Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Noor Lisa Amalia asal Malang Bangun Bisnis Keripik Buah dan Sayur, Modal Awal Rp 500 Ribu, Sebesar Ini Omzetnya Sekarang

Bayu Mulya Putra • Rabu, 20 November 2024 | 19:51 WIB

 

DIBANTU 40 KARYAWAN: Noor Lisa Amalia menunjukkan contoh produk keripik buah dan sayurnya di rumah packing Apelicious di Perumahan Dinoyo Royal Park, Kecamatan Lowokwaru, kemarin (19/11).
DIBANTU 40 KARYAWAN: Noor Lisa Amalia menunjukkan contoh produk keripik buah dan sayurnya di rumah packing Apelicious di Perumahan Dinoyo Royal Park, Kecamatan Lowokwaru, kemarin (19/11).

RORI DINANDA BESTARI

AROMA buah langsung tercium saat tiba di rumah packing Apelicious di Perumahan Dinoyo Royal Park, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. 

Potongan buah yang mengering tampak ditata rapi, dan siap dimasukkan ke dalam kemasan plastik. 

Tampilannya kemasan dan isinya cukup menarik. 

Sebab, beberapa sayur dan buah tetap dibiarkan utuh. 

Warnanya juga masih terjaga. 

Namun, itu semua sudah menjadi keripik yang renyah. 

”Ini yang paling best seller, untuk mix buah dan sayur,” terang Lisa saat didatangi Jawa Pos Radar Malang, kemarin (19/11). 

Ada sekitar 20 varian buah dan sayur yang ditawarkan. 

Seperti nangka, apel, wortel, ubi, pisang, buah naga, stroberi, hingga okra. 

Saat duduk di bangku SMA, Lisa yang sempat tinggal di Kota Batu memang banyak bersinggungan langsung dengan petani apel.

Dari sana lah dia mulai tertarik untuk berbisnis keripik apel. 

Niatan itu pun direalisasikan mulai 2016. 

Dengan cerita masa remajanya, dia sengaja memilih nama Apelicious untuk produknya. 

Awal-awal, bisnis kecilnya itu hanya dijadikan sebagai pekerjaan sampingan saja.

 Baca Juga: Malang Punya Hacker Baik? Begini Perjalanan Vipkas Al Hadid Firdaus Jadi Konsultan Cyber Security dan Ethical Hacker

Sebab, saat itu dirinya masih bekerja sebagai seorang digital marketing di salah satu perusahaan. 

Bermodal gaji pas-pasan, dia menyisihkan sebagian uang untuk mengambil keripik apel. 

Dia lantas mengemas ulang dan memberi label sendiri. 

”Kira-kira modalnya dulu cuma Rp 500 ribu aja, karena masih iseng saat itu,” beber perempuan kelahiran 1993 itu. 

Perjalanan awal bisnisnya tidak mudah. 

Awal nya, dia sempat menitipkan produknya di toko oleh-oleh. 

Namun upaya itu tidak cukup berefek pada penjualan. 

Keripik apelnya hanya terjual dalam hitungan jari. 

Tak ingin setengah-setengah dalam berbisnis, dia akhirnya resign dari tempat kerjanya pada 2017. 

”Aku mulai inovasi dengan menambah beberapa varian sayur dan buah lain, dari situ mulai naik (penjualannya),” kata wanita kelahiran Banjarmasin itu. 

Karena minim modal, awal nya dia hanya mengandalkan jualan di e-commerce

Dari sana, dia mulai menerima berbagai macam orderan. 

Dari yang mulanya hanya puluhan, bertambah jadi ratusan paket per hari. 

Pandemi Covid19 menjadi titik balik usahanya mulai berkembang. 

Saat itu, dia mulai menggunakan TikTok untuk promosi jualan. 

Tak disangka, videonya meledak dan ditonton jutaan viewers. 

Peminat keripik buah dan sayurnya mulai melonjak hampir 10 kali lipat. 

”Bahkan sehari, kami kirim 1.000 paket lebih. Belum lagi kalau lagi ramai banget, bisa lebih,” ujar alumnus Universitas Brawijaya (UB) itu. 

Tak hanya sekadar membuat konten untuk jualan, Lisa juga banyak mengedukasi para penonton. 

Seperti memberikan informasi tentang khasiat keripik buah dan sayur untuk kesehatan. 

Upaya itu pun mendapat sambutan positif. 

”Sampai kami nolak-nolak juga karena kapasitas sumber daya manusia kami yang kurang,” cerita dia. 

Kini, produknya terus mengalami inovasi. 

Baik secara varian produk dan ukuran kemasan. 

Mulai dari 150 gram sampai 2,3 kilogram. 

Sementara harga yang dibanderol mulai dari Rp 15 ribu sampai Rp 125 ribu. 

Berkat keuletannya, Lisa tak hanya menyedot pasar lokal. 

Keripiknya juga laku hingga pasar mancanegara. 

Seperti Malaysia, China, Thailand, dan Eropa. 

Itu berkat insight dari konten TikToknya juga menembus beranda di luar negeri. 

”Ya meskipun tidak sering, beberapa kali orderan di kami datang dari negara tetangga,” ujar Lisa. 

Untuk memperluas pasarnya, dia mulai aktif membuat konten untuk hard selling sekaligus jualan live. 

Hingga saat ini, bisnis yang dia rintis sudah memiliki 40 karyawan. 

Omzetnya mencapai ratusan juta per bulan. 

Dalam waktu dekat, dia berencana membuka offline store di Kota Malang. 

Itu karena banyak customernya yang sering datang langsung ke rumah produksi. 

”Harapannya tentu jadi camilan khas warga kota Malang atau oleh-oleh kalau ada turis yang berkunjung,” harap dia. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#bisnis #keripik sayur #keripik buah #Kota Malang