Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (10): Dari Kawasan Bungkuk, Mbah Hamimuddin Lahirkan Tokoh Tokoh Besar

Fathoni Prakarsa Nanda • Senin, 10 Maret 2025 | 18:30 WIB

TERJAGA: Najib Jauhari menunjukkan makam Mbah Hamimuddin yang berada kompleks pesantren Bungkuk, tepatnya di belakang Masjid At-Thohiriyah, Jalan Bungkuk, Desa pangetan, Kecamatan Singosari.
TERJAGA: Najib Jauhari menunjukkan makam Mbah Hamimuddin yang berada kompleks pesantren Bungkuk, tepatnya di belakang Masjid At-Thohiriyah, Jalan Bungkuk, Desa pangetan, Kecamatan Singosari.

Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda pada 1830, para perwira dan santrinya menyebar ke seluruh Nusantara. Salah satunya adalah Mbah Hamimuddin yang akhirnya menyebarkan Islam di bekas pusat Kerajaan Singhasari. Kini makam Mbah Hamimuddin banyak dikunjungi masyarakat karena menjadi salah satu tokoh penyebaran Islam di Malang Raya.

NAHDIATUL AFFANDIAH

KEKALAHAN Pangeran Diponegoro dalam perang fisik membuat seluruh prajuritnya mengganti strategi.

Dari pertempuran secara langsung menjadi penyebaran ideologi perlawanan.

Media nya melalui dakwah agama dan akulturasi budaya.

Salah satu prajurit perwira Panglima Diponegoro bernama Mbah Hamimuddin pergi ke area bekas pusat peradaban Kerajaan Singhasari.

Mayoritas penduduk di sana masih memeluk agama Hindu.

Wilayah itu kini persisnya berada di Desa Pangetan, Kecamatan Singosari.

Setelah meninggal, Mbah Hamimuddin dimakamkan di tengah kompleks Pesantren Bungkuk.

Tepatnya di belakang Masjid AtThohiriyah, Jalan Bungkuk, Desa Pangetan, Kecamatan Singosari.

“Nama pesantren bungkuk berasal dari masyarakat pra Islam yang saat itu melihat cara salat umat muslim,” ujar Najib Jauhari, dosen sejarah di Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang sekaligus salah satu keturunan Mbah Hamimuddin.

Menurutnya, bangunan awal yang didirikan Mbah Hamimuddin saat tiba di Singosari adalah sebuah gubuk tanpa penutup samping.

Ukurannya sekitar 3x4 meter.

Karena tanpa penutup samping, masyarakat sekitar bisa melihat dengan jelas cara beribadah Mbah Hamimuddin bersama jamaahnya.

Mayoritas masyarakat yang beragama Hindu kala itu menyebut gerakan rukuk dan sujud yang dilakukan Mbah Hamimuddin saat salat dengan sebutan bungkuk-bungkuk.

Karena itu pula, tempat tinggal Mbah Hamimuddin beserta santrinya dijuluki wilayah Bungkuk.

Kondisi penduduk sekitar yang mayoritas Hindu memunculkan tantangan tersendiri bagi Mbah Hamimuddin dalam menyebarkan Islam.

Karena itu, pendekatan yang dilakukan kepada masyarakat harus seramah mungkin.

Mencitrakan Islam adalah agama damai dan penuh kasih sayang.

”Semua sektor dapat diatasi Mbah Hamimuddin,” lanjut Najib.

Mulai keluhan masyarakat di bidang pertanian, perdagangan, hingga isu keamanan sosial.

Karena keunggulannya di segala bidang dan keramahan kepada masyarakat, pemeluk agama Islam di wilayah Singosari mulai berkembang pesat.

Perlahan Mbah Hamimuddin mengajak mereka mengaji di pondok yang dibangunnya pada 1835.

Waktu pengajian menyesuaikan dengan jadwal senggang masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian sebagai pedagang dan petani.

Kajian kajian seringkali dilakukan malam hari.

Kala itu juga masih banyak pria yang suka mabuk mabukan, berjudi, dan bermain wanita.

Dengan sabar Mbah Hamimuddin menasihati mereka agar bertobat.

Rata rata mereka akhirnya luluh berkat keteguhan, kesabaran, dan ketelatenan Mbah Hamimuddin dalam memberikan bimbingan.

