Mengenal Lebih Dekat Pasangan Wahyu Hidayat dan Ali Muthohirin
WAHYU HIDAYAT sudah dipercaya sebagai pemimpin di lingkup pemerintahan sejak 2009.
Dia mengawalinya dari posisi Camat Tajinan, Kabupaten Malang.
Setelah itu, dia mendapat mandat untuk memimpin tiga perangkat daerah.
Selanjutnya pada 2020, dia diangkat menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang.
Tiga tahun berselang, dia mencicipi pengalaman memimpin Kota Malang.
Ya, pada 2023 lalu, Wahyu terpilih sebagai Pj Wali Kota Malang (selengkapnya baca grafis).
Seperti pegawai negeri sipil (PNS) pada umumnya, dia tidak langsung menempati posisi-posisi itu.
Ditarik lebih ke belakang, perjalanan Wahyu di pemerintahan dimulai pada 1993.
Dia ditempatkan pertama kali di Badan Kepegawaian Daerah (saat ini BPKSDM) Kabupaten Malang.
Awalnya menjadi staf yang bertugas membuat surat, sekaligus menjadi kurir.
Tugasnya mengantar surat ke dinas dan kecamatan dengan mengendarai motor.
”Sebenarnya saya mau bekerja di perusahaan saja, tapi orang tua yang ingin anaknya menjadi PNS. Akhirnya saya daftar dan ternyata lolos,” terangnya.
Karier Wahyu sebagai birokrat mulai menanjak pada tahun 1998.
Dia menjabat Kasi Tata Ruang dan Tata Guna Bappeda.
Kemudian dia menjadi Kepala Bidang (Kabid) Tata Ruang Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim).
Selanjutnya menjadi Kabid Perencanaan Pembangunan Sarpras dan Lingkungan Hidup Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).
Setelah punya catatan kinerja yang bagus, barulah dia dipromosikan menjadi Camat Tajinan.
”Yang membuat saya menanjak terus karena selalu melakukan perubahan. Membuat pegawai nyaman,” beber pria asal Kelurahan Bareng itu.
Sederet pengalaman itu menambah nilai jual dia di mata partai politik.
Sehingga, meskipun bukan kader partai, Gerindra bersama koalisi sepakat mengusung Wahyu Hidayat menjadi calon Wali Kota Malang pada Pilkada 2024.
Pilihan menjadi calon kepala daerah tentu bukan hal yang mudah bagi Wahyu.
Sebab dia harus meninggalkan pekerjaan yang ditekuni selama 31 tahun.
Namun, dorongan dari masyarakat saat dia menjabat sebagai Pj Wali Kota Malang membuat Wahyu meyakini langkahnya di dunia politik.
Restu dari keluarga juga jadi modal pria penyuka jam tangan unik itu.
”Saat itu saya pikir tidak boleh egois. PNS memang tidak ada risiko, tetapi saya mendapat amanah dari masyarakat sebagai wali kota, sehingga akhirnya memilih maju pilkada,” papar dia.
Dengan lima program prioritas yang sudah disiapkan sejak Pilkada tahun lalu, Wahyu yakin bisa membuat Kota Malang sesuai dengan jargon yang diusungnya.
Yakni Mbois Berkelas. (adk/ by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana