Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Jejak penyebaran Islam di Malang Raya (29): Beberapa Didikan KH Anwar Nur Jadi Ulama Kondang

Bayu Mulya Putra • Minggu, 30 Maret 2025 | 07:02 WIB

BANYAK JASA : Moh. Hasan R., salah satu pengurus pondok pesantren (ponpes) menunjukkan makam KH anwar nur di dalam ponpes an-nur 1, kemarin (28/3).
BANYAK JASA : Moh. Hasan R., salah satu pengurus pondok pesantren (ponpes) menunjukkan makam KH anwar nur di dalam ponpes an-nur 1, kemarin (28/3).

Sebelum masa kemerdekaan, Islam sudah banyak berkembang di Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang. Syiar berlanjut dengan berdirinya beberapa lembaga pendidikan keagamaan. Jejak dan dakwahnya terus terjaga sampai saat ini.

NABILA AMELIA

DI sepanjang Jalan Raya Dipo ne goro sampai Jalan Raya Bululawang, ada beberapa lembaga pendidikan Islam.

Tujuh di antaranya berada di bawah naungan yayasan yang sama, yakni Yayasan Pondok Pesantren (YPP) An-Nur. Lokasinya juga berdekatan.

Selain lembaga pendidikan, ada perkampungan Islam.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (28) Syiar dari Ulama Surabaya Tetap Berlanjut di Jabung

Letaknya di Jalan Dipo negoro IV, Kecamatan Bulu lawang.

Dijuluki Kampung Haji karena sejak sebelum ke merdekaan, seluruh keluarga di sana sudah pergi ke Makkah untuk beribadah.

Menurut cerita KH Hasan, terbentuknya Kampung Haji dimulai dari kedatangan Singo Yudho atau Syekh Abdurrah man Suryo Negoro.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (27) Desa Ngadas Jadi Simbol Keberagaman Agama

Sekitar tahun 1830, Singo Yudho datang ke Bululawang dan memutuskan untuk menetap.

Itu dilakukan karena kondisi Keraton Yogyakarta tidak kondusif setelah Perang Jawa.

Banyak pasukan Pangeran Diponegoro, termasuk Singo Yudo yang melarikan diri ke berbagai daerah seperti Malang.

”Semula mbah Singo Yudo tinggal di Desa Wandapuro, Kecamatan Bululawang. Lalu pindah ke Desa Bululawang,” terang Hasan.

Setelah pindah, Singo Yudho melanjutkan kehidupan hingga memiliki empat anak laki-laki dan satu anak perempuan.

Di samping itu, Singo Yudo juga melakukan penyebaran Islam.

Memasuki tahun 1930-an, datang seorang pendakwah bernama KH Anwar Nur.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (26) : Lanjutkan Dakwah Suami, Nyai Rohmah Dirikan Ponpes

Dia berasal dari Dusun Plampang, Desa Sumber Taman, Keca matan Wono Asih, Kabupaten Probolinggo.

Sejak anak-anak, KH Anwar Nur dididik ayahnya, yakni KH Muhammad Nuruddin untuk mendalami ilmu agama.

Seperti membaca Al quran dan kitab-kitab lainnya.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (25), Tukang Becak Ikut Mengaji ke KH Badrussalam

Melalui didikan ayahnya, KH Anwar Nur tumbuh menjadi remaja yang gemar mempelajari ilmu agama.

Dia lantas dikirim untuk belajar ke beberapa pondok.

Mulai dari Pondok Pesantren Bladu di Kecamatan Banyu Anyar, Kabupaten Probolinggo.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (23), Kiai Tar Mondok di Empat Tempat sebelum Lakukan Syiar

Di sana dia dididik pamannya yang bernama KH Fathulloh Umar.

Selepas dari sana, KH Anwar Nur melanjutkan mondok di Pondok Pesantren Sono di Kecamatan Buduran, Kabupa ten Sidoarjo.

Kemudian mondok lagi di Pondok Pesantren Sifdogiri di Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan hingga Pondok Pesantren Siwalanpanji di Kecamatan Buduran, Kabu paten Sidoarjo.

Saat berada di Pondok Pesantren Siwalanpanji, KH Anwar Nur mendapat amanah untuk menyebarkan ilmu agama yang dimilikinya.

Kiai kelahiran tahun 1912 itu lantas mengembara hingga ke Kabupaten Malang.

Sebelum tiba di Desa Bulu lawang, KH Anwar Nur sempat singgah di Desa Ganjaran, Kecamatan Gondanglegi.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (21) : KH Moh. Said Ikut Menggembleng Dua Laskar

”Beliau mengajar agama di sana kurang lebih selama dua tahun,” cerita Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur 2 sekaligus cucu KH Anwar Nur yang bernama KH Fathul Bari.

Sekitar tahun 1938, KH Anwar Nur bertemu dengan keturu nan Singo Yudho yang bernama Kiai Hasan.

Oleh keturunan Singo Yudho, KH Anwar Nur dijodohkan dengan anaknya yang bernama Marwiyah binti haji Hasan bin H Abdurrasyid.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (20): Embong Arab Jadi Penanda Dakwah Warga Yaman

Marwiyah merupakan putri Aminah binti H Murtadho bin Singo Yudho, atau cucu dari anak pertama Singo Yudho, H Murtadho bin Singo Yudho.

Setelah menikah, KH Anwar Nur bersama istrinya diminta untuk tinggal di kediaman yang ada di Kampung Haji.

Kediaman tersebut sudah ada sejak 1922 dan sekarang dikenal dengan ndalem kasepuhan.

Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (19) : Syiar Mbah Mail lewat Lembaga Pendidikan Terus Berjalan

Lokasi kediaman itu berada di Pondok Pesantren An-Nur 1.

Meski sudah menikah, KH Anwar Nur tetap meneruskan syiar yang sudah dilakukan sebelumnya.

Yakni dengan mengajar ngaji di beranda kediamannya.

Banyak warga setempat, terutama dari Kampung Haji yang datang kepadanya untuk mengaji.

Selain itu, KH Anwar Nur juga berkeliling untuk dakwah sembari menjajakan jamu.

”Walaupun sebenarnya sudah berkecukupan karena menikah dengan anak orang kaya, tapi beliau tetap menjalankan tanggung jawab sebagai kepala keluarga,” kata KH Fathul Bari.

Kendati banyak warga sudah memeluk Islam sejak lama dan pergi haji, syiar yang dilakukan KH Anwar Nur tidak mendapat pertentangan.

Mereka tidak merasa digurui oleh KH Anwar Nur.

Sebaliknya, warga malah mengusulkan agar KH Anwar Nur membangun langgar atau musala.

Gayung pun bersambut.

Pada tahun 1942, KH Anwar Nur memutuskan untuk membangun langgar.

Langgar tersebut terletak di sebelah barat rumah.

Di sana juga dilengkapi dengan bilik atau kamar kecil.

Seiring berjalannya waktu, orang-orang yang berguru ke KH Anwar Nur semakin banyak.

Mereka datang dari berbagai daerah di Jawa Timur.

Di tengah perjalanan mendidik para santri dan warga sekitar, KH Anwar Nur juga sempat mendapat tantangan.

Tepatnya saat masa Agresi Militer I dan Agresi Militer II.

Karena kekacauan yang diakibatkan pasukan Belanda, keluarganya sempat mengungsi ke Desa Ganjaran.Baca Juga: Jejak Penyebaran Islam di Malang Raya (12) : Butuh Dua Hari Perjalanan untuk Makamkan Eyang Djoego

Sebagian santri juga harus dipulangkan.

Sementara santri yang tersisa dan KH Anwar Nur tetap menjaga pondok pesantren sampai kondisi benar-benar pulih.

Pada 1952, KH Anwar Nur resmi mendirikan pondok.

Baca Juga: JEJAK PENYEBARAN ISLAM DI MALANG RAYA (18) : Masjid Agung An Nuur Diprakarsai Prajurit Diponegoro

Atas nama seorang warga, pondok tersebut diberi nama An-Nur yang merupakan kependekan dari nama KH Anwar Nur.

Dari pondok pesantren, KH Anwar Nur mulai mengembangkan lembaga pendidikan lain.

Mulai dari madrasah hingga sekolah formal.

Baca Juga: Jejak penyebaran Islam di Malang Raya (17): Ganjaran, Desa Santri dengan 22 Pondok Pesantren Aktif

Hal tersebut berlangsung mulai tahun 1965.

Lembaga pendidikan Islam yang didirikan pun tidak hanya ada di Kabupaten Malang.

Ketujuh anak KH Anwar Nur turut mengembangkan pondok pesantren hingga ke Pasuruan.

 

”Di beberapa lembaga pendidikan itu, santri dan siswa diajarkan kitab-kitab klasik dan kurikulum pendidikan Islam,” sebut KH Fathul Bari.

Banyak hasil jebolan Pondok Pesantren An-Nur yang menjadi ulama-ulama kondang.

Salah satunya adalah mantan Ke tua PBNU KH Hasyim Muzadi.

Pada 1975, KH Anwar Nur wafat.

Karena perannya dalam penyebaran Islam di Ke camatan Bululawang, banyak orang-orang yang merasa kehilangan.

KH Anwar Nur punya gaya disiplin dalam beribadah.

Ketika hendak salat, KH Anwar Nur selalu memukul kentongan dari besi untuk mengingatkan orang-orang.

”Suaranya nyaring. Kalau orang-orang dulu bilangnya terdengar sampai seantero kecamatan,” tandas dia. (*/by)

Editor : A. Nugroho
#Syiar #pendakwah #Ponpes #Bululawang #islam #malang