakan akan memberikan warna baru bagi dunia musik.
Branding tersebut dilengkapi tekad untuk aktif tampil di berbagai festival musik kelas dunia.
“Kami pernah diundang untuk tampil di Tianjin, China, Mei lalu,” papar Agus Wayan, salah satu anggota Arca Tatasawara.
Sayangnya, jadwal pengurusan paspor ke China terkendala May Day.
Mereka pun mengurungkan niat untuk tampil di negara yang kini berjuluk raksasa Asia itu.
Untungnya Arca Tatasawara lolos kurasi Indonesia World Music Series dan mendapat kesempatan tampil pada event Internasional Festival World Music Traditional di Kalimantan.
Mereka akan manggung bersama musisi dari berbagai belahan dunia.
Seperti Australia, Singapura, hingga Uzbekistan.
Kiprah Arca Tatasawara pada event tersebut didanai Kemendikbudristek.
Mereka akan tampil di dua kota.
Yakni Balikpapan dan Samarinda.
Lima lagu baru sudah disiapkan. Yakni lagu berjudul Malang, Nusantara, Arabian, Pertanian, Jegeg Sajan, Garudeya, dan Batuan Candi.
Menurut Agus, penciptaan lagu lima lagu itu disesuaikan dengan tema event yang akan diikuti.
Pengerjaan satu lagu hingga aransemennya bisa selesai dalam waktu dua minggu saja.
Biasanya, seluruh anggota Arca Tatasawara bisa menguasai dan memainkan lagu baru melalui tiga kali latihan saja.
”Karena sudah satu frekuensi, jadi gampang menyesuaikan diri,” ucapnya.
Arca Tatasawara juga sedang menyiapkan lirik lagu yang benar-benar memiliki ciri khas Malang.
Yakni menggunakan bahasa walikan.
”Memadukan bahasa walikan dengan instrumen Nusantara menjadi salah satu wish list untuk kami launching tahun ini,” imbuh Agus.
Saat ini mereka juga banyak mengikuti kurasi festival musik Nusantara.
Misalnya untuk event di Timika, Papua, yang akan digelar pada 2025.
Termasuk mencoba mendaftar ke World Music Festival selanjutnya. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana