Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Peternak asal Pakisaji Malang Manfaatkan Vitamin dan Jamu Tradisional

Fathoni Prakarsa Nanda • Sabtu, 25 Januari 2025 | 18:15 WIB
IKHTIAR: Tri Rahmat Habiby memberi makanan organik dari konsentrat dan bungkul jagung untuk sapinya yang tersisa dua ekor kemarin (24/1). I. M. YUNITA/RADAR MALANG
IKHTIAR: Tri Rahmat Habiby memberi makanan organik dari konsentrat dan bungkul jagung untuk sapinya yang tersisa dua ekor kemarin (24/1). I. M. YUNITA/RADAR MALANG

MENJAGA kebersihan kandang maupun ternak selalu dilakukan Tri Rahmat Habiby, salah satu peternak di Desa Jatirejo, Kecamatan Pakisaji. 

Sapinya saat ini tersisa dua ekor. 

Sebanyak 10 sapi lainnya sudah dipotong pada akhir Desember 2024 lalu.

Untuk mencegah serangan PMK, dia selalu memandikan dua ekor sapinya setiap pagi. 

Kandangnya pun diupayakan tetap bersih. 

Habiby bahkan memberikan multivitamin setiap hari dengan dosis sekitar 10 mililiter. 

Ada empat jenis vitamin yang diberikan. 

Mulai dari Cardiofit Forte, vitamin B Kompleks, hingga multivitamin yang bagus untuk tulang. 

“Jika ditotal, harga nya bisa sampai Rp 500 ribu. Makanya, bagi peternak di desa sini yang belum mampu membeli vitamin, saya menyarankan untuk memberi jamu tradisional,” kata Habibi. 

Jamu tersebut bisa dibuat dari kunyit, sirih (atau sirih hitam jika ada), temulawak, sereh, kencur, dan ditambah brotowali (kalau ada). 

Bahan-bahan tersebut dihaluskan dan ditambahkan air. 

Seluruh bahan dicampur dan dihaluskan dengan air, kemudian disaring untuk diminumkan ke sapi. 

Tidak ada takaran khusus. 

Jamu diminumkan secukupnya. 

Biasanya satu botol kecap kaca berukuran sekitar 650 mililiter. 

“Akan lebih bagus kalau ditambah gula jawa,” kata Habiby. 

Dia menjelaskan, jamu tradisional memang bagus digunakan, tetapi harus dalam jangka panjang. 

Setiap bahan tersebut memiliki khasiat masing-masing. 

Sebagai contoh, kunyit dapat bermanfaat sebagai antibodi untuk ternak. 

Sedangkan brotowali untuk menambah nafsu makan. 

“Tujuan utama kami memang sapinya mau makan dulu. Karena virus PMK tidak bisa disembuhkan, kecuali sapinya bisa melawan menggunakan antibodi di tubuhnya. Karena itu harus makan supaya punya tenaga,” kata dia. 

Menurut Habiby, sapi terkena PMK yang mati biasanya akibat kekurangan energi. 

Mulutnya yang terluka sulit digunakan untuk mengunyah. 

Nafsu makannya hilang. 

Dengan brotowali yang pahit, sapi dianggap dapat meningkatkan nafsu makan untuk menghilangkan rasa pahit di mulutnya 

Sapi juga membutuhkan energi untuk menopang tubuh. 

Jika terinfeksi PMK, kuku-kukunya akan terluka dan melemah. 

Akhirnya tidak bisa menopang tubuh. 

“Jika sapi sudah tergeletak, sebisa mungkin harus diberdirikan lagi supaya dia juga mau makan,” imbuhnya. 

Untuk mendapatkan vaksin secara mandiri, Habiby membeli dari Brazil. 

Dia dibantu temannya yang bekerja di pelayaran. 

Vaksin dari Brazil dikirim melalui Batam, Kepulauan Riau. Harganya Rp 965 ribu per botol ukuran 50 mililiter dan bisa digunakan untuk 25 ekor. 

”Untuk sapi, diberikan dosis 2 mililiter. Sedangkan untuk domba dosis 1 mililiter. Vaksin itu cukup diberikan satu kali dalam satu tahun,” tandasnya. (yun/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Kecamatan Pakisaji #sapi #ternak #peternak #malang #penyakit mulut dan kuku (PMK)