Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak penyebaran Islam di Malang Raya (17): Ganjaran, Desa Santri dengan 22 Pondok Pesantren Aktif

Fathoni Prakarsa Nanda • Selasa, 18 Maret 2025 | 00:30 WIB

KETURUNAN KETIGA: Drs Zainal Alim berada di Langgar Tengah tempat pertama kali Kiai Tombu mendirikan pesantren dan mengajarkan Islam kepada murid-muridnya.
KETURUNAN KETIGA: Drs Zainal Alim berada di Langgar Tengah tempat pertama kali Kiai Tombu mendirikan pesantren dan mengajarkan Islam kepada murid-muridnya.

Julukan Desa Ganjaran sebagai desa santri tak lepas dari peran Kiai Tombu atau KH Zainal Alim. Dia diyakini sebagai orang yang pertama kali menyebarkan ajaran Islam di desa tersebut pada akhir era 1800-an hingga 1954.

INDAH MEI YUNITA

JULUKAN desa santri sudah melekat di Desa Ganjaran, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang sejak berpuluh-puluh tahun lalu.

Ribuan santri yang tersebar di 22 pondok pesantren aktif mempelajari ajaran Islam hingga saat ini.

Salah satunya di Ponpes Zainul Ulum yang merupakan pesantren pertama di desa tersebut.

Setiap waktu hampir selalu terlihat para santri sedang mengaji.

Kondisi tersebut jauh berbeda dengan Desa Ganjaran pada era 1800-an silam.

Di bawah penjajahan Belanda, masyarakat sangat jauh dari ajaran agama Islam.

Judi, sabung ayam, bahkan pergaulan yang cenderung bebas sudah sangat mengganggu ketenteraman dan keamanan lingkungan.

Resah dengan kondisi masyarakat seperti itu, salah satu tokoh masyarakat bernama Abdul Rosyid mengunjungi Syai khona Kholil di Bangkalan, Madura.

Dia meminta dikirim seseorang yang mampu menjadi pengajar di desanya.

Akhir nya, datanglah santri bernama Tombu yang kala itu masih berusia sekitar 30 tahun.

”Pada awal beliau datang ke Desa Ganjaran malah mendapat perlawanan fisik. Karena masyarakat kala itu bukan orang berakhlak baik. Makanya mereka tidak langsung mau mengikuti ajaran beliau,” ujar Drs Zainal Alim, pengasuh Ponpes Zainul Ulum kepada Jawa Pos Radar Malang.

Tapi penolakan itu tak membuat Kiai Tombu menyerah.

Dia tetap istiqamah menyebarkan kebaikan kepada masyarakat setempat.

Caranya dengan aktif terjun ke berbagai kegiatan warga untuk mengajak mereka hidup di jalan yang benar.

Bahkan Kiai Tombu tak segan mendatangi sekelompok orang yang sedang berbuat maksiat.

Dengan perlahan dia mengajak orang-orang itu meninggalkan perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran kebaikan.

”Bisa dibilang beliau mengikuti jejak dakwah Wali Songo. Terjun langsung ke tengah masyarakat untuk mengajak berbuat ke baikan,” ucap keturunan ketiga dari Kiai Tombu itu.

Ketelatenan Kiai Tombu akhir nya membuahkan hasil.

Sedikit demi sedikit, masyarakat di Desa Ganjaran mulai mendengarkan dakwah yang dia sampaikan.

Awalnya mereka mulai merasa malu dan sembunyi-sembunyi saat melakukan perbuatan maksiat.

Lama kelamaan malah berhenti sendiri.

Kiai Tombu juga dikenal memiliki kemuliaan (karomah) tersendiri.

Misalnya ketika tentara Belanda mencoba masuk ke area pesantren.

Dikisahkan secara turun temurun, Kiai Tombu menjadi seperti tidak terlihat.

Bahkan ketika Belanda akan menyerang Desa Ganjaran, desa itu seperti menghilang atau tertutup.

”Selain dakwah bil hal (dengan perbuatan, bukan sekadar omongan), dengan karomah beliau masyarakat mulai meyakini bahwa Kiai Tombu bukan orang biasa,” kata pria berusia 59 tahun itu.

Seiring berjalannya waktu, Kiai Tombu mulai mengajarkan Islam kepada masyarakat setempat di langgar atau musala. Langgar itu terletak di sisi utara Desa Ganjaran.

Saat ini disebut sebagai langgar waqaf.

Kemudian dengan bantuan sesepuh desa dan orang berpengaruh lainnya, Kiai Tombu mendirikan Pondok Langgar Tengah.

”Saya mendapat informasi bahwa Kiai Tombu mendirikan pondok ini (Pondok Langgar Tengah) bersamaan dengan peresmian Pabrik Gula Krebet di Bululawang (sekitar 1908). Akhirnya kami tarik kesimpulan dari keluarga besar, bahwa pondok ini berdiri pada 1910,” ucapnya.

Di langgar tengah itu, penga jaran terkait Islam semakin masif.

Sehari-hari Kiai Tombu membacakan kitab, sementara santrinya mendengarkan sambil mencatat seperti pembelajaran pada umumnya.

Namun, karena keterbatasan sarana dan prasarana, pengajaran awal difokuskan pada praktik salat yang baik dan benar.

Pembelajaran Al quran pun lebih dititik beratkan pada Al-Fatihah.

Karena surat tersebut yang selalu dibaca saat salat.

Setelah beribadah haji, nama Kiai Tombu diubah menjadi Kiai Zainal Alim.

Kemudian setelah Syaikhona Kholil wafat sekitar 1935, Pondok Langgar Tengah diubah namanya menjadi Ponpes Zainul Ulum.

Nama tersebut mengikuti nama Kiai Zainal Alim.

Meskipun berganti nama, bagian-bagian penting Pondok Langgar Tengah itu masih di pertahankan hingga sekarang.

Seperti tempat imam yang saat ini digunakan sebagai musala.

Sekitar tahun1930 – 1940, santri semakin banyak berda tangan ke Ponpes Zainul Ulum.

Tak hanya dari sekitar Desa Ganjaran, ada juga santri yang datang dari Kecamatan Dampit, Gedangan, dan Donomulyo.

Rata-rata mereka lebih dulu mendapat kabar dari kerabat yang lebih dulu mondok di Ponpes Zainul Ulum.

Kiai Tombu wafat pada 1954 saat berusia 87 tahun.

Setelah itu mulai banyak ponpes yang berdiri di Desa Ganjaran.

Pada 1970-an tercatat sudah ada enam pesantren.

Rata-rata pendirinya masih satu keluarga dengan KH Zainal Alim.

“Kami saling komunikasi supaya ponpes ini tetap eksis. Bagaimana santri bisa betah dalam menuntut ilmu,” kata Zainal.

Hingga saat ini, di Desa Ganjaran terdapat 4.431 santri yang menuntut ilmu di 22 ponpes.

Mereka berasal dari berbagai daerah.

Kebanyakan berasal dari Madura dan Malang raya.

Tapi ada juga santri yang berasal dari daerah lain di Jawa, Kalimantan, dan Su matera. (*/fat)

Editor : A. Nugroho
#jejak penyebaran ajaran Islam #Malang Raya #Sosok