Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (12) : Butuh Dua Hari Perjalanan untuk Makamkan Eyang Djoego

Bayu Mulya Putra • Kamis, 13 Maret 2025 | 00:40 WIB

KENANG PERJUANGAN: Masyarakat di sekitar Pesarean Gunung Kawi berdoa di Pendapa Gunung Kawi dalam rangka haul Eyang Djeogo, Mei 2024 lalu (Indah Mei Yunita / Radar Malang).
KENANG PERJUANGAN: Masyarakat di sekitar Pesarean Gunung Kawi berdoa di Pendapa Gunung Kawi dalam rangka haul Eyang Djeogo, Mei 2024 lalu (Indah Mei Yunita / Radar Malang).

Dikenal sebagai salah satu laskar prajurit Pangeran Diponegoro, Eyang Djoego atau Kyai Zakaria II banyak melakukan syiar agama di daerah Blitar. Malang, dengan Pesarean Gunung Kawi sebagai makamnya turut merasakan karomahnya. Ada peran Raden Mas Imam Soedjono, murid kesayangan Eyang Djoego di dalamnya. - INDAH MEI YUNITA

RADAR MALANG - Perlu menaiki puluhan anak tangga untuk sampai ke pendapa di Pesarean Gunung Kawi.

Di dalamnya terdapat dua makam.

Yakni makam Eyang Djoego atau Kyai Zakaria II.

Serta makam Raden Mas Imam Soedjono, yang merupakan murid kesayangan atau kinasih-nya Eyang Djoego.

Pesarean tersebut saat ini dikelola Yayasan Ngesti Gondo. 

Mayoritas masyarakat percaya, meskipun telah tiada, karomah atau kemuliaan Eyang Djoego masih ada.

Sehingga berdoa di area pesareannya dipercaya lebih cepat dikabulkan. 

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (1), Dua Versi tentang Ki Ageng Gribig Diceritakan Turun-temurun

Eyang Djoego merupakan cicit dari Sri Susuhunan Paku Buwana I yang memerintah Kerajaan Mataram Islam antara tahun 1704 sampai 1719.

Ayahnya seorang ulama besar di lingkungan Keraton Kartasura pada masa itu.

Pada masa mudanya, Eyang Djoego sudah menunjukkan minat yang besar untuk mempelajari agama Islam.

Hingga akhirnya menjadi bagian dari laskar Pangeran Diponegoro.

”Eyang Djoego itu salah satu laskar prajurit Pangeran Diponegoro. Kemudian menutup identitasnya dan pergi ke arah timur (Blitar) untuk menyiarkan agama Islam,” ucap Humas Yayasan Ngesti Gondo Sri Setyowati saat ditemui di kantor Pesarean Gunung Kawi, 7 Maret lalu.

Itu terjadi sekitar tahun 1800-an.

Syiar agama yang dilakukannya dilakukan dari satu pengajian ke pengajian lainnya.

Konon, Eyang Djoego memiliki beberapa kelebihan.

Seperti mampu menyembuhkan orang sakit melalui doa-doanya.

Suatu hari, ada seseorang dari etnis Tionghoa yang sakit dan sudah berobat ke banyak tempat.

Namun, penyakitnya tidak kunjung sembuh.

Hingga akhirnya dia mencoba datang ke Eyang Djoego.

”Setelah diberi air dari gucinya, kemudian didoakan oleh Eyang Djoego, orang tersebut sembuh,” cerita Sri.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (2): Bangsawan Gowa Punya Kontribusi Besar di Ngantang

Kelebihan itu yang membuat Eyang Djoego kerap didatangi orang untuk berobat sekaligus mempelajari nilai-nilai keislaman.

Tidak hanya orang Islam saja yang datang berobat, warga dari etnis Tionghoa juga meminta bantuan Eyang Djoego untuk penyembuhan.

Mendekati hari wafatnya, Eyang Djoego berpesan kepada Raden Mas Imam Soedjono yang merupakan murid kinasih sekaligus anak angkatnya untuk dimakamkan di lereng Gunung Kawi.

”Imam Soedjono bersama pasukannya berangkat ke sini (Pesarean Gunung Kawi) dan melihatlihat lokasi. Akhirnya dilaporkan ke Eyang Djoego dan beliau setuju,” kata Tia, sapaannya.

Selang beberapa bulan kemudian, Eyang Djoego wafat di padepokannya di Desa Jugo, Kecamatan Sanan, Kabupaten Blitar.

Tepatnya pada 22 Januari 1871 pukul 01.30.

Murid-muridnya berjalan kaki membawa jenazahnya ke lereng Gunung Kawi dengan perjalanan selama dua hari.

Pada Rabu, 24 Januari 1871, rombongan tiba di lokasi.

Keesokan harinya, prosesi pemakaman dipimpin Imam Soedjono.

Pada tahun yang sama, Pesarean Gunung Kawi pun dibuka untuk umum.

Tanpa batasan status sosial, etnis, agama, maupun budaya.

Imam Soedjono menjadi penjaga sekaligus juru kunci pertama makam Eyang Djoego.

Semasa tinggal di lingkungan Pesarean Gunung Kawi, dia membantu masyarakat untuk berkebun maupun bertani.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (3): Mbah Honggo Jadi Pengajar Ngaji Bupati Malang Pertama

”Beliau (Imam Soedjono) di sini juga aktif dalam kegiatan keagamaan, seperti membangun masjid,” ucapnya.

Masjid itu terletak di sisi Pendapa Pesarean Gunung Kawi.

Ukuran bangunannya sekitar 80 meter persegi dan pada masa itu masih terbangun dari kayu.

Seperti masjid pada umumnya, masjid itu difungsikan Imam Soedjono untuk salat bersama murid-muridnya.

Solikin, salah satu warga Desa Wonosari menyebut, berdasar cerita yang didengar, pada masa itu belum banyak penduduk di lereng Gunung Kawi.

Sehingga, yang saat itu bermukim kemungkinan hanya Imam Soedjono dan muridmuridnya.

”Mungkin sekitar 1900-an, penduduk mulai berdatangan di sini,” kata Solikin yang menjabat sebagai Kasi Pelayanan Desa Wonosari.

Pada masa itu, penganut agama Islam sudah ada di sana.

Namun, masyarakat masih belum mengetahui syariat.

Islam mulai berkembang pesat di Desa Wonosari pasca Gerakan 30 September PKI (G30S PKI), sekitar tahun 1967.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (11): Tiang Penyangga Langgar Bungkuk Sudah Berusia 190 Tahun

Masjid yang didirikan Imam Soedjono menjadi satu-satunya yang digunakan masyarakat untuk beribadah.

Sebelum akhirnya, ketika pemeluk agama Islam semakin banyak, muncul masjid-masjid lainnya.

Termasuk Masjid Agung Raden Imam Soedjono yang berdiri pada 1982.

”Waktu saya umur tujuh tahun (1972), saya diajak Bapak salat Jumat di situ. Bangunannya dulu masih kayu. Itu satu-satunya masjid di sini (Desa Wonosari),” pungkas pria berusia 60 tahun itu. (*/by)

Editor : A. Nugroho
#sejarah #sejarah islam #gunung kawi