Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perjuangan Angga Rifanto bersama Timnas Amputasi Indonesia Meraih Medali Perak Piala Asia 2025

Fathoni Prakarsa Nanda • Senin, 17 Februari 2025 | 18:40 WIB

LAGA INTERNASIONAL: Muhammad Angga Rifanto berfoto setelah menjalani pertandingan hari kedua Piala Asia 2025 di Stadion Bashundhara Kings Arena, Bangladesh, 8 Februari lalu.
LAGA INTERNASIONAL: Muhammad Angga Rifanto berfoto setelah menjalani pertandingan hari kedua Piala Asia 2025 di Stadion Bashundhara Kings Arena, Bangladesh, 8 Februari lalu.

Hari Pertama Lawan Uzbekistan, Seluruh Pemain Terserang Demam

Seluruh anggota Timnas Amputasi Indonesia hingga para pelatih terserang demam pada hari pertama pertandingan Piala Asia 2025 di Bangladesh, awal Februari lalu. Padahal lawan pertamanya adalah Uzbekistan. Muhammad Angga Rifanto yang merupakan satu-satunya perwakilan dari Malang menyebut pertandingan hari itu sangat berat. NAHDIATUL AFFANDIAH

MENTAL Tim Nasional (Timnas) Amputasi Indonesia sudah diuji sejak laga pertama Piala Asia 2025.

Baru menginjakkan kaki di tanah Bangladesh sebagai tuan rumah, mereka harus berhadapan dengan tim kuat Uzbekistan pada 7 Februari lalu.

Apalagi kondisi tubuh seluruh pemain sedang tidak fit karena terserang demam.

Rasanya semakin menambah ciut nyali.

”Baru hari pertama, kami seperti harus melawan tim neraka,” cerita Angga saat ditemui di rumahnya di Desa Pulungdowo, Kecamatan Tumpang kemarin (16/2).

Setahu pemuda berusia 26 tahun itu, kekuatan tim Uzbekistan bukan kaleng-kaleng.

Bahkan pernah menjuarai Piala Dunia pada sepak bola amputasi.

Selain itu, postur tubuh tim Uzbekistan lebih besar dan tinggi dibanding tubuh anggota tim dari Indonesia.

Kondisi fisik mereka juga lebih kuat.

Berapa kali Angga melihat pemain Uzbekistan tersenyum kecil saat terkena bola keras dari pemain Indonesia.

Sedangkan pemain Indonesia langsung meringis kesakitan saat terkena hantaman bola dari tim Uzbekistan Skill tim Uzbekistan juga tidak main-main.

Mulai dari cara menggiring bola, kekuatan tendangan, dan kecepatan dalam hal berlari.

Hampir semuanya berada di atas rata-rata kemampuan fisik tim dari Indonesia.

Apalagi dalam pertandingan tersebut, Timnas Uzbekistan kerap kali melakukan pergantian pemain.

Karena itu, Angga yang ditempatkan pada posisi striker kerap kewalahan saat menggiring bola ke gawang lawan.

Sebab, para bermain bertahan Uzbekistan yang menghadangnya berpostur besar.

”Pada pertandingan pertama itu, kami langsung kalah telak 8-1 dari Uzbekistan,” papar Angga.

Mental para penggawa Timnas Amputasi Indonesia sempat terpuruk.

Beruntung pada hari kedua, 8 Februari 2025, mereka dipertemukan dengan tim Bangladesh.

Saat itu kondisi fisik Timnas Amputasi Indonesia sudah berangsur sembuh.

Kemenangan besar pun diraih dengan skor 6-0.

Kemenangan itu turut memacu semangat Angga dan tim untuk bersaing pada Piala Asia 2025.

Setiap hari selama hampir sepekan di Bangladesh, Timnas Amputasi Indonesia selalu melakukan.

Tidak ada lagi kesempatan untuk latihan.

Seluruh pemain difokuskan untuk bertanding dan mengatur jam beristirahat.

Hingga tak terasa, mereka harus bertemu kembali dengan tim Uzbekistan di babak final pada 12 Februari.

Perasaan khawatir jelas ada.

Tapi, Angga dan rekan-rekannya sudah lebih siap mental dengan hasil apa pun.

Mereka juga telah mengetahui gaya permainan Tim Uzbekistan.

Apalagi kondisi kesehatan seluruh anggota tim lebih baik, meski tetap ada rasa lelah karena menjalani pertandingan setiap hari.

Pada pertandingan final itu, Timnas Amputasi Indonesia harus menelan kekalahan 6-0 dan menyabet juara dua Piala Asia 2025.

”Tidak disangka, ternyata kami bisa melampaui target yang ditetapkan,” cerita Angga dengan girang.

Sebelum berangkat ke Bangladesh, pelatih Timnas Amputasi Indonesia sempat menyampaikan target minimal menyabet minimal juara tiga.

Itu adalah mandat langsung dari Menteri Pemuda dan Olahraga.

Demi mengejar target tersebut, seluruh tim sangat serius menyiapkan diri selama enam bulan.

Bahkan Angga merasa ritme latihan dan kehidupan olahraganya langsung berubah drastis saat mengikuti pelatihan di Jakarta untuk Piala Asia 2025.

”Kemampuan saya dalam olahraga sepak bola amputasi masih sangat minim. Karena itu saya sempat tidak percaya kalau mendapat kesempatan mengikuti seleksi Timnas Amputasi Indonesia,” papar pemuda yang membentuk Persatuan Sepak Bola Amputasi Malang (Persama) pada 2022 itu.

Undangan seleksi itu diterima Angga pada Agustus 2024.

Dia nekat pergi ke Jakarta dengan meminta dukungan biaya transport kepada pemerintah desa.

Bersama tiga pemain Persama lain, Angga mengikuti seleksi.

Ternyata saat itu yang lolos hanya Angga dan langsung diminta ikut pelatihan intensif.

Selama di Jakarta, Angga melakukan latihan ekstra, terutama pada tiga bulan pertama.

Tiap pagi mulai pukul 05.30, dia dan atlet tim lain harus sudah siap di lapangan untuk latihan.

Mulai dari passing, kontrol bola, dan latihan bertanding.

Kemudian pada pukul 12.00, mereka menjalani latihan gym untuk membentuk kekuatan tubuh.

“Latihan gym difokuskan melatih kekuatan tangan dan kaki karena itu yang menjadi tumpuan pada sepak bola amputasi,” papar Angga.

Karena fasilitas untuk Timnas Amputasi Indonesia masih minim, gym saat itu dilakukan di luar ruangan.

Latihan berhenti saat hujan turun.

Lalu ketika reda dilanjutkan hingga menjelang magrib.

Model latihan seperti itu sangat berbeda dengan yang dilakukan Angga selama bergabung dengan Persama.

Menurutnya, tiga bulan pertama bersama Timnas Amputasi Indonesia adalah masa paling berat.

Selain porsi latihan yang berat dan ketat, dia juga harus bisa mencocokkan chemistry bersama pemain lain.

Beruntung seluruh tantangan itu bisa dilewati Angga dan akhirnya bisa membantu Timnas Amputasi Indonesia menyabet juara dua Piala Asia 2025.

Untuk saat ini, Angga masih dalam masa istirahat.

Dalam waktu dekat dia sudah aktif lagi sebagai pemain Persama.

Angga juga berharap dipanggil lagi oleh Timnas Amputasi Indonesia untuk mengikuti Piala Dunia pada Desember mendatang. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#timnas amputasi indonesia #Sosok #Muhammad Angga Rifanto