Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (11): Tiang Penyangga Langgar Bungkuk Sudah Berusia 190 Tahun

Bayu Mulya Putra • Selasa, 11 Maret 2025 | 18:40 WIB

BERSEJARAH: Najib Jauhari, salah satu dzurriyah Mbah Hamimuddin menunjukkan tiang penyangga di Masjid At Thohiriyah.
BERSEJARAH: Najib Jauhari, salah satu dzurriyah Mbah Hamimuddin menunjukkan tiang penyangga di Masjid At Thohiriyah.

Sebelum menjadi Masjid At Thohiriyah, tempat ibadah yang dibangun Mbah Hamimuddin Singosari disebut langgar bungkuk. Awalnya berbentuk gubuk kecil dengan luas sekitar 3 x 4 meter. Kini, tempat ibadah yang dibangun sejak 1835 itu berukuran empat kali lipatnya dari awal.

NAHDIATUL AFFANDIAH

Satu-satunya bangunan lama yang masih tersisa di Masjid At Thohiriyah di Desa Pagentan, Kecamatan Singosari, adalah empat tiang penyangga.

Tiang-tiang itu sudah ada sejak Mbah Hamimuddin Singosari membangunnya pada 1835.

Kini, usia empat pilar dari kayu jati itu sudah mencapai 190 tahun.

Pembangunan cikal bakal Masjid At Thohiriyah terjadi lima tahun setelah kedatangan Mbah Hamimuddin di bekas pusat peradaban Kerajaan Singhasari.

Seperti kebiasaan masyarakat Jawa pada umumnya, pembangunan tempat ibadah itu dimulai dari empat tiang, yang ditujukan sebagai fondasi agar bangunan kokoh.

Saat ini, empat tiang dari kayu jati tersebut terletak di tengah-tengah masjid.

Tingginya menjulang lima meter dengan ukiran kaligrafi ayat kursi di bagian atas yang menyambung ke empat balok kayu lainnya.

"Tidak ada arti khusus, empat tiang itu memang sebagai fondasi saja," ujar Kyai Ahmad Hilmi Nachrowi, pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Falah saat ini.

Kyai Hilmi Nachrowi merupakan generasi keempat dari Mbah Hamimuddin.

Nasabnya berasal dari ayahnya, Kyai Nachrowi Thohir, putra terakhir dari Kyai Thohir.

Kyai Thohir sendiri merupakan menantu Mbah Hamimuddin.

Hilmi mengingat, saat berusia enam tahun, bentuk langgar bungkuk itu masih berupa bangunan semi permanen.

Empat tiang kayu jati menyangga atap yang terbuat dari genteng.

Belum ada listrik.

Pengajian pun masih dilakukan dengan bantuan cahaya dari lentera api.

Baru pada 1966, tepat 16 tahun setelah wafatnya Mbah Hamimuddin, langgar bungkuk mulai dibenahi menggunakan batu bata dan semen.

Saat itu, kepemimpinan pondok bungkuk dipegang oleh Kyai Nachrowi Thohir yang wafat pada 1980.

Seiring waktu, kerusakan kembali terjadi pada langgar bungkuk.

Akhirnya, pada 1988, tempat ibadah itu direnovasi.

"Sekaligus mengubah status langgar menjadi masjid dan menamainya At Thohiriyah," papar Hilmi.

Nama At Thohiriyah diambil dari Kyai Thohir, sosok paling berpengaruh dalam memopulerkan pondok bungkuk.

Jamaah berdatangan dari seluruh penjuru Malang.

Mereka rajin mengikuti tarekat yang dipimpin oleh Kyai Thohir.

Karena jumlah santri dan jamaah semakin banyak, Kyai Thohir mulai membangun guthokan (bangunan sederhana dari kayu dan bambu untuk tempat tinggal santri).

Masa kejayaan pondok bungkuk semakin melejit saat dipimpin oleh Kyai Thohir.

Santri berdatangan dari berbagai daerah di Jawa Timur, tidak hanya dari Malang Raya.

Sistem pengajaran di pondok pesantren saat itu tetap menggunakan sorogan (menyetorkan hafalan kitab kepada guru) serta weton (kyai membacakan kitab, santri mencatat dan menyimak penjelasan kyai).

 Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (3): Mbah Honggo Jadi Pengajar Ngaji Bupati Malang Pertama

Meski begitu, peminatnya tetap tinggi.

Kyai Thohir juga tidak sembarangan memilih santri.

Proses penerimaan santri harus melalui istikharah (ibadah untuk mencari petunjuk), baik dari Kyai Thohir maupun calon santri.

Waktu diterimanya santri pun beragam.

 Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (2): Bangsawan Gowa Punya Kontribusi Besar di Ngantang

Ada yang langsung masuk pondok pada hari pertama, ada yang baru diterima satu minggu setelah mendaftar, bahkan ada yang menunggu hingga empat tahun.

Sejak saat itu, popularitas pondok bungkuk semakin meningkat.

Seiring bertambahnya jamaah, pada 2008 Masjid At Thohiriyah direnovasi besar-besaran.

Saat itu, seluruh tembok dihancurkan dan diratakan, menyisakan empat tiang di tengah masjid.

Kini, bangunan masjid melebar hingga empat kali lipat dari ukuran sebelumnya.

Dalam pembangunan tersebut, mimbar masjid juga mengalami pergeseran untuk menyesuaikan letak makam Mbah Hamimuddin.

"Jadi dibuat sejajar antara mimbar dengan makam Mbah Hamimuddin," ujar Najib Jauhari, salah satu dzurriyah Mbah Hamimuddin sekaligus dosen Sejarah di Universitas Negeri Malang (UM).

Maksud dari sejajarnya mimbar dengan makam Mbah Hamimuddin adalah untuk mengajarkan kepada jamaah agar tetap menghormati leluhur.

 Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (1), Dua Versi tentang Ki Ageng Gribig Diceritakan Turun-temurun

Ketika salat, badan jamaah memang menghadap ke makam Mbah Hamimuddin, tetapi hati dan jiwa mereka tetap menghadap kepada Allah.

Di belakang Masjid At Thohiriyah memang terdapat kompleks makam Mbah Hamimuddin dan keturunannya.

Penataan kawasan bungkuk masih mengikuti kebiasaan kerajaan, yaitu meletakkan makam di bagian belakang tempat ibadah dengan masjid sebagai pusatnya.

 Baca Juga: Melatih Anak Puasa Setengah Hari, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

Di bagian utara, berjajar permukiman pengasuh dan dzurriyah Mbah Hamimuddin.

Sementara itu, bagian selatan diperuntukkan bagi tempat tinggal para santri.

"Kalau diteliti, kebiasaan penataan kawasan seperti ini juga dilakukan pada masa kerajaan," lanjut Najib. (*/by)

Editor : A. Nugroho
#singosari #Malang Raya #Sosok #jejak penyebaran islam #Masjid At Thohiriyah Singosari