Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Cerita Alumnus UM Sofie Imam Faizal Menjadi Asisten Pelatih Fisik Timnas: Sempat Ikut Seleksi Persema, Jadi Pramusaji untuk Modal Lisensi

Bayu Mulya Putra • Jumat, 4 April 2025 | 17:02 WIB

PENUH DEDIKASI: Sofie Imam Faizal bersiap mengawal sesi latihan penggawa Timnas di Australia, beberapa waktu lalu.
PENUH DEDIKASI: Sofie Imam Faizal bersiap mengawal sesi latihan penggawa Timnas di Australia, beberapa waktu lalu.

Sebelum mendapat kepercayaan dari Shin Tae Yong dan Patrick Kluivert, ada perjuangan panjang yang dilakukan Sofie Imam Faizal. Langkah profesionalnya dimulai saat dia berkuliah di Universitas Negeri Malang (UM). Menjadi pramusaji di sebuah restoran sempat dia jalani agar mendapat modal untuk daftar lisensi kepelatihan.

MA. FAUZAN AL RIYADH PANJAITAN

TITIK balik karier Sofie Imam Faizal terjadi pada 2006.

Saat usianya menginjak 18 tahun, dia memutuskan untuk melanjutkan studi di Universitas Negeri Malang (UM).

Sosok yang kini berusia 37 tahun itu mengambil Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK).

Dia masuk melalui jalur prestasi.

Sebelumnya, seperti anak laki laki yang suka sepak bola, dia punya mimpi menjadi pesepak bola.

Sofie sempat mengikuti seleksi di Tim Persema Malang.

Namun, pria yang kini juga menjadi Pelatih Fisik Timnas U17 itu tak lolos.

Sejak saat itu dia memutuskan untuk berkuliah.

Di sana lah dia bergabung dengan klub sepak bola internal UM.

Sofie juga sempat mengikuti turna menyang digelar PSSI Kota Malang.

Sejak berkuliah, mimpinya tentang sepak bola terbangun ulang.

Banyaknya mata kuliah yang dia dapatkan memberi gambaran baru.

Mulai dari ilmu fisiologi, ilmu gizi, hingga kepelatihan berdampak pada mindset Sofie.

Keinginan menjadi pelatih tiba-tiba muncul dalam benak nya.

Momen itu terjadi pada 2009 ketika dia ditawari melatih tim sepak bola Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) di turnamen antar fakultas yang digelar UM.

Itu menjadi momen pertamanya melatih tim.

”Saat itu FIP tidak di unggulkan. Tapi pas saya melatih pertama kali, bisa lolos dari fase grup hingga semifinal,” kenang dia.

Kiprah perdananya terhenti oleh fakultasnya sendiri.

Hasil apik itu memberinya suntikan semangat untuk berani mengambil pekerjaan sebagai pelatih.

Dia mulai menjajal melatih anak-anak kelompok umur di berbagai akademi di Malang.

Akademi itu biasanya mengikuti turnamen sepak bola tingkat lokal.

Untuk menupgrade ilmu melatihnya, dia mencari modal untuk mendaftar lisensi kepelatihan D.

”Saya saat itu nyambi kerja sebagai pramusaji di salah satu restoran di Jalan Terusan Surabaya,” kata dia.

Passionnya sebagai pelatih mendapat perhatian dari sejumlah dosen.

Dosen mata kuliah sepak bola sekaligus pembimbing nya saat itu memberi banyak saran mengenai rencana masa depannya.

Begitu pula dengan salah satu asisten dosen ilmu gizi.

Dia mendapat katakata yang hingga sekarang diingatnya.

”Kamu ini saya lihat lihat cocok menjadi pelatih. Jadi saya pikir rezeki kamu di situ,” kata Sofie menirukan ucapan Tapriadi, asisten dosen ilmu gizi di FIK UM.

Kalimat itu membuat Sofie semakin bersemangat menekuni bidang kepelatihan.

Selepas lulus kuliah pada 2010, Sofie memiliki satu misi.

Yakni melatih suatu tim.

Berbekal lisensi kepelatihan C, dia berkelana untuk mencari pengalaman.

Awalnya, dia menjadi pelatih akademi GenB Mojokerto selama dua tahun.

Setelah hengkang dari tim itu, dia berpikir untuk menjadi pelatih dengan keahlian spesifik.

”Saat itu terpikir apa yang saya dapatkan dari perkuliahan kalau pelatih fisik itu lebih spesifik. Tidak banyak, apalagi yang berlisensi di Indonesia,” kata pria asal Situbondo, Jawa Timur itu.

Berangkat dari itu, dia banting setir dari pelatih general ke pelatih fisik sejak 2014.

Tim pertama yang menjadi naungannya adalah Perseta Tulungagung U14.

Perlahan, dia naik ke tim senior.

Seperti Perserang Serang, Perssu Madura City, hingga Persepam Pamekasan.

Pada 2018, dia dipekerjakan Tim Persiba Balik papan.

Setelah dia, Sofie menerima pinangan tim putri Kalimantan Barat untuk mengikuti Kompetisi Pertiwi Cup.

Setelah berhasil membawa tim itu ke babak final, dia mendapat tawaran untuk melatih Timnas Putri.

”Alasannya karena saya tahu secara adaptasi dan ke biasaan pemain putri dari Pertiwi Cup. Apalagi saat itu bertepatan timnas putri baru dibentuk,” kata Sofie.

Dia mengambil ke sempatan emas itu.

Saat itu, dia juga mengantongi lisensi Fitness level 1A dan 1B.

Sertifikasi itu dibutuhkan untuk mengikuti Piala Asia.

Pada 2019, dia ditarik PSSI untuk bergabung ke tim U19.

Tak lama berselang, dia secara mengejutkan pindah ke tim dari Malaysia Super League, Sabah FC.

”Saat itu posisi masa depan kami masih 50:50 ketika Coach Shin TaeYong datang melatih timnas. Jadi Kurniawan Dwi mengajak saya untuk ikut ke negeri jiran,” kisah dia.

Menariknya, saat itu terselip cerita bahwa dia sedang diincar oleh sejumlah klub dari Liga 1.

”Kabarnya yang sedang hangat saat itu Tim Persebaya,” tambah dia.

Namun, pada akhir nya Sofie memilih Sabah FC.

Kesempatan berkarier di luar negeri merupakan kesempatan emas yang tidak ingin dilewatkannya.

Dua tahun mendapat pengalaman di sana, Sofie memutuskan untuk kembali ke tanah air.

Dia bergabung dengan Tim Persis Solo selama satu musim.

Baru pada 2023, dia mendapat panggilan ke timnas U23 besutan Shin TaeYong untuk melatih kebugaran pemain.

Selama kurun waktu itu, dia juga diamanahi sebagai pelatih fisik Timnas U17 hingga timnas senior.

Pada 2024, dia hanya fokus menjadi pelatih fisik untuk Timnas U17 dan U16, menemani Pelatih Kepala Nova Arianto.

Baru pada 2025 ini, dia dipercaya menjadi satu dari delapan pelatih lokal yang di panggil wawancara oleh Patrick Kluivert.

”Ya ketika di undang biasa saja, cuma sharing-sharing saja apa yang menjadi pandangan saya sebagai pelatih fisik,” papar dia.

Saat itu dia tidak berekspektasi besar.

Apalagi, banyak di antara kandidat lainnya yang cukup mumpuni.

Namun tampaknya idiom rezeki tidak akan ke mana cukup cocok untuk Sofie.

Berkat pengalaman dan CV nya, dia resmi ditunjuk menjadi bagian di timnas senior sebagai asisten pelatih fisik pada 1 Maret 2025 lalu.

”Ya alhamdulillah Mas saya memenuhi ekspektasi beliau (Patrick Kluivert),” ujar dia.

Selama di timnas senior, Sofie mendapat banyak pengalaman berkesan.

”Yang paling menarik ada lah ketika saya merasakan dua pelatih berbeda. Sebab, setiap pelatih memiliki karakteristik permainan dan taktik yang berbeda,” papar pelatih yang kini berlisensi AFC Fitness Level 2B itu.

Pria berusia 37 tahun itu menjelaskan, bila tim condong bertahan, ada program latihan tertentu untuk menaikkan kapasitas otot beberapa bagian tubuh pemain.

Begitu pula saat tim condong bermain aktif.

Itu yang dia rasakan ketika di bawah komando Shin Tae Yong dan Patrick Kluivert.

Mimpi berkarier di luar negeri tidak hanya untuk diri nya sendiri.

Sebab, dari sana dia bisa mempelajari karakter, pemain, hingga ilmu ke pelatihan fisik dari tempat lain.

Selanjutnya, dia ingin mentransfer ilmu kepada pelatih dan kawan-kawan nya di Indonesia. (*/by)

Editor : Aditya Novrian
#Sofie Imam Faizal #Pelatih Fisik Timnas #Sosok