Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kiprah Mahesa Desaga Menjadi Sutradara Film-Film Pendek, Selalu Tonjolkan Budaya, Tahun Ini Siap Merambah Layar Lebar

Bayu Mulya Putra • Selasa, 21 Januari 2025 | 18:25 WIB
TERUS BELAJAR: Mahesa Desaga memantau pengambilan gambar di Area Budug Asu, Kabupaten Malang untuk FIlm Es Teh Hangat, awal 2024. MAHESA DESAGA FOR RADAR MALANG
TERUS BELAJAR: Mahesa Desaga memantau pengambilan gambar di Area Budug Asu, Kabupaten Malang untuk FIlm Es Teh Hangat, awal 2024. MAHESA DESAGA FOR RADAR MALANG

Lebih banyak dikenal dengan karya film-film pendek, tahun ini Mahesa Desaga tengah menyiapkan karya film layar lebar. 

Berbekal pengalaman menjadi penulis skenario untuk film Darah Biru Arema, dia menarget scriptnya tuntas pada pertengahan tahun. 

Film itu sudah dia siapkan sejak 2017. 

DUROTUL KARIMAH

ADEGAN seorang anak dan maling jemuran berlari bersama dari kejaran warga menjadi penutup film pendek berjudul “Jumprit Singit”. 

Film berdurasi 9 menit itu menceritakan seorang anak yang kesulitan mengajak teman teman nya bermain jumprit singit (petak umpet). 

Alasannya karena anak-anak sekarang lebih banyak yang memilih bermain Playstation dan HP. 

Setting film itu di pinggiran Kota Malang pada 2012 itu masuk nominasi berbagai festival dan kompetisi film.

Beberapa diantaranya seperti Europe On Screen 2012, Festival Sinema Prancis 2012, Nominasi film pendek terbaik dalam Apresiasi FIlm Indonesia 2012, dan nominasi film pendek terbaik dalam XXI Short Film Festival 2013. 

Dengan modal pendanaan Rp 2 juta dari salah satu lembaga, Jumprit Singit menjadi film pertama yang digarap secara profesional oleh pria kelahiran tahun 1989 tersebut. 

Film itu membuat Mahesa Desaga semakin yakin untuk menekuni dunia perfilman. 

Sejak 2007, atau setelah bergabung dengan komunitas film di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB), Mahesa mulai belajar banyak terkait dunia perfilman. 

Terlebih, menonton film menjadi kegemarannya sejak kecil. 

Dari sana Alumnus Hubungan Internasional UB itu memantapkan diri untuk bergelut dalam dunia film setelah lulus. 

Meski dua kali gagal produksi sebelum tercipta film Jumprit Singit, tekadnya tak pernah surut. 

“Setiap kali produksi film baru memberi semangat untuk terus belajar,” kata Mahesa melalui panggilan video. 

Beberapa bulan terakhir, dia sibuk menggarap film panjang di Jakarta. 

Film tersebut akan menjadi film panjang pertamanya yang sudah dia rencanakan sejak 2017 lalu. 

Prosesnya terus berlangsung hingga 2024 mulai tertata. 

“Pertengahan tahun ini targetnya sudah mulai penulisan naskah,” terangnya. 

Sebelumnya, Mahesa sudah pernah terlibat dalam penulisan cerita untuk film panjang berjudul Darah Biru Arema: Satu Jiwa untuk Indonesia. 

Film itu dirilis pada 2020. 

Sementara untuk film pendek, setidaknya ada enam judul yang sudah disutradarainya. 

Selain Jumprit Singit, ada “Kremi” pada 2014, “Nunggu Teka” pada 2017, “Kereta Syurga" pada 2017, “Kala 2020 Tiba” pada 2020, dan “Secangkir Gula Pahit” pada 2021. 

Film berjudul Nunggu Teka menjadi salah satu karyanya yang cukup sukses. 

Film tersebut juara di kategori Best Short Film Festival Sinema Australia Indonesia 2017

Film itu pun menjadi Official Selection atau di putar dan menjadi bahasan dalam Melbourne International Film Festival 2017, Europe Arts Festival 2017, dan Viddsee Juree 2018

Lagi-lagi, unsur budaya menjadi salah satu nilai lebih yang membawa filmnya diapresiasi dunia internasional. 

Film Nunggu Teka mengangkat isu keluarga yang menunggu kedatangan anak-anaknya saat Hari Raya Idul Fitri. 

“Ternyata isu itu juga dirasakan oleh orang-orang di sana (Australia), hanya berbeda hari besar saja,” tuturnya. 

Kesamaan masalah namun berbeda latar, budaya, dan bahasa membuat film tersebut menarik di mata mereka. 

“Mereka senang mengetahui budaya di Indonesia,” ungkap nya. 

Itu menjadi salah satu alasan Mahesa lebih sering menggunakan bahasa daerah (Jawa) dalam filmnya. 

Karena bahasa daerah lebih dapat mengomunikasikan emosi dibanding Bahasa Indonesia. 

Berkat kerja kerasnya, dia berkesempatan untuk menjadi salah satu pembicara dan menceritakan pengalamannya selama berkecimpung di dunia film dalam Emergence Creative di Perth, Australia pada Maret 2024 lalu. 

Sementara itu, film panjang yang tengah digarapnya kali ini bekerjasama dengan salah satu Production House di Jakarta. 

Berbeda dengan film pendek, film panjang membutuhkan waktu yang juga lebih panjang. 

Untuk produksi film pendek, biasanya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. 

Termasuk untuk pra produksi, produksi, hingga editing. 

Sementara film panjang bisa menghabiskan waktu bertahun-tahun. 

Dia mengangkat genre drama dengan isu perempuan dan sosial politik. 

“Dengan latar Indonesia tahun 80-an era rezim orde baru,” tuturnya. 

Rencananya film tersebut akan rilis melalui festival film. 

Lalu berlanjut ke jaringan Bioskop dan OTT (over the top), atau layanan streaming yang menyediakan konten film melalui internet. (*/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#nominasi #Mahesa Desaga #Festival #Kompetisi Film Asli #film pendek #film #Kota Malang