SENIN malam (25/11), suara musik terdengar dari radio tape Toko Rekam Jaya yang terletak di Kelurahan Rampal Celaket, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Lokasinya di gang sempit berukuran satu meter, persis di samping Hotel Savana.
Di tempat itulah Harijanto biasa datang untuk berburu piringan hitam.
Harry, sapaan akrabnya, tidak selalu datang untuk membeli koleksi baru.
Toko itu juga menjadi tempat langganannya mengobrol soal musik.
Tak jarang beberapa musisi juga datang dan ikut nimbrung.
”Saya mulai koleksi vinyl sekitar tahun 1995,” terangnya pada Jawa Pos Radar Malang.
Seingatnya, yang pertama kali dia dengar adalah piringan hitam dari Irama Record milik Suyoso Karsono atau Mas Yos keluaran tahun 1950an.
Vinyl itu sebenarnya koleksi milik sang ayah.
Sembari mendengarkan lagu, ayah Harry banyak bercerita tentang sosok Mas Yos sebagai seniman musik.
Lama kelamaan Harry semakin tertarik dengan piringan hitam.
Hingga kini, terhitung sudah 29 tahun dia mengoleksi vinyl.
Hampir 2.000 vinyl memadati kediamannya di Perumahan Araya.
Sampai sampai dia harus menyediakan ruangan khusus di lantai dua rumah untuk menyimpan vinyl.
Apalagi Harry juga mengoleksi sekitar 20 ribu kaset.
”Koleksi awal saya kebanyakan genre rock dan progresif,” kata Harry.
Seperti Led Zeppelin, Pink Floyd, Deep Purple, dan Black Sabbath.
Menurut Harry, anakanak muda tahun 1995an memang suka mendengar musik aliran keras.
Sehingga, vinyl genre rock peminatnya cukup tinggi.
Meski demikian, Harry juga banyak mengoleksi vinyl lagulagu musisi lokal dari berbagai genre.
Mulai dari rock, pop, keroncong hingga melayu.
Seperti vinyl album God Bless, Rhoma Irama, Ucok Harahap, dan beberapa musisi lokal lainnya.
Kebanyakan piringan hitam itu dia dapat dari Pasar Kebalen dan Pasar Comboran dengan harga Rp 35 ribu sampai Rp 45 ribu.
Namun, beberapa koleksinya juga hasil barter sesama kolektor.
”Sering koleksi saya ditawar kolektor lain dengan harga sampai Rp 5 juta per vinyl, saya gak lepas,” ujar pria yang berusia 52 tahun itu.
Seperti vinyl God Bless bertajuk Huma di Atas Bukit yang sudah dibubuhi tanda tangan oleh para musisinya.
Nilai historis itu yang membuat vinyl tersebut menjadi mahal.
Rata-rata koleksi vinyl Harry merupakan rekaman orisinal keluaran pertama.
Sebab, kebanyakan artis lokal tak mengeluarkan reissue atau remaster vinyl.
Itu pula yang membuat koleksi menjadi batang langka dan menaikkan harga.
Berkat kecintaannya pada musik, Harry banyak berkenalan dengan musisi tanah air.
Tak jarang para musisi itu mampir ke rumahnya untuk melihat koleksi vinyl.
”Waktu Dewa 19 manggung di Lapangan Rampal Malang September lalu saya bisa langsung dapat tanda tangan dari Ahmad Dani,” cerita dia.
Baca Juga: Simak Koleksi Juliana Stephanie bersama Pix Footwear, Hadir Ekslusif Hanya di Shopee Finest
Merawat ribuan vinyl yang menumpuk di rumahnya menjadi pekerjaan tersendiri bagi Harry.
Jika dibiarkan di tempat tertutup dalam jangka waktu lama, piringan hitam itu bisa berjamur.
Ruangan yang menjadi tempat menyimpan koleksi harus dilengkapi AC untuk menjaga agar udara tidak terlalu lembap.
Sesekali piringan hitam harus diputar agar tidak rusak.
Apalagi, semakin ke sini model vinyl semakin beragam bentuk dan bahannya.
Tak hanya berupa piringan hitam, beberapa di antaranya berwarnawarni, transparan, hingga bergambar abstrak.
”Harus berkala mengecek kondisi vinyl,” ungkap pria kelahiran 1972 itu.
Bagi Harry, mendengarkan musik lewat vinyl terasa lebih sakral.
Suara yang muncul memiliki ciri khas tersendiri.
Cara menikmatinya juga berbeda.
Lebih enak ditunggui sambil bersantai.
Tidak melakukan aktivitas apa pun.
Saat ini memang banyak artis lokal yang tertarik untuk mengeluarkan vinyl.
Kualitas audionya juga jauh lebih baik.
Tapi, Harry merasa vinyl zaman dulu tetap memiliki kelebihan.
Yakni nilai historis dan kesan yang mendalam saat didengarkan.
Harry juga masih aktif membeli vinyl musisi saat ini.
Seperti Raisa, Ari Lasso, Noah, Project Pop, dan beberapa artis lain.
Untuk satu buah piringan hitam dia harus merogoh kocek antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.
”Kalau barang second, sekarang sudah lumayan ngawur harganya. Jadi saya kurang berminat,” tandasnya. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana