SEBELUM menyusun lirik lagu, Hamida Madu Kinanti atau akrab disapa Madukina harus membaca ratusan lembar script dari film berjudul Badarawuhi di Desa Penari.
Dia tak sendirian.
Ada Matoha Mino, ayahnya, yang ikut serta.
Dari script itulah mereka memahami alur dan jalan cerita dari film sudah dinikmati empat juta penonton dalam kurun 48 hari.
Proses menulis lirik pun dimulai.
Setelah selesai, Madukina dan ayahnya lanjut berdiskusi untuk menentukan musik dan nada lagu.
Tiap hari, Madukina dan ayahnya intensif menggodok lirik lagu berjudul Dawuh itu ke dalam ritme-ritme ala karawitan.
Draft awal Dawuh pun mulai terbentuk.
Sebelum proses merekam lagu tersebut, keluarga Madukina menjalani ritual among-among di Gunung Kawi, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang.
Itu dilakukan sehari sebelum perekaman dimulai, tepatnya pada bulan 29 Oktober 2023 lalu.
Tujuan dari musisi yang lahir dan besar di lereng Gunung Kawi itu yakni meminta restu kepada leluhurnya di sana.
Sebab dia meyakini di dunia ini dia hidup tidak hanya berdampingan dengan manusia saja.
Namun juga ada leluhur yang sudah hidup ratusan tahun mendahuluinya.
Saat itu, berbagai sesajen turut disajikan.
Mulai dari air kembang, ingkung atau daging ayam utuh, tumpeng, dan sejumlah hasil bumi.
Gamelan yang akan digunakan untuk merekam lagu Dawuh juga ikut diusung ke Gunung Kawi.
Seharian, keluarga Madukina bersama pemuka agama di sana menjalani ritual itu.
Setiap rekaman nyanyian rampung, Madukina langsung mengirimkan ke ayahnya yang berada di Malang.
Penggarapan lagu Dawuh itu memang sepenuhnya dilakukan via online.
”Karena saat itu saya banyak agenda di Jakarta,” kata dia.
Satu bulan kemudian, tepatnya pada 8 Maret, lagu itu dirilis.
Proses pembentukan draft, demo lagu, hingga lagu siap dirilis sepenuhnya digarap oleh Madukina dan ayahnya.
Suara kedua musisi itu pun menjadi perpaduan yang menakjubkan dalam lagu tersebut.
Sampai kemarin, lagu itu sudah ditonton 276 ribu kali via YouTube.
Pada 15 Oktober lalu, Madukina mendapat kabar bahwa lagu kolaborasi bersama ayahnya itu masuk dalam nominasi AMI Awards.
Mereka masuk di kategori karya produksi global music terbaik.
Ada empat musisi lain yang masuk di kategori itu.
Yakni Keubitbit, LAIR, Sruti Respati, dan Suarasama.
Pada 4 Desember, tangis Madukina pun pecah setelah berhasil memenangkan penghargaan di kategori tersebut.
Saat itu dia langsung menelepon keluarganya di rumah.
Satu keluarga menangis haru dan semakin tertantang untuk kembali meluncurkan lagu-lagu kolaborasi di masa depan.
Ya, latar belakang keluarga Madukina memang tak jauh dari musisi dan seniman.
Ayahnya adalah pegiat seni karawitan sejak masih muda.
Begitu juga ibunya yang menjadi sinden.
Adik satu-satunya juga ikut terjun dalam kesenian khas Jawa itu.
”Semasa kecil, rumah saya kerap kosong di malam hari, karena satu keluarga rutin berlatih karawitan,” paparnya.
Sejak berusia 2,5 tahun, dia sudah menjajal panggung pertamanya.
Saat itu ayahnya sedang mengadakan pentas karawitan dan meminta Madukina bernyanyi.
Sejak saat itu, dia sudah biasa diundang ke panggung-panggung pesta rakyat untuk bernyanyi.
Pada masa remajanya, dia juga sibuk mengulik berbagai kesenian.
Mulai dari sinden, main gamelan, hingga menari tradisional.
Kegiatan rutin hariannya yakni belajar pada pagi hari, menjalani ekstrakurikuler pada sore hari, dan berkesenian pada malam hari.
Kesibukan itu mengantarkan Madukina sebagai musisi yang memiliki banyak keahlian seni dalam hidupnya.
Keputusannya berkarier di dunia musik berawal pada 2019.
Saat itu, temantemannya dari band Clodiac dan solois Sal Priadi mendorongnya untuk merilis lagu.
Akhirnya, lagu berjudul Peach menjadi pengalaman rilis pertamanya.
Tiga tahun berlalu, namanya semakin melejit hingga diajak mengisi soundtrack film KKN di Desa Penari.
Saat itu, produser film tertarik dengan keahlian Madukina saat menyinden.
Lahirlah lagu sinden pertama Madukina berjudul Dhat.
Dia berkolaborasi dengan Kinanti.
Sempat mendapat nominasi AMI, namun pada 2022 itu dia belum mendapat kesempatan membawa pulang tropi.
Setelah itu, Madukina diajak bergabung dengan grup musik Hindia.
Dalam tim itu, dia menempati posisi vocal grup.
Kesibukannya selalu memuncak pada akhir pekan.
Karena harus tampil dari panggung ke panggung.
Hingga saat ini, Madukina sudah merambah musik luar negeri.
Mulai dari Singapura, Malaysia, hingga Australia. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana