Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Konsistensi Arpai Warga Kota Batu Jadi Petani Bonsai : Mulai pada 1980, Rutin Suplai Pohon Kerdil ke Pasar Eropa selama 32 tahun

Bayu Mulya Putra • Jumat, 22 November 2024 | 18:20 WIB
PEMAIN LAMA: Arpai foto dengan latar belakang koleksi bonsainya di Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, kemarin. MOh RIzAL/ RADAR MALANG
PEMAIN LAMA: Arpai foto dengan latar belakang koleksi bonsainya di Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, kemarin. MOh RIzAL/ RADAR MALANG

 

Pemandangan di halaman rumah Arpai di Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu tak banyak berubah dalam beberapa tahun. 

Deretan bonsai masih memenuhinya.

Di pekarangan rumahnya juga ada koleksi-koleksi bonsai yang lain. 

Jumlahnya cukup banyak.

Bila diestimasi ada 1.000-an bonsai. 

Jenisnya beragam.

Namun yang paling dominan yakni jenis cemara sinensis. 

Pohon-pohon lokal seperti asam Jawa dan hokianti juga ada. 

Sejak kecil, Arpai sudah cukup dekat dengan dunia botani. 

Orang tuanya sempat bertanam bunga. 

Jadilah sejak usia 13 tahun dia sudah berkutat dengan bunga potong.

Seiring berjalannya waktu, dia merambah ke tanaman lain seperti sayur, tanaman hias, hingga apel pada 1960 an. 

Di sela-sela kosong proses tanam apel, Arpai memanfaatkan lahan untuk tanaman hiasnya, yakni cemara duri. 

”Waktu itu saya yakin saja kalau nanti bakal laku,” ujar lelaki yang kini berusia 83 tahun itu. 

Karena tak ingin tanaman tersebut mengganggu apel, cemara yang terus tumbuh dilakukan pemangkasan. 

Proses itu dilakukan secara terus menerus dan berkala. 

Bertahun-tahun setelahnya, sekitar 1980, dia mulai mendengar istilah tanaman bonsai. 

Dia pun tertarik mengikuti pelatihan bonsai. 

”Waktu itu pelatihannya ada di Bogor,” ujar warga Bulukerto, Kecamatan Bumiaji itu. 

Dia masih ingat, total biaya yang dia habiskan untuk ke Bogor saat itu sekitar Rp 6.500. 

Sejak saat itu dia semakin melek dengan bonsai dan ikut beberapa pameran. 

Arpai yang dikenal terbuka dekat dengan sejumlah pihak. 

Mulai dari pemilik biro perjalanan hingga perangkat daerah, khususnya di bidang pendidikan. 

Dia yang terus mengembangkan kebunnya juga mempersilakan wisatawan mancanegara untuk berkunjung di kebunnya secara cuma cuma. 

”Kebetulan ada turis profesinya sama (petani),” ujar pria berkacamata itu. 

Turis asal Belanda itu kemudian tertarik pada bonsai-bonsai Arpai. 

Setelah berbincang, keduanya sepakat untuk melakukan pembelian. 

Karena jumlah bonsainya tak cukup, dia harus mencari stok lain di Malang Raya. 

Sebab sekali pengiriman berukuran satu kontainer bisa memuat 1.200 sampai 1.300 bonsai. 

Arpai memperkirakan dari jumlah itu, sebanyak 50 persen berasal dari kebunnya. 

”Ukuran bonsai small dan medium yang dibeli,” tutur pria kelahiran 1941 itu. 

Tinggi bonsai ukuran small mulai dari 15 cm. Sementara medium sekitar 60 cm. 

Pengiriman tersebut dilakukan oleh pihak lain, dan dari waktu ke waktu dia bertindak sebagai penyuplai. 

Pengiriman yang pertama itu dilakukan sekitar tahun 1992. Dengan tujuan negara Belanda. 

Dari sana, bonsai-bonsai tersebut didistribusikan ke berbagai negara. 

Seperti Belgia, Italia, Jerman, dan Prancis. 

Karena pembelinya merasa puas, kerja sama itu pun terus berlanjut. 

”Sebelum krisis 1998, setahun bisa dua kali pengiriman,” kata ayah lima anak itu. 

Kedekatan antara Arpai itu pun terus terjalin. 

Dia sempat diminta ke Belanda untuk menjadi juri pameran pribadi pada 2022. 

Setiap tahun, Arpai terus mensuplai pengiriman tersebut. 

Meski jumlahnya tak sebanyak dahulu. 

Namun, masih di kisaran seratusan bonsai. 

Untuk memenuhi permintaan itu, dia sering mengambil stok bonsai dari daerah lain. 

Permintaan dari pasar lokal juga cukup tinggi. 

Dalam setahun, ada 300 sampai 500 bonsai yang keluar dari kebunnya. 

Harganya bervariatif, tergantung kualitas bonsai. 

Berada di kisaran ratusan ribu sampai puluhan juta untuk satu pohon. 

Selain merawat kebun, Arpai juga memfasilitasi siswa dan mahasiswa yang ingin magang di sana. 

Meski langkahnya tak setegap dulu, keinginan untuk mewariskan ilmu kepada generasi muda terus dia jaga. 

Setiap tahun, ada 12 pelajar dari berbagai daerah yang menimba ilmu di sana. 

Mereka datang dari Jawa Barat dan Jawa Timur. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Kota Batu #petani bonsai