Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (4): Dibangun pada 1768, Ponpes Gading Ikut Melawan Belanda

Fathoni Prakarsa Nanda • Selasa, 4 Maret 2025 | 18:10 WIB

PENERUS: Generasi keempat Ponpes Miftahul Huda KH Ahmad Muhammad Arif Yahya (kiri) dan keponakannya yang merupakan generasi kelima, Gus Fuad Abdurrochim Yahya, ikut melanjutkan pengelolaan pesantren.
PENERUS: Generasi keempat Ponpes Miftahul Huda KH Ahmad Muhammad Arif Yahya (kiri) dan keponakannya yang merupakan generasi kelima, Gus Fuad Abdurrochim Yahya, ikut melanjutkan pengelolaan pesantren.

Pondok Pesantren Miftahul Huda atau Ponpes Gading tercatat sebagai pesantren ketiga tertua di Indonesia. Meski lokasinya berada di Kecamatan Klojen, pendirinya berasal dari Jawa Tengah, yakni KH Hasan Mahmudi.

NABILA AMELIA

SELAIN makam dan tempat ibadah, jejak penyebaran Islam di Malang Raya juga berupa pondok pesantren (ponpes).

Seperti yang ada di Jalan Gading Pesantren Nomor 38, Kelurahan Gading Kasri, Kecamatan Klojen.

Di sana terdapat Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Huda (PPMH) Malang.

Masyarakat sekitar lebih mengenalnya sebagai Ponpes Gading.

Pesantren itu didirikan oleh KH Hasan Munadi sekitar tahun 1768.

Jauh sebelum Indonesia Merdeka.

KH Hasan Munadi lahir dan besar di Jawa Tengah.

Belum ada informasi pasti tentang desa, kecamatan, atau kabupaten asal sang kiai.

Ada yang menyebut berasal dari Pekalongan. Adapula yang menyebut dari daerah lain di Jawa Tengah.

Sekitar 1760an, KH Hasan Munadi memutuskan pergi ke Jawa Timur.

Alasannya diperkirakan untuk menghindari pengejaran oleh Pasukan Belanda.

Perjalanan sang kiai menuju Jawa Timur ditemani satu kerabat dan dua rekan.

Sepanjang perjalanan menuju Jatim, lelaki kelahiran 1733 itu juga menyebarkan ajaran Islam.

Biasanya disertai pembangunan tempat ibadah, seperti masjid atau musala.

”Tapi, sebagai anak-cucu beliau, sampai sekarang kami belum bisa memastikan tempat ibadah mana saja yang dibangun,” cerita generasi kelima PPMH Fuad Abdurrochim Yahya atau yang akrab disapa dengan Gus Fuad, kemarin (3/3).

Setelah melakukan perjalanan panjang, KH Hasan Munadi tiba di Malang.

Saat itu, dia mendengar kabar bahwa Belanda membuat sayembara menempati tanah angker mulai Jalan Lokon sampai Jalan Wilis.

Bagi yang berhasil diperbolehkan menetap di lahan wakaf tersebut.

Sebelum KH Hasan Munadi datang, kabarnya banyak orang yang mencoba menetap di lokasi itu.

Tapi akhirnya meninggal dunia.

Beda dengan KH Hasan Munadi.

Berkat kemampuan yang dimiliki, dia berhasil menetap di lokasi tersebut.

Hadiah tanah wakaf akhirnya diberi kan oleh Belanda.

”Karena keikhlasan beliau, ada bagian tanah yang diberikan kepada santri hingga dikelola menjadi surau atau tempat ibadah,” jelas Gus Fuad.

Pada 1768, KH Hasan Munadi mendirikan pondok pesantren.

Luasnya lebih dari satu hektare.

Meskipun zaman dulu kondisi di sekitar pondok pesantren masih berupa rawa rawa dan terletak di pinggir kota, tapi dakwah KH Hasan Munadi tetap berjalan.

Jiwa takwa dan tasawuf menjadi napas utama pendidikan di pesantren yang dia dirikan.

Setelah wafat pada 1858, perjuangan KH Hasan Munadi dilanjutkan anakcucunya.

Salah satunya KH Muhammad Yahya yang merupakan pengasuh generasi ketiga.

Sejak kecil, pemuka agama kelahiran Desa Jetis pada 1903 itu selalu mendapat pendidikan dari keluarga dengan tradisi santri yang kental.

Ditambah dengan pendidikan agama yang diberikan pamannya yang bernama Kyai Abdullah.

KH Muhammad Yahya juga pernah turut serta berperang melawan Belanda.

Tepatnya dalam Pertempuran 10 November 1945.

Meski lokasi pertempuran di Surabaya, tapi dampak perlawanan juga terasa sampai Kota Malang.

Saat itu, pasukan-pasukan kompi di bawah SWK1 atau Kompi GarudaMerah yang ada di Malang melakukan perlawanan matimatian sekaligus perjuangan gerilya.

Pasukan tersebut dipimpin Mayor Sullam Syamsun.

Karena posisi pasukan terimpit, Mayor Sullam memutuskan untuk berbagi tugas KH Muhammad Yahya yang memang bergabung dalam pasukan.

Dia diberi mandat sebagai motivator, tugas intelijen, tugas logistik dan amunisi, serta tugas territorial.

Dalam menjalankan tugas, KH Muhammad Yahya melibatkan warga dan para santri.

Bahkan sebanyak 35 santri yang saat itu aktif mengaji tetap ikut melakukan perjuangan.

KH Muhammad Yahya juga menyulap Pondok Gading menjadi semacam kantor pos.

Tujuannya untuk menerima dan mengirimkan pesan atau instruksi militer.

Pesan dikirimkan melalui alat yang di sebut motor radio yang dija lankan dengan cara mengayuh.

Lalu ada pesan-pesan yang disamarkan menggunakan aksara Arab pegon.

Peran lainnya adalah saat KH Muhammad Yahya mema sukkan puluhan senjata dan amunisi ke dalam keranda mayat.

Hal itu dilakukan agar puluhan senjata dan amunisi tidak diketahui Belanda selama perjalanan dikirim ke pejuang Indonesia yang membutuhkan.

Bekas perang melawan penjajah sampai saat ini juga masih tersisa di Pondok Gading.

Peninggalan berupa bekas bom itu disimpan salah seorang anaknya yang kini menjadi pengasuh pondok generasi keempat, yakni KH Ahmad Muhammad Arif Yahya.

”Ada satu bekas bom yang kami temukan di sini. Katanya ada enam, tapi sepertinya yang lima sudah diamankan oleh tentara atau masyarakat setempat,” sebut KH Ahmad Muhammad Arif Yahya.

Hingga kini, Ponpes Gading tetap berjalan dengan ajaran ahlussunnah wal jamaah.

Beberapa tradisi lama masih dilestarikan, seperti istighotsah setiap malam Rabu, tahlil setiap malam Jumat, dan manaqib rutin setiap tanggal 11 bulan qomariyah.

Pada saat yang sama, pesan tren juga menerapkan pen didikan modern.

Santri tidak hanya mendapat pendidikan agama, tapi juga berkembang ke bidang umum seperti politik, pemerintahan, dan lainnya.

Itu terbukti dengan banyaknya alumni pondok yang menjadi publik figur di bidang pemerintahan.

Seperti mantan Wali Kota Malang Sutiaji, Anggota DPRD Kota Malang Imron, pengurus PBNU, hingga bupati Lumajang.

Karena keberadaan Ponpes Gading, kawasan di sekitar sana berkembang menjadi kampung yang dikenal dengan nama Kampung Gading Pe santren.

Berdasar tulisan berjudul Identifikasi Tipologi Perkampungan Muslim di Kota Malang yang dibuat Nunik Junara dan Elok Mutiara, perkembangan Kampung Gading Pesantren dimulai sejak 1900an.

Sampai saat ini masih ada beberapa titik di Kampung Gading Pesantren yang memiliki ciri khas sebagai kampung Islam.

Yakni di RW 6 yang terdiri dari RT 1, RT 2, dan RT 3. (*/fat)

Editor : A. Nugroho
#penyebaran agama islam #Miftahul Huda #pondok pesantren #Ponpes #Penyebaran Islam #malang