Ada dua ilmu utama yang dibawa Mbah Hamimuddin dalam menyebarkan Islam.

Pertama ilmu fisik atau kanuragan yang referensinya dia peroleh selama menjadi perwira pasukan Pangeran Diponegoro.

Ilmu kedua adalah keagamaan.

Mulai dari ilmu tafsir (memaknai Alquran berdasar konteks), ilmu fiqh (tata cara ibadah dan hukum Islam), tauhid (ilmu ketuhanan melalui Thariqah Naqsyabandiyah), ilmu falak (ilmu hisab atau perhitungan), hingga ilmu faraid (ilmu pembagian warisan).

”Thariqah Naqsyabandiyah dibawa Mbah Hamimuddin dari Pangeran Diponegoro,” lanjut Najib.

Fokusnya mempelajari gerakan salat serta bacaannya, namun hati hanya memandang kepada Allah.

Juga pendisiplinan diri dan kehidupan rohani.

Mbah Hamimuddin juga terkenal sebagai orang yang teliti terhadap Alquran.

Meski pun beliau tidak pernah mengaku sebagai penghafal Al quran, ketika ada santri yang nderes (mengaji di depan kyai) dan salah bacaan, ia langsung tahu dan menyuruh santri itu mengulang.

Kitab kitab lain yang dirujuk Mbah Hamimuddin langsung dari ulama tersohor dari Timur Tengah.

Seperti kitab Tafsir AlJalalain karya Imam Jala luddin AlMahalli dan Imam Jalaluddin AsSuyuthi.

Kitab kitab tersebut dikaji bersama para santri menggunakan sistem maknani kitab (meng artikan kitab menggunakan bahasa Jawa).

Beberapa santri memutuskan untuk bermukim di dekat kediaman Mbah Hamimuddin dengan membangun ubuk sendiri.

Seiring berjalannya waktu, saat ini gubuk gubuk ter sebut sudah menyatu men jadi Pondok Pesantren Miftahul Falah dengan 40 santri.

Untuk pengajaran pada ma syarakat, Mbah Hamimuddin menulis beberapa kitab sendiri menggunakan campuran huruf Arab dan huruf Jawa.

Tujuannya agar masyarakat lebih mudah memahami maknanya.

Sayangnya, saat ini kitabkitab tersebut masih dalam masa pencarian.

Kabarnya, beberapa kitab masih berada di tangan santrisantri teladan beliau yang diwariskan secara turun temurun.

Pendidikan kepada masyarakat saat itu juga tidak sepenuhnya menggunakan istilah Islam.

Misalnya saat menyerukan masyarakat untuk salat, Mbah Hamimuddin menggunakan kata sembahyang.

Istilah itu merupakan bentuk akulturasi dari masyarakat Hindu yang menyebut tuhannya Sang Hyang Widhi yang berarti Tuhan yang Maha Esa.

Mbah Hamimuddin wafat pada tahun 1850 Masehi dan dikuburkan di belakang Masjid At Thohiriyah atau Masjid Bungkuk.

Makam beliau menjadi satu kompleks bersama para dzurriyah dan menantunya.

Keilmuan yang diwariskan Mbah Hamimuddin secara turun temurun telah melahirkan banyak tokoh Islam.

Mulai dari kakak tingkat KH Hasyim Asyari Tebuireng yang menjadi salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), yaitu KH Muhammad Thohir.

Ada juga satu di antara 14 kiai yang hadir saat pendirian NU, yaitu KH Nachrowi Thohir.

Termasuk Menteri Agama pada masa Presiden Soekarno yang sudah dinobatkan menjadi pahlawan nasional, yaitu KH Masjkur.

Pada era Presiden Abdurrah man Wahid, menteri agamanya juga merupakan keluarga Mbah Hamimuddin, yaitu KH Tolchah Hasan.

Tokoh Islam lain yang juga lahir dari Bungkuk adalah KH Munsif Nachrowi, pendiri Ikatan Pelajar NU dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Seluruh tokoh dimakamkan di satu kompleks dengan Mbah Hamimuddin. (*/fat)

Editor : A. Nugroho
#singosari #Malang Raya #Sosok #Penyebaran Islam #Mbah Hamimuddin #Kabupaten