Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (26) : Lanjutkan Dakwah Suami, Nyai Rohmah Dirikan Ponpes

Bayu Mulya Putra • Rabu, 26 Maret 2025 | 19:38 WIB

GENERASI KETIGA: Ahmad Syifaurrahman menunjukkan foto KH Muhammad Syifa’ dan Nyai Rohmah Noor Syifa’, kakek dan neneknya di Ponpes Nurul Ulum, Senin lalu (24/3) (Nabila Amelia/ Radar Malang).
GENERASI KETIGA: Ahmad Syifaurrahman menunjukkan foto KH Muhammad Syifa’ dan Nyai Rohmah Noor Syifa’, kakek dan neneknya di Ponpes Nurul Ulum, Senin lalu (24/3) (Nabila Amelia/ Radar Malang).

Setelah dipinang KH Muhammad Syifa’, Nyai Rohmah Noor Syifa’ semakin serius mempelajari Islam. Saat sang suami wafat, dia lah yang melanjutkan dakwah dan syiar. Nyai Rohmah melakukannya dengan mendirikan Pesantren Nurul Ulum atau Pondok Kacuk. - NABILA AMELIA

RADAR MALANG - KIPRAH mubaligh perempuan di Jawa Timur sebelum era 2000-an sulit dilacak.

Salah satu nama yang cukup familiar yakni Nyai Rohmah Noor Syifa’.

Beliau adalah pendiri Pesantren Nurul Ulum atau Pondok Kacuk di Kelurahan Kebonsari, Kecamatan Sukun.

TAK hanya mendirikan pesantren, Nyai Rohmah juga melakukan syiar.

Kesadaran untuk menyebarkan agama Islam itu terinspirasi dari suaminya, KH Muhammad Syifa’.

Sang suami sudah terlebih dahulu berdakwah sebelum tahun 1950-an.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (25), Tukang Becak Ikut Mengaji ke KH Badrussalam

Semasa hidup, KH Muhammad Syifa’ dikenal sebagai putra kiai dari Pasuruan.

Dia juga mengikuti jejak kakaknya, Kiai Abdul Mu’thi, yang menyebarkan Islam di Kasin dan sekitarnya.

Sebelum menjadi pendakwah, KH Muhammad Syifa’ memperdalam ilmu agama di Pondok Panji Buduran, Sidoarjo.

Di sana, KH Muhammad Syifa’ berkawan dengan sejumlah kiai karismatik.

Seperti KH Moh. Said yang merupakan pendiri Pondok Pesantren PPAI Ketapang.

Lalu ada anggota Laskar Hizbullah yang bernama Kiai Umar Ma’sum.

Selama mempelajari Islam di Sidoarjo, KH Muhammad Syifa’ memiliki banyak prestasi.

Beliau l sempat berkeinginan untuk tidak menikah dan mengabdikan diri kepada gurunya di pesantren.

Namun karena prestasi yang dimiliki, Kiai Umar Ma’sum tertarik menjodohkan KH Muhammad Syifa’ dengan adiknya yakni Nyai Rohmah.

Tawaran tersebut akhirnya diterima KH Muhammad Syifa’.

Padahal, perbedaan usia antara KH Muhammad Syifa’ dengan Nyai Rohmah terbilang jauh.

”Saat menikah, Kiai Syifa’ berusia 44 tahun. Sementara Nyai Rohmah masih umur belasan tahun,” cerita cucu Nyai Rohmah dari anak kedua, Ahmad Syifaurrahman.

Baca Juga: Jejak Peninggalan Islam di Malang Raya (24): Dakwah Kiai Tamin Dilanjutkan Lima Kiai di Masjid Noor

Setelah resmi menikah, KH Muhammad Syifa’ memboyong Nyai Rohmah untuk tinggal bersama.

Sempat tinggal di Pasuruan, tapi tidak lama.

Keduanya lantas menetap di Kebonsari.

Dengan perbedaan umur yang mencapai puluhan tahun, KH Muhammad Syifa’ layaknya bapak bagi Nyai Rohmah.

Dia selalu bersikap lembut dan ngemong.

Tak pernah memaksa Nyai Rohmah untuk mempelajari Islam secara berlebihan.

KH Muhammad Syifa’ juga banyak menekankan kebiasaan-kebiasaan baik.

Salah satunya adalah istiqamah dalam menjalankan qiyamul lail atau salat malam.

Dimulai dengan mengajak Nyai Rohmah untuk menemani ber-wudhu di sungai setiap malam.

Melihat Nyai Rohmah yang mampu beradaptasi, KH Muhammad Syifa’ menambah porsi kebiasaan baru.

Dia meminta Nyai Rohmah tidak sekadar menemani wudhu, tapi sambil berdzikir menggunakan tasbih.

”Dari sana, Nyai Rohmah akhirnya juga ikut salat malam,” terang Ahmad.

Selain membimbing Nyai Rohmah, KH Muhammad Syifa’ juga tetap melakukan syiar.

Awalnya, dia mengajar ngaji dari satu rumah ke rumah lain.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (23), Kiai Tar Mondok di Empat Tempat sebelum Lakukan Syiar

Namun, orang yang mengaji bersamanya semakin banyak.

Ada yang berasal dari Wagir.

Mereka datang jauh-jauh menggunakan kuda untuk mengaji dengan KH Muhammad Syifa’.

Melihat animo masyarakat untuk mengaji, KH Muhammad Syifa’ memutuskan untuk mengadakan pengajian di satu tempat.

Yakni musala kecil yang dekat dengan rumahnya.

Sayangnya pada 22 Desember 1954, KH Muhammad Syifa’ wafat.

Saat beliau wafat, Nyai Rohmah sedang mengandung anak keduanya, Muhammad Kamal Fauzi.

Sementara anak pertamanya adalah Kholifatus Zahro.

Sembari membesarkan kedua anaknya, Nyai Rohmah memutuskan untuk melanjutkan majelis yang sudah dibina KH Muhammad Syifa’.

Itu karena Nyai Rohmah mendapat mimpi.

Setelah bermimpi, Nyai Rohmah berkonsultasi dengan beberapa kiai.

”Dari penafsiran beberapa kiai, mimpi tersebut berarti Nyai Rohmah diminta membangun pesantren,” ungkap Ahmad.

Pesantren yang dibangun Nyai Rohmah diberi nama Nurul Ulum.

Ada dua bangunan dengan material anyaman bambu yang digunakan.

Bangunan pertama untuk majelis.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (21) : KH Moh. Said Ikut Menggembleng Dua Laskar

Sementara satu lagi bangunan yang disediakan bagi santriwati yang ingin beristirahat jika sudah larut malam.

Di pesantren, Nyai Rohmah menerapkan pendidikan dengan konsep sorogan.

Yakni pembelajaran kitab secara individual di pesantren salaf.

Selain itu, juga bandongan atau metode yang kitabnya dibacakan oleh pengajar.

Dalam memberikan pengajaran Islam, Nyai Rohmah mengadopsi beberapa konsep.

Seperti pengajaran yang dilakukan suaminya semasa hidup.

Selain itu, ilmu-ilmu yang didapatkan selama menuntut ilmu di Madrasah Muslimat Nahdlatul Ulama dan tarekat khalwatiyah yang merupakan warisan pengajaran dari Pondok Pesantren PPAI Ketapang.

”Jadi tarekat yang dipelajari Nyai Rohmah itu berupa ngaji dan dzikir sembari menyepi (khalwat),” terang Ahmad.

Saking kuatnya keinginan untuk berdakwah, Nyai Rohmah rutin menggelar ’razia’.

Itu dilakukan dengan cara keliling kampung.

Lalu mengajak anak-anak yang tidak bekerja atau tidak sekolah agar pergi menuntut ilmu.

Dia tidak memungut biaya kepada anak-anak yang diajaknya.

Agar pesantren tetap beroperasi, Nyai Rohmah rela hidup sederhana.

Setiap ada kain batik yang layak jual, beliau akan langsung menjualnya.

iBaca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (20): Embong Arab Jadi Penanda Dakwah Warga Yaman

Lalu hasil penjualan dibelikan pasir dan material bangunan lainnya untuk pengembangan pesantren.

Bentuk pengembangan yang dilakukan berupa pendirian madrasah tsanawiyah hingga madrasah aliyah.

Pesantren yang awalnya berdiri di atas tanah pribadi tersebut juga beralih status menjadi wakaf pada 1990.

Para santriwati didikan Nyai Rohmah banyak yang melakukan syiar melalui organisasi Muslimat NU.

Sebab, tidak semua santrinya memiliki kemampuan untuk mendirikan pondok.

Penguatan nilai-nilai Islami tidak hanya dilakukan kepada santriwati, namun juga santri.

Itu semakin gencar setelah anak keduanya Muhammad Kamal Fauzi rampung belajar ilmu agama di sebuah pesantren di Kudus.

Selanjutnya, Nyai Rohmah turut menambah bangunan untuk santri.

Perjuangan lain yang diteladani keluarga adalah saat Nyai Rohmah memberi dukungan penuh terhadap dua pesantren.

Yakni Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-‘Ulya dan Pesantren An-Nuriyah.

Meski berada di dalam area Pesantren Nurul Ulum, dua pesantren itu justru tidak menjadi saingan.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (19) : Syiar Mbah Mail lewat Lembaga Pendidikan Terus Berjalan

Ketiga pesantren saling membantu untuk mendidik masyarakat setempat.

”Karena status Nyai Rohmah yang seorang perempuan kan jadi ada keterbatasan tertentu dalam penyebaran Islam secara luas,” imbuh Ahmad.

Pada 21 September 1994, Nyai Rohmah wafat pada usia yang ke-66.

Beliau dimakamkan di lingkungan pondok pesantren.

Dakwahnya tetap dilanjutkan oleh menantu seperti KH Ahmad Suyuthi Dahlan dan banyak lainnya. (*/by)

Editor : A. Nugroho
#sejarah islam #jejak islam #pesantren #malang #dakwah