Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak penyebaran Islam di Malang Raya (5): Hijrah dari Banten, Pangeran Fadluddin Menetap di Kasin

Bayu Mulya Putra • Rabu, 5 Maret 2025 | 18:30 WIB

RUTIN DIKUNJUNGI: Ketua Umum Takmir Masjid Al-Mukarromah Kasin M. Iskandar berziarah ke makam pangeran Fadluddin atau Mbah Muhammad Djalalain di Jalan Arif Margono, Kelurahan Kasin, Kecamatan Sukun.
RUTIN DIKUNJUNGI: Ketua Umum Takmir Masjid Al-Mukarromah Kasin M. Iskandar berziarah ke makam pangeran Fadluddin atau Mbah Muhammad Djalalain di Jalan Arif Margono, Kelurahan Kasin, Kecamatan Sukun.

Campur tangan Belanda melalui VOC di Kesultanan Banten membuat beberapa pangeran memutuskan keluar. Salah satunya adalah Pangeran Fadluddin. Sempat membantu Mataram melawan pasukan Belanda, beliau akhirnya menetap dan melakukan syiar Islam di Kota Malang.

NABILA AMELIA

Kesultanan Banten turut berkontribusi dalam penyebaran Islam di Malang Raya.

Salah satunya jejaknya ada di Jalan Arif Margono Nomor 4, Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen.

Di sana terdapat makam Pangeran Fadluddin atau Mbah Muhammad Djalalain.

Ada beberapa versi mengenai sosok Pangeran Fadluddin.

Dari cerita Ketua Forum Dzuriyat Kesultanan Banten Jawa Timur Tubagus Hadi Assyai khon, Pangeran Fadluddin adalah cucu Sultan Ageng Tirtayasa.

Sementara ayah Pangeran Fadluddin bernama Sultan Abu Nasr atau Sultan Abdul Qohar, atau lebih dikenal dengan julukan Sultan Haji.

Pada abad ke16, Belanda melalui perusahaan dagang Vereenigde Oost-Compagnie (VOC) mulai ikut campur terhadap urusan Kesultanan Banten seperti di bidang perdagangan.

Mereka menunjukkan keinginan untuk bekerja sama, namun diamdiam bersikap licik.

Puncaknya terjadi saat VOC melancarkan taktik politik pecah belah atau devide et empera.

Selain itu, mereka juga mendatangkan pasukan militer ke kesultanan.

Akibat tindakan yang dilakukan Belanda, sebagian pangeran memilih keluar dari tanah Banten.

Para pangeran yang memilih keluar hijrah ke berbagai daerah.

Salah satunya ke Jawa Timur yang menjadi jujukan dari Pangeran Fadluddin, Pangeran Muhammad Alim, Pangeran Kesatrian, serta Pangeran Djakfaruddin.

”Meski sama-sama di Jawa Timur, tapi tujuannya beda. Sebagai contoh Pangeran Fadluddin yang bergerak ke Malang dan Pangeran Muhammad Alim memilih ke Kepanjen,” jelas lelaki yang akrab disapa Gus Hadi tersebut.

Sebelum sampai ke Jawa Timur, empat pangeran dari Kesultanan Banten itu melakukan perjalanan panjang.

Dimulai dari kawasan yang kini menjadi Kecamatan Jasinga di Kabupaten Bogor.

Lalu mereka bergerak menuju ke salah satu karesidenan di Jawa Tengah yang dikenal dengan nama Kedu Gede.

Saat berada di sana, para pangeran memperdalam thoriqoh atau ilmu tasawuf.

Selain memperdalam thoriqoh, empat pangeran juga sempat membantu Mataram dalam melawan Belanda.

Perang itu terjadi di kawasan perbatasan antara Kedu Gede dengan Kutoarjo.

Bukti kejadian perang tersebut tercantum dalam Babad Kemalon.

Seluruh perjalanan dari Banten menuju Jawa Timur dilakukan menggunakan cikar glodak.

Sebuah moda transportasi mirip dokar.

Namun ukurannya lebih besar dan ditarik sapi.

Karena masih sederhana, perjalanan ke Jawa Timur ditempuh dalam waktu antara satu tahun sampai dua tahun.

Para pangeran akhirnya tiba di Kecamatan Jabon, Kabu paten Sidoarjo pada 1770.

Mereka kemudian berpencar.

