Sejak kecil Rusman Hadi terbiasa melihat ayahnya, Sugiyanto, membuat mebel.
Karena tertarik, dia belajar hingga benar benar menguasai teknik pembuatan mebel.
Tak disangka, keterampilan itu menjadi bekal mendirikan Karoseri KIM Putra pada 1984.
NABILA AMELIA
RUSMAN Hadi atau Bok Tok Tjiong lahir dari keluarga Suku Kong Fu.
Dalam sejarah komunitas Tionghoa di Indonesia, suku itu dikenal sebagai perajin mebel.
Demikian pula dengan keluarga Rusman yang tinggal di Kota Malang.
Saat Sugiyanto masih hidup, pembuatan mebel dilakukan di kediaman mereka.
Lokasinya di Jalan Kebalen Wetan, Kelurahan Kotalama, Kecamatan Kedungkandang.
Usaha tersebut berjalan sejak 1960.
Kediaman keluarga Sugiyanto kala itu berukuran kecil.
Ruang keluarga dan kamar tidur berdekatan dengan bengkel mebel.
Sehingga, pembuatan mebel sudah menjadi pemandangan sehari-hari yang disaksikan Rusman bersama kakak sulungnya.
Lama-kelamaan, Rusman tertarik mempelajari pembuatan mebel dari sang ayah.
Mulai dari pembuatan kursi, meja, hingga lemari.
Aktivitas itu berlangsung hingga 1980.
Sugiyanto terpaksa berhenti membuat mebel karena kelangkaan kayu jati yang menjadi material utama.
Rusman yang kala itu berusia 20 tahun tidak ingin berpangku tangan.
Dia terus mengasah keterampilan membuat mebel dan pengolahan kayu.
Empat tahun berselang, tepatnya pada 1984, Rusman memutuskan untuk mencoba merintis usaha karoseri yang berfokus dalam pembuatan bak truk.
Karoseri itu diberi nama KIM Putra.
Diambil dari nama Tionghoa ayah dan kakak sulungnya yang bernama Bok Tok Kim.
”Saya merintis usaha karoseri bak truk atas permintaan beberapa pelanggan mebel,” kenangnya.
Untuk membuat kerangka bak truk, Rusman memasukan material kayu dengan besi.
Satu bak truk membutuhkan sekitar 0,5 kubik kayu.
Biasanya dia mendapatkan kayu jati dengan cara membeli di Perhutani Surabaya pada saat ada lelang.
Tapi, kayu-kayu itu berasal dari Tuban, Bojonegoro, dan Saradan.
Kayu yang dibeli lewat lelang akan dikirim ke Malang dalam bentuk gelondongan.
Pengolahan selanjutnya dilakukan di karoseri.
Mulai dari pengeringan kayu dengan cara dijemur, pemotongan, dan pengelupasan kulit pohon.
Proses itu memakan waktu sekitar dua minggu.
”Kami juga menggunakan kayu merbau dari Papua,” imbuhnya.
Baca Juga: Belajar di Tanaking, Bambang Gunawan Dirikan Morodadi Prima
Proses selanjutnya adalah pembuatan desain kerangka, perakitan, hingga pengecatan.
Pada awal-awal membuka usaha, Rusman hanya dibantu 10 karyawan.
Dalam sebulan mereka bisa membuat 34 bak truk.
Memasuki tahun 2000, pesanan bak truk mencapai 40 unit per bulan.
Karena peningkatan permintaan itu, Rusman menambah karyawan menjadi 70 orang.
“Pesanan juga tidak hanya dari Jawa Timur. Ada yang dari Kalimantan, Papua, bahkan Timor Leste,” sebut lelaki berusia 63 tahun tersebut.
Sama dengan perusahaan-perusahaan lain, KIM Putra juga terdampak pandemi Covid-19.
Pesanan yang datang menurun drastis.
Rusman dan karyawannya juga melayani jasa reparasi bak truk.
”Jadi kembali seperti awal merintis usaha karoseri. Sekitar tiga sampai empat bak truk per bulan,” katanya.
Saat ini KIM Putra juga terus mengembangkan jenis produk mereka.
Seperti wing box untuk trailer, bak pelat drop side, dan bak ayam pendingin (dilengkapi sistem pendingin untuk mengangkut ayam beku).
Beberapa bak truk juga masih ada yang menggunakan kayu.
Seperti bak truk pengangkut elpiji.
Sementara truk ekspedisi ukuran besar biasanya sudah menggunakan material besi penuh. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana