Jejak penyebaran Islam juga ditemukan di kaki Gunung Arjuno. Tepatnya di Dusun Jaraan, Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Keberadaan yayasan dan masjid yang didirikan KH Ismail bin Raden Arif Pakunegoro jadi buktinya. - NABILA AMELIA
RADAR MALANG - Sejak keluarga KH Ismail bin Arif Raden Pakunegoro tiba di Dusun Jaraan, Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso pada 1912, banyak perubahan yang terjadi.
Mbah Mail, sapaan karibnya, turut berkontribusi mengubah Jalan Raya Karangan di sana menjadi sebuah permukiman.
Lengkap dengan lembaga pendidikan formal dan agama.
Meski memiliki peran di Desa Donowarih, Mbah Mail sebenarnya bukan warga asli Malang.
Cucunya yang bernama Kiai Mukhlas bercerita bahwa Mbah Mail lahir pada 1901 di Demak.
Karena kehadiran Belanda, Mbah Mail bersama empat anggota keluarganya yang lain melarikan diri dari Demak.
Baca Juga: JEJAK PENYEBARAN ISLAM DI MALANG RAYA (18) : Masjid Agung An Nuur Diprakarsai Prajurit Diponegoro
Empat anggota keluarga itu meliputi ayahnya yakni Raden Arif Pakunegoro, ibunya yang bernama Umi, saudara lelaki yang bernama Abu Bakar, dan saudara perempuan.
Dalam perjalanan melarikan diri, mereka sempat berhenti di Plumpung, Pare.
Di sana, adik perempuan Mbah Mail dititipkan ke kerabat karena tidak mampu bergerak.
Selanjutnya antara tahun 1911 sampai 1912, empat anggota keluarga yang tersisa tiba di Desa Donowarih.
Tidak lama setelah tiba di Malang, Raden Arif Pakunegoro mengembuskan napas terakhir.
Setelah sang ayah meninggal dunia, Mbah Mail menjalani pendidikan agama.
Dia mengaji kepada KH Mohammad Thohir atau yang dikenal juga dengan Mbah Thohir di Pondok Pesantren Miftahul Falah.
Lokasi pesantren itu ada di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Selama mengaji dengan Mbah Thohir, Mbah Mail banyak mendapat ilmu agama.
Itu berlangsung sampai usia Mbah Mail menginjak 30-an.
”Kemudian sebelum Mbah Thohir wafat, Mbah Mail sempat diperintahkan untuk membangun masjid,” terang Kiai Mukhlas.
Baca Juga: Jejak penyebaran Islam di Malang Raya (17): Ganjaran, Desa Santri dengan 22 Pondok Pesantren Aktif
Karena perintah itu, Mbah Mail akhirnya mendirikan masjid di Desa Donowarih pada 1936.
Pendirian masjid dilakukan di lahan milik Mbah Mail yang diwakafkan.
Saat pertama kali dibangun, material yang digunakan sederhana.
Hanya berupa bambu yang dianyam.
Masjid tersebut diberi nama Masjid Al-Hidayah.
Tak hanya membangun masjid, Mbah Mail juga aktif melakukan penyebaran agama Islam.
Fokus utama Mbah Mail adalah mengajak masyarakat untuk beribadah dan membaca Alquran.
Sebab, saat itu masih banyak masyarakat yang buta aksara.
Lalu, kebanyakan masyarakat juga menganut kepercayaan abangan.
Karena menganut kepercayaan abangan, masyarakat banyak beribadah di umbulan atau dekat sumber air.
Perlahan, Mbah Mail mengajak masyarakat untuk meramaikan masjid.
Salah satunya melalui pengajian.
”Dulu yang banyak mengaji adalah orang tua. Kalau anak-anak masih jarang,” cerita Kiai Mukhlas.
Selain aktif menyebarkan Islam, Mbah Mail pernah didapuk sebagai lurah.
Itu berlangsung sampai tahun 1945.
Sebagai simbol ’pensiun’ dari jabatan pamong, di bagian atas masjid dibangun menara.
Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (16): Kampung Kauman Jadi Tempat Berbaurnya Komunitas Muslim
Pada 1945, syiar yang dilakukan Mbah Mail sempat terhambat karena kehadiran pasukan Belanda di Desa Donowarih.
Saat itu, banyak peluru yang diletakkan pasukan Belanda, termasuk di sekitar Masjid Al-Hidayah.
Karena suasana yang tidak kondusif, Mbah Mail bersama para pengikutnya bergerak ke Kecamatan Pujon.
Mereka memutuskan untuk mengungsi sementara.
Selama di Kecamatan Pujon, Mbah Mail bisa kembali melakukan penyebaran Islam.
Hal tersebut berlangsung sampai tiga tahun.
Kemudian, mereka pulang ke Desa Donowarih saat situasi sudah dinyatakan lebih kondusif.
”Saat kembali ke rumah, ada juga orang-orang dari Pujon yang akhirnya menjadi pengikut Mbah Mail. Bahkan sampai sekarang ada alumni atau santri dari sana,” imbuh Kiai Mukhlas.
Perjuangan Mbah Mail dalam penyebaran agama Islam terus berlanjut hingga 1951.
Saat itu, Mbah Mail mendirikan lembaga pendidikan.
Lembaga tersebut tidak hanya mengajarkan pendidikan agama Islam, namun juga pelajaran formal.
Sebagai bentuk keseriusan membangun lembaga pendidikan, Mbah Mail kembali menyumbangkan tanah atau wakaf.
Untuk lembaga pendidikan itu, ada tanah wakaf seluas 3.500 meter persegi.
Sementara bagian tanah lainnya ada yang diberikan kepada masyarakat setempat dan orang-orang yang bersedia menjadi pengajar di lembaga pendidikan miliknya.
Dalam membangun gedung untuk lembaga pendidikan, Mbah Mail juga meminta keturunannya agar tidak meminta sumbangan.
Sebab, saat itu masyarakat di sekitar sana bukan dari kalangan berada.
Sebagai gantinya, Mbah Mail menjual tanah lainnya demi memenuhi biaya pembangunan.
Banyak murid yang merasa terbantu dengan lembaga pendidikan Al-Hidayah.
Sebab, biaya pendidikan yang dipatok relatif terjangkau.
Sementara untuk sistem pendidikan, pada pagi hari mereka menjalani pendidikan formal.
Dilanjutkan agenda mengaji kitab mulai sore sampai malam.
”Prinsip beliau, jangan ada anak-anak di sekitar sini yang tidak bisa sekolah karena terhalang biaya,” ungkap Kiai Mukhlas.
Prinsip soal ajaran Islam dan pendidikan yang dianut Mbah Mail itu sampai kepada Kiai Mukhlas.
Kebetulan, Kiai Mukhlas sempat membantu Mbah Mail mulai tahun 1979 sampai 1994.
Dia merupakan generasi kedua sekaligus keturunan dari Solihah yang merupakan anak kedua Mbah Mail.
Baca Juga: JEJAK PENYEBARAN ISLAM DI MALANG RAYA (14) : Makam Syekh Abdul Jalil Diyakini Hanya Sebuah Petilasan
Pada 1994, Mbah Mail wafat pada usia 94 tahun.
Kini yayasan beserta lembaga pendidikan milik Mbah Mail dikelola generasi kedua.
Selain Kiai Mukhlas, ada Siti Munifah dan Ali Ahmad yang turut membantu mengelola.
”Kalau ditotal dari jenjang PAUD sampai SMA sekarang kami memiliki 1.600-an murid,” tandasnya. (*/by)
Editor : A. Nugroho