Ada yang ke Malang, Kepanjen, Sidoarjo, dan Pasuruan.

Pangeran Fadluddin memutuskan menetap di kawasan yang sekarang menjadi Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen.

Sang pangeran menetap bersama beberapa pengikutnya.

Keputusan untuk menetap di Kasin bukan tanpa alasan.

Di sana, Pangeran Fadluddin mendapat tanah perdikan yang merupakan hadiah dari Kanjeng Surgi atau Bupati Malang III Raden Tumenggung Aryo Notodiningrat III.

”Karena Pangeran Fadluddin meru pakan ulama sekaligus bang sawan. Selain itu, beliau juga menikah dengan keturunan Mataram yang bernama Masayu Habibah dan memiliki anak bernama Raden Bagus Sapu Jagad,” sebut Gus Hadi.

Saat pertama kali tiba, kawasan Kasin masih seperti hutan.

Dipenuhi dengan pohon bambu serta tidak terawat.

Kemudian, dilakukan penataan.

Untuk kebutuhan dakwah, Pangeran Fadluddin membangun langgar yang digunakan menjadi majelis.

Kendati lahir dari trah kesultanan,

Pangeran Fadluddin hidup sederhana.

Dia juga menanggalkan gelar bangsawan dan menggunakan nama Mbah Muhammad Djalalain agar identitasnya tidak diketahui pihak Belanda.

Selama menetap di Malang, Pangeran Fadluddin fokus melakukan syiar Islam.

Dia mengajarkan tauhid.

Sebab, sang pangeran sudah memiliki ilmu tauhid sampai tingkat hakikat ma’rifat.

Beberapa yang diajarkan seperti salat, mengaji, hingga pentingnya berakhlak mulia.

Di samping itu, Pangeran Fadluddin juga mendorong agar lebih mengenal Allah SWT di dunia sebagai modal saat berada di akhirat nanti.

Banyak yang akhirnya men jadi murid Pangeran Fadlu ddin.

Misalnya saja Bupati Malang dan pejabat-pejabat lainnya.

”Saking kuatnya amal beliau, selain keimanan juga diberi bonus oleh Allah SWT be rupa karomah,” ungkap Gus Hadi.

Sang pangeran mengembuskan napas terakhir pada usia 180 tahun.

Meski demikian, ajaran ajarannya masih diamalkan.

Versi lain menyebut Pangeran Fadluddin datang ke Kasin sekitar 200 tahun yang lalu.

Seperti disampaikan Ketua Umum Takmir Masjid Al Mukarromah Kasin M. Is kandar.

”Untuk alasan kedatangannya, ada yang menyebut karena syiar Islam dan statusnya yang merupakan bagian dari pasukan Pangeran Di ponegoro,” jelasnya.

Dari manaqib yang pernah dibaca Iskandar, Pangeran Fa dluddin berasal dari Kesul tanan Banten dan memiliki nasab dengan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah.

Saat berada di Kasin, Pangeran Fadlu ddin juga turut menyebarkan Islam.

Yakni dengan ajaran ahlusunnah wal jamaah.

Ajaran tersebut masih diteladani oleh masyarakat Kasin hingga sekarang.

Pada masa kemerdekaan, ajaran Pangeran Fadluddin juga diteladani oleh KH Abdul Mukti.

Dia merupakan sosok yang menggembleng Laskar Hizbullah pada 1944.

Selain menjadi bagian dari laskar, KH Abdul Mukti juga ahli tasawuf sekaligus pendiri pondok di Musala Al Mukarromah.

”Semasa hidup (KH Abdul Mukti), beliau dikenal ahli dzikir dan wirid sekaligus pengajar di Masjid Agung Jami’ ,” terang Iskandar.

Sebagai bentuk penghormatan baik kepada Pangeran Fadluddin maupun KH Abdul Mukti, terdapat makam di dekat Mu sala AlMukarromah.

Makam tersebut milik Pangeran Fadluddin yang sudah ditata.

Sementara untuk KH Abdul Mukti dibuat menara yang berfungsi sebagai monumen sekaligus tempat untuk adzan.

Selain itu, masyarakat juga rutin menggelar haul. (*/by)

Editor : A. Nugroho
#jejak penyebaran ajaran Islam #penyebaran agama islam #jejak penyebaran islam #malang kota #kasin