Sigit menjadi sopir bus dan truk sejak 1995.
Selama 29 tahun itu dia tidak pernah mengalami kecelakaan.
Pria 65 tahun itu tak pernah membayangkan hidup di balik jeruji besi gara-gara kecelakaan pertama yang menimpanya.
NAHDIATUL AFFANDIAH
DI BALIK ruang tahanan Polres Malang, Sigit Winarno tampak lesu.
Matanya sembap, sementara pelipisnya masih dibalut perban akibat kecelakaan di KM 77+200 Tol Pandaan-Malang pada 23 Desember lalu.
Minggu siang (29/12), Sigit tampak baru saja menyelesaikan salat duhur.
Dia mengaku akhir-akhir ini tidak bisa tenang karena memikirkan nasibnya ke depan.
Termasuk membayangkan kecelakaan yang menewaskan empat orang dan menyebabkan banyak korban luka.
”Saya masih trauma kalau mengingat kecelakaan itu,” ujarnya saat ditemui di Mapolres Malang kemarin.
Sekitar pukul 05.00 sebelum terjadi kecelakaan, Sigit berangkat dari perusahaan tempatnya dia bekerja, yakni PT Rapi Trans Logistik di Sidoarjo.
Satu jam kemudian dia sampai di tempat mengambil muatan, PT Chemicals di kawasan Rungkut, Surabaya.
Disana Sigit beristirahat sejenak sembari menunggu muatannya selesai ditata petugas angkut.
Ternyata muatan yang akan dibawa Sigit baru ditata pukul 11.00 dan selesai pukul 13.00.
Pihak PT Chemicals meminta Sigit segera mengirim barang tersebut karena pabrik di tempat tujuan, yaitu PT Pesta Pora Abadi Malang tutup pukul 15.00.
“Waktu itu saya disuruh lewat tol dan dijanjikan uang tol akan diganti PT Chemicals,” imbuhnya.
Sigit sudah menyarankan agar muatan itu dikirim keesokan hari saja.
Dia merasa kesulitan untuk sampai ditempat tujuan dalam waktu dua jam.
Belum lagi jalanan yang macet karena momen Natal dan Tahun Baru.
Namun pihak PT Chemicals tetap meminta Sigit mengirimkan barang saat itu juga.
Sigit tak bisa menolak.
Dia berkendara sambil waswas apakah bisa sampai di tempat tujuan tepat waktu.
Namun, baru memasuki setengah jalan, jarum jam sudah menunjuk ke angka 15.00.
Saat itu Sigit sedang berada di dalam jalan tol.
Harapan sampai di tempat tujuan tepat waktu pun pupus.
Sigit mulai mengurangi kecepatan truknya.
Namun, tepat di tanjakan KM 78 tol Pandaan Malang, ia melihat indikator temperatur di panel dashboard menyala merah.
Pertanda mesin truk wing box dengan nomor polisi S 9126 UU yang dia kemudikan sedang overheat.
”Waktu itu seperti ada yang membisiki saya untuk berhenti,” cerita Sigit dengan mata nanar mengenang musibah itu.
Akhirnya dia berhenti di bahu jalan, meski konturnya menanjak dan agak menikung.
Sigit sudah berusaha mengganjal roda depan truk.
Tapi kendaraan besar itu tetap berjalan mundur dan dihantam bus pariwisata dari belakang.
Sigit sempat dua kali terjatuh saat mengejar truknya yang berjalan mundur.
Dia bahkan sampai di lokasi kecelakaan dengan diantar pengendara pikap.
Selepas itu, yang tersisa hanya kesedihan.
Tangan lemas Sigit mengambil ponsel di dalam truk dan langsung menelpon sang atasan.
Setelah itu tak sadarkan diri.
Ketika terbangun, Sigit sudah berada di rumah sakit dengan kepala dan tangan yang di perban.
Sore itu belum ada keluarganya yang datang.
Baru kisaran pukul 22.00, anak keduanya datang dari Bojonegoro.
Selang beberapa menit kemudian istrinya juga datang.
Ikut menjaga Sigit selama dua hari.
Kini dia selalu kepikiran sang istri yang sendirian di rumah.
Sejak ketiga anaknya sudah berkeluarga, Sigit memang hanya tinggal berdua bersama istrinya di Bojonegoro.
Itu pun dia kerap melakukan perjalanan ke luar kota untuk bekerja.
Namun, setidaknya Sigit bisa memberi nafkah Rp 400 ribu setiap pekan untuk hidup sehari-hari.
“Kalau saat menjadi sopir bus dulu, saya bisa menghasilkan Rp 4 juta sampai Rp 5 juta dalam sebulan,” kenang Sigit.
Uang itu dia gunakan untuk keperluan sehari-hari.
Seperti makan, minum, membayar kernet selama di jalan.
Termasuk menghidupi seorang istri serta tiga anaknya hingga seluruhnya bergelar sarjana dan memiliki keluarga.
Selama 21 tahun Sigit menjadi sopir bus jurusan Surabaya-Semarang.
Setelah usianya memasuki 57 tahun, Sigit meminta perusahaan bus tempatnya bekerja untuk pindah trayek.
Akhirnya dia mendapat jalur Surabaya-Bojonegoro.
Saat itu dirinya bisa pulang setiap hari dengan perjalanan yang tidak terlalu panjang.
Baru tiga tahun mendapat trayek sesuai harapan, Sigit menganggur karena pandemi Covid-19.
Penumpang bus sangat sepi.
Selama lima bulan dia tidak bekerja.
Kebutuhannya sehari-hari bersama sang istri ditanggung ketiga anaknya.
Akhir 2019, Sigit diterima bekerja di PT Rapi Trans Logistik sebagai sopir angkutan barang.
Tidak setiap hari dia mendapat order mengantar barang.
Penghasilannya pun tak begitu besar.
Untuk sekali jalan hanya dibekali uang Rp 1.018.000.
Itu sudah termasuk BBM dan biaya melewati jalan tol.
Pada saat mengantar pakan ternak 23 Desember lalu, Sigit sudah menghabiskan Rp 800 ribu untuk BBM dan Rp 200 ribu untuk jalan tol.
Artinya, sisa uang dari perusahaan sangat sedikit.
Dia berharap tarif tol diganti oleh perusahaan produsen pakan ternak, sesuai janji awal.
Ternyata, semua harapan itu musnah akibat kecelakaan.
Kini dia juga masih dihantui biaya ganti rugi kendaraan yang rusak.
Katanya, pada kasus-kasus kecelakaan sebelumnya, sebagian biaya ganti rugi kendaraan juga dibebankan kepada sopir.
“Tidak sepenuhnya, tapi kadang biaya perjalanan dipotong Rp 100 ribu untuk ganti rugi itu,” jelas Sigit.
Pengalaman semacam itu sudah pernah dirasakan teman-temannya sesama sopir.
Kini Sigit hanya bisa berharap terbebas dari biaya ganti rugi kendaraan.
Sebab, untuk makan istrinya di rumah, Sigit juga tidak memiliki tabungan yang cukup.
”Saya merasa tidak nyaman kalau membebani anak-anak, apalagi orang lain,” tandanya. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana