Penyebaran Islam di Malang Raya mulai berlangsung setelah Kerajaan Majapahit runtuh. Salah satu tokoh yang memiliki peran besar adalah Ki Ageng Gribig. Dia mulai menyebarkan Islam dari sisi timur Kota Malang yang kini menjadi RW 4 Kelurahan Madyopuro.
NABILA AMELIA
PADA tahun 1519 M, Kerajaan Majapahit runtuh setelah Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor dari Kerajaan Demak melakukan penyerangan.
Mereka didukung ulama dari Kudus yang dipimpin Pangeran Ngudung.
Saat itu, kekuatan Kerajaan Majapahit memang sudah menurun akibat perebutan kekuasaan di internal keluarga raja.
Beberapa daerah lain akhirnya juga bisa ditaklukkan oleh Kerajaan Demak.
Misalnya kawasan Malang pada 1545 M.
Pengaruh Kerajaan Demak di Malang bisa dibuktikan dengan adanya permukiman muslim di Gribig, Malang Timur, yang sekarang dikenal sebagai RW 4 Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang.
Permukiman itu menjadi batu loncatan bagi Kerajaan Demak untuk menaklukkan Kerajaan Sengguruh yang merupakan penganut agama Hindu.
Penyebaran Islam di kawasan Gribig dilakukan oleh sosok yang dikenal dengan nama Ki Ageng Gribig.
Belum ditemukan catatan yang pasti mengenai waktu awal penyebaran Islam yang dilakukan Ki Ageng Gribig.
Namun, cerita turun temurun yang beredar di masyarakat menyebut ada dua versi perihal sosok Ki Ageng Gribig.
Versi pertama, Ki Ageng Gribig memiliki nasab atau garis keturunan dengan Raja Kerajaan Majapahit Prabu Brawijaya V.
Namun dia termasuk keturunan Raden Aryo Panji Malang dari Kerajaan Blambangan Kulon.
Kaitan antara Ki Ageng Gribig dengan Prabu Brawijaya tercantum dalam silsilah yang terdapat di Kompleks Pesarean Makam Ki Ageng Gribig.
”Berdasar catatan sejarah yang saya tahu, saat itu Kerajaan Majapahit terpecah menjadi tiga. Terdiri dari Kerajaan Blambangan Kulon, Kerajaan Lamajang, dan Kerajaan Sengguruh,” kata Ketua Pokdarwis Kompleks Pesarean Makam Ki Ageng Gribig Devi Arif Nurhadiyanto.
Secara garis silsilah, Ki Ageng Gribig adalah keturunan Prabu Brawijaya V dari Menak Koncar.
Dia dikenal sebagai kesatria di Kerajaan Mataram.
Saat dewasa, Ki Ageng Gribig yang memiliki nama lain Raden Mosi Bagono atau Ario Pamoetjong diutus untuk melakukan ekspansi ke Pasuruan.
Selama berada di Pasuruan, dia pernah mendapat gelar Kyai Gede Gribik.
Setelah dari Pasuruan, Ki Ageng Gribig bergerak ke Malang.
Tepatnya ke kawasan sisi timur yang sekarang menjadi bagian dari Kota Malang.
Kawasan tersebut dikenal dengan nama Gribig.
Di sana, Ki Ageng Gribig diyakini pernah menjadi adipati sekaligus alim ulama.
Namun, hingga sekarang belum ditemukan catatan terkait masa jabatan yang diemban.
Versi selanjutnya menyebut bahwa Ki Ageng Gribig adalah utusan dari Sunan Kalijaga.
Sebelum menyandang predikat Ki Ageng Gribig, dia memiliki nama asli Ario Pamoetjong.
Namun karena berhasil meng-Islamkan masyarakat secara massal, dia diberi predikat Gribig atau meng-gribig.
”Kemungkinan Ki Ageng Gribig hidup di sekitar tahun 1500-an. Itu jika dikaitkan dengan sejarah kelanjutan pembangunan Masjid Agung Demak yang dilakukan Sunan Kalijaga bersama wali lainnya pada tahun 1500-an,” imbuh Devi.
Saat datang ke Kota Malang, Ki Ageng Gribig memilih tinggal di kawasan timur.
Awalnya kawasan tersebut masih berupa hutan lebat.
Bersama beberapa orang yang dia bawa, Ki Ageng Gribig melakukan babat alas.
Beberapa orang yang dibawa Ki Ageng Gribig juga memiliki keahlian di bidang filsuf dan agama.
Mereka turut membantu menyebarkan Islam dengan ditunjang keahlian masing-masing.
Setelah masa Ki Ageng Gribig, catatan sejarah mengenai perkembangan Islam di Malang seperti terputus.
Tidak diketahui waktu pasti Ki Ageng Gribig meninggal dunia.
Namun, memasuki tahun 1800-an, beberapa tokoh banyak yang dikebumikan di Kompleks Pesarean Makam Ki Ageng Gribig.
Salah satunya Bupati Malang IRT Notodiningrat yang wafat tahun 1839.
Sedikitnya ada 13 tokoh penting yang makamnya berada di kompleks tersebut.
Mulai dari Bupati Malang, Eyang Sapu Jagad, Pangeran Sendowo yang merupakan putra dari Untung Suropati, hingga Buyut Kanigoro.
Ada pula makam beberapa bupati di daerah lain.
Sebagai penanda adanya makam tokoh-tokoh penting, di area seluas 5.000 meter persegi itu ditanami banyak tanaman.
Seperti pohon nogosari dan kemuning jenar yang masih tumbuh hingga sekarang.
Tak hanya simbol tokoh-tokoh penting, tanaman yang ada juga berfungsi sebagai ruang terbuka hijau.
Sebelum menjadi permukiman padat seperti sekarang, di sekitar RW 4 Kelurahan Madyopuro banyak ditemukan nisan dengan berbagai corak.
Namun yang paling menonjol ada tiga corak.
Pertama, nisan bercorak Surya Sengkala yang diperkirakan sudah ada sejak era Kerajaan Demak tahun 1540-an.
Corak itu identik dengan nisan yang ada di makam Sunan Ngudung, Sunan Nggesing, serta motif Masjid Demak.
Kedua, nisan dengan gaya khas daerah Pantura.
Terbuat dari batu andesit yang berbentuk kotak-kotak.
Lalu nisan dari material kayu jati dan memiliki ukiran seperti nisan pada makam Bupati Malang I R.T. Notodiningrat I (1820 1839) yang juga dimakamkan di Gribig.
”Beberapa nisan itu dulu banyak ditemukan di RW 4. Artinya, pada masa lampau sudah ditemukan peradaban yang berbudaya,” imbuh Devi.
Warga mulai melakukan penataan di Kompleks Pesarean Makam Ki Ageng Gribig setelah terbentuk pokdarwis pada 2017.
Misalnya dengan menambahkan toilet dan belum lama ini membangun tempat salat.
Warga juga tetap melaksanakan tradisi-tradisi yang dibawa para penyebar Islam di Malang.
Salah satunya berupa megengan.
Sejak tahun 2020, warga RW 4 Kelurahan Madyopuro rutin menggelar megengan yang dimulai dengan kirab gunungan apem, penampilan tari sufi yang merupakan budaya yang dibawa Kerajaan Turki Islam ke Indonesia, hingga silaturahmi.
“Ada tradisi khas pesantren yang masih kami lestarikan, yakni mengaji bersama dan tausiyah,” ungkap Devi.
Warga juga meyakini bahwa umat muslim pada zaman dulu rutin mengaji di langgar lama di sisi timur kompleks.
Karena itu, tradisi-tradisi tersebut berusaha dibangkitkan kembali. (*/fat)
Editor : Aditya Novrian