GHEA Safferina Adany menikah dengan M. Luqman Hanif pada 2015.
Di usianya yang masih 20 tahun saat itu, keputusan untuk menikah terbilang berat.
Sebab, masih banyak keinginan yang ingin ia wujudkan.
Seperti hidup santai sejenak, mengembangkan karier, hingga mengisi blog atau jurnal online.
Tak lama setelah menikah, Ghea dan suaminya dikaruniai buah hati.
Sebagai ibu, Ghea tentunya ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga.
Termasuk pendidikan yang sesuai dengan pertumbuhan anak sulungnya.
Saat anaknya berusia enam bulan, timbul inisiatif untuk membuat permainan edukasi.
Pertama kali, permainan yang dibuat berupa contrast card untuk merangsang visual anak.
Kebetulan Ghea sudah menekuni desain sejak masih menempuh pendidikan di SMK Telkom Malang.
Karena itu, membuat desain bukan hal yang terlalu sulit bagi dirinya.
Setelah contrast card selesai dibuat, Ghea iseng mengunggah permainan edukasi tersebut ke akun media sosialnya.
Tidak disangka, banyak teman dan pengguna media sosial yang tertarik.
Sebagian besar bertanya apakah bisa mendapatkan permainan seperti itu.
Tentu Ghea tak keberatan.
Dia mengirim file permainan itu ke orang yang meminta agar bisa dicetak sendiri.
Tapi orang-orang yang dikirimi file itu merasa kurang sreg.
Malah, mereka meminta Ghea menjual permainan tersebut.
Permintaan itu malah melahirkan ide bisnis.
Ghea mencoba membuka toko secara online yang diberi nama Wuffyland.
Di luar dugaan, sambutan masyarakat terhadap permainan edukasi buatan Ghea cukup tinggi.
Apalagi harganya tidak terlalu mahal.
Belasan ribu hingga ratusan ribu rupiah saja.
Seiring berjalannya waktu, jenis permainan yang dijual semakin banyak.
Ghea merasa terbantu dengan permintaan custom dari para pembeli yang turut menambah variasi permainan.
Ada poster Montessori edukatif, worksheet, belajar menghitung menggunakan kancing, permainan mencari pasangan gambar, buku pengenalan kata, poster edukasi, permainan alfabet, dan banyak lainnya.
”Puncak penjualan terjadi pada waktu pandemi. Mungkin karena orang lebih banyak di rumah,” ungkap perempuan berusia 30 tahun tersebut.
Saat itu, mainan buatan Ghea dikenal orang melalui beberapa cara.
Ada yang sebatas getok tular, ada pula yang didukung review positif para pembeli.
Menurut para pembeli, mainan buatan Ghea bisa menumbuhkan kedekatan antara orang tua dan anak-anak.
Untuk bisa bersaing dengan produsen permainan edukasi lainnya, Ghea terus berinovasi dengan modal pendidikan desain.
Saat masih bersekolah, Ghea memang banyak menekuni desain.
Berbeda dengan teman-teman lainnya yang cenderung ke arah teknologi informasi (IT).
Visual produk permainan pun semakin disesuaikan dengan kebutuhan ma Ghea juga mencari cara agar produk buatannya tidak mudah rusak.
Misalnya dengan memilih kertas atau material yang kuat.
Kemudian diberi tambahan menggunakan laminating.
”Banyak review dari pembeli yang menyatakan mainan itu awet. Kebanyakan bisa anak pertama sampai anak berikutnya,” ungkap dia.
Selain produk jadi, ada pula permainan digital yang dikembangkan Ghea bersama timnya.
Kalau ditotal, saat ini sudah ada hampir 400 permainan yang dijual di situs resmi Wuffyland.
Ada pula inovasi berupa majalah hingga hampers untuk anak-anak.
Pada tahun 2022, Ghea berusaha mengembangkan produknya hingga ke offline store.
Tapi, pada saat bersamaan dia dengan kehadiran anak kedua yang lahir tahun 2021.
Ghea tetap ingin merawat dua anaknya sembari mencari waktu untuk bersantai.
Karena itu, muncul ide untuk membuat Wuffyspace.
Sebuah kafe yang memiliki konsep ramah anak dan dilengkapi dengan playground.
”Kafenya saya buat untuk menjawab kebutuhan pribadi. Kebetulan saya senