Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Cerita Bayu Erlangga Dapatkan Sertifikat Pencicip Kopi Internasional, Cetak Barista-Barista Berbakat lewat Tempat Roasternya

Bayu Mulya Putra • Rabu, 30 Oktober 2024 | 00:45 WIB
TERSERTIFIKASI: Bayu Erlangga mengolah kopi di mesin roasternya. Dia sudah mendalami dunia kopi sejak 2012. Tahun ini Bayu mendapat sertifikat Q Arabica Grader.
TERSERTIFIKASI: Bayu Erlangga mengolah kopi di mesin roasternya. Dia sudah mendalami dunia kopi sejak 2012. Tahun ini Bayu mendapat sertifikat Q Arabica Grader.

DUROTUL KARIMAH

TIDAK ada papan atau tulisan apa pun yang menunjukkan keberadaan Roastery Vens Family di Perumahan Saxofone, Kelurahan Jatimulyo, Lowokwaru.

Roastery yang dulunya merupakan garasi rumah itu sengaja diubah menjadi kedai kecil.

Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui keberadaan roastery tersebut.

Setelah masuk ke dalam, tampak seseorang tengah sibuk di depan mesin roaster (sangrai kopi).

Dia Bayu Erlangga, Owner Vens Family yang sudah berdiri sejak 2012 tersebut.

Awalnya, Vens Family merupakan kedai kopi seperti pada umumnya.

Perbedaan roastery dan kedai kopi terletak pada cara memproses kopi.

Kedai kopi atau coffee shop sudah mendapatkan kopi dalam bentuk biji yang siap diolah.

Sedangkan roastery memproses sendiri kopi mentah yang harus di-roasting terlebih dahulu.

Pada 2015, Bayu mulai me-roasting sendiri kopinya.

Saat itu, dia juga sempat menyuplai salah satu coffee shop di Malang.

Hingga saat pandemi terjadi penurunan penjualan yang cukup drastis.

Bayu sempat berhenti, dan pindah lokasi dari Ruko di Jalan Soekarno-Hatta ke lokasi yang saat ini ditempati.

Roastery tersebut memang berada di garasi tempat tinggalnya.

”Baru sekitar dua tahun pindah ke lokasi ini,” tutur Bayu sembari menyuguhkan secangkir kopi Ijen yang baru dia seduh.

Kopi Ijen Lestari tersebut merupakan salah satu contoh kopi yang berhasil dikembangkan oleh petani Indonesia.

Proses pengolahan pascapanen yang tepat membuat kopi tersebut memiliki cita rasa yang kuat dan dihargai mahal.

Tidak hanya kopi dari luar kota, Bayu juga me-roasting kopi dari Malang.

”Tapi kan masa panennya terbatas. Kalau di atas bulan Desember pakai kopi dari luar,” tutur pria lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) itu.

Menurut dia, rasa kopi tidak hanya ditentukan proses pengolahan pasca panen.

Namun juga ditentukan proses roasting atau penyangraian.

”Ada biji kopi yang memang rasa acidsnya terlalu tinggi atau rendah. Tugas coffee roaster membuat rasa acids itu sesuai, tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah,” terang ayah dua anak tersebut.

Dia menyebut bila mesin roaster memengaruhi hampir 30 persen rasa kopi.

Saat ini, kopi produksinya dikirimkan ke berbagai kedai kopi di Kota Malang maupun luar Kota Malang dan luar pulau.

Roastery tempatnya hanya sebagai jujukan pelanggan-pelanggannya di kedai sebelumnya.

Berkat pengalamannya di dunia kopi, dia tertarik untuk mengikuti sertifikasi Q Arabica Grader atau pencicip kopi.

Awal 2024, dia mulai mengikuti ujiannya pada bulan Januari.

”Syaratnya harus lolos 20 ujian. Kalau gagal, kita dikasih kesempatan dua kali lagi untuk ujian,” terangnya.

Total waktu untuk ujian pertama terbentang selama 18 bulan.

Kepekaan penciuman sangat diuji dalam sertifikasi tersebut.

Sebelum ikut sertifikasi, pria asli Malang tersebut melatih indra penciumannya dengan berbagai aroma dasar kopi.

Itu dilakukan hampir dua tahun.

”Pada tes pertama, saya gagal di tes ke-20,” tuturnya.

Dia pun mengulang tes tersebut pada bulan Juni, dan akhirnya dinyatakan lolos.

Bayu kini mengantongi sertifikat Q Arabica Grader dari Coffee Quality Institute (QCI).

QCI sendiri merupakan organisasi non-profit yang diresmikan pada Maret 1998.

Selain seleksi, mereka juga aktif menggelar pelatihan.

Khusus untuk seleksi Q Grader, dalam satu tahun biasanya digelar tiga sesi ujian di Indonesia.

”Setahu saya ada dua tempat, di Bandung dan Medan,” tambah Bayu.

Sebagai Q Arabica Grader, dia bisa menentukan kualitas kopi dari berbagai aspek.

Mulai warna hingga aromanya.

Dengan kemampuan tersebut, Bayu ingin memberdayakan barista-barista muda di Kota Malang.

Hingga kini sudah lebih dari 10 barista yang lulus dari Vens Family tersebut.

Disebut lulus karena mereka sudah dapat berkarier cemerlang di dunia kopi dalam kancah nasional bahkan internasional.

”Karena kebanyakan barista itu lulusan SMA atau SMK,” tuturnya.

Bayu ingin memberdayakan mereka agar memiliki kehidupan yang lebih baik dengan kopi.

Setiap tahun, pria kelahiran 1986 tersebut mengikutkan baristanya kompetisi kopi nasional.

Banyak yang akhirnya pulang menjadi juara.

Mulai dari juara tujuh hingga tiga.

Begitu juga coffee roaster, beberapa sudah menjuarai kompetisi tingkat nasional.

Dengan sertifikat kompetisi tersebut, para barista memiliki nilai jual lebih di dunia kopi.

”Ketika sudah menang, kami akan menyuruh mereka keluar dan mencari perusahaan yang lebih besar,” tuturnya.

Foto-foto para barista kebanggaannya dipajang berjajar di dinding Vens Family.

Meskipun sudah tidak bekerja di Vens, Bayu selalu bangga dengan mereka.

Saat ini, terdapat sekitar enam barista yang bekerja di roastery dan kedai kopi miliknya.

Tahun depan dia juga akan memberangkatkan baristanya lagi ke kompetisi nasional. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Bayu Erlangga #barista #sertifikat #roastery #pencicip kopi internasional