Di salah satu sudut gudang di rumahnya, di Jalan Pajajaran, Kelurahan Klojen, Oemar menyimpan ribuan koleksi surat kabar lama.
Ada yang berbentuk koran dan majalah.
Ada pula buku-buku lama tentang pers.
Agar terjaga, beberapa koleksinya dibungkus dengan plastik.
Kemudian ditaruh dalam satu lemari khusus.
”Ini masih berantakan, soalnya rumahnya pernah roboh. Jadi saya taruh di belakang dulu,” kata Oemar, kemarin.
Tak diketahui pasti berapa jumlah koleksinya.
Beberapa dia tunjukkan kepada wartawan koran ini.
Seperti surat kabar Soerabaijasch Handelsblad, Soeloeh Indonesia, Malang-Syuu, Soeara Asia, Dwi Komando Rakjat (Dwikora), Dwiwarna, Pewarta Surabaia, Bogor Madjoe, Bhakti, dan Kudjang.
Ada juga koran yang dikategorikan sebagai surat kabar kiri seperti Bintang Timur dan Harian Rakjat.
”Saya masih mencari koran Bataviasche Nouvelle, Medan Prijaji, tapi belum dapat,” cerita dia.
Semua koleksinya berasal dari masa Hindia Belanda tahun 1845 sampai yang terbaru tahun 2000-an.
Ada yang berbahasa Belanda, Jepang, Mandarin, dan bahasa daerah.
Di antara koleksi-koleksinya itu, ada koran lokal Jawa Timur seperti Bhirawa terbitan 1965 dengan logo Partai Golkar.
Kemudian ada Malang Post edisi tahun 1959, dan Jawa Pos terbitan tahun 1960-an dan 80-an Tak ketinggalan, dia juga punya koleksi harian Jawa Pos Radar Malang terbitan pertama tahun 1999.
Hampir semua koran terbitan sebelum tahun 1970-an dilapisi dengan plastik.
Agar barang tidak rusak, Oemar menaruh kapur barus di tempat dia menyimpan koran-koran tersebut.
Setidaknya, agar koleksi tidak rusak karena kelembapan ruangan.
Selanjutnya ada koleksi buku buku yang terkait dunia pers dan jurnalisme.
Salah satunya tentang panduan kerja terbitan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
Juga peralatan seperti tape kaset perekam yang dipakai wartawan zaman dulu.
Seukuran radio AM/FM kotak tenteng.
Lengkap dengan mikrofonnya.
”Terkadang saya membayangkan betapa repotnya wartawan dulu kalau mengejar berita. Selain kameranya besar, alat rekaman wawancaranya juga besar, harus dibawa pakai tas,” papar dia.
Tak ketinggalan, terselip di antara koleksinya ada slip tagihan langganan koran Jawa Pos tahun 1972.
Kepada wartawan Jawa Pos Radar Malang, Oemar mengaku sudah mulai mengoleksi koran dan buku tentang pers itu sejak tahun 2009.
Kala itu, dia masih tinggal di daerah Waru, Kabupaten Sidoarjo.
Dia yang tak punya background sebagai wartawan dikenalkan dengan dunia koleksi koran lama oleh salah satu temannya.
Kebetulan, ayah dari temannya itu bekerja sebagai wartawan di Surabaya.
Singkat kisah, ayah dari temannya itu meninggal dunia dan koleksinya hampir dijual karena tidak ada yang bisa merawatnya.
”Akhirnya saya datangi, saya lihat ternyata banyak jenisnya. Setelah cocok, langsung saya beli,” papar dia.
Perjalanan mencari koran koran zaman dulu kemudian dimulai.
Dulu, dia biasa mencari barang langka itu di sekitar Malang, Surabaya, dan Yogyakarta.
Mulai dari menyambangi kolektor sampai datang ke event tempo dulu.
Kini, dengan berkembangnya online shop, Oemar tinggal duduk dan memainkan ponselnya.
Biasanya, dia membeli koleksi koran-koran lama dengan harga Rp 100 sampai Rp 400 ribu.
Tergantung usia dan kondisi barang.
Umumnya, terbitan perdana suatu surat kabar bakal dibanderol dengan harga lebih mahal.
Dengan jumlahnya yang sudah menyentuh angka ribuan, banyak kolektor barang lawas yang mendatangi rumahnya.
Oemar tidak mengingat berapa barang yang sudah dijual olehnya.
Tidak hanya itu, banyak mahasiswa yang melakukan penelitian juga datang ke sana.
Biasanya, untuk mencari berita berita terkait isu sosial dan peristiwa besar pada suatu masa.
Kedatangan banyak orang ke sana turut membawa bahaya bagi koleksinya.
Itu pernah terjadi beberapa tahun lalu.
Satu korannya sobek parah karena dibuka satu mahasiswa yang datang.
”Sudah rusak tidak bisa diperbaiki lagi. Pas beritanya juga bagus, judulnya ’Jenazah (Jenderal) Ahmad Yani Ditemukan’,” cerita Oemar.
Sampai sekarang, dia masih membaca koran.
Dia juga melihat sudah ada perbaikan kualitas pers.
Khususnya dalam hal aktualitas.
”Satu contoh, berita proklamasi kemerdekaan baru sampai Jawa Timur itu sekitar empat hari dari tanggal 17 Agustus 1945, jadi sudah tanggal 20-an (Agustus),” kata dia.
Saat ini, tampilan koran juga lebih menarik.
”Dulu, masih didapati salah cetak seperti halaman kosong atau cetakan yang terbalik,” ujar dia. (biy/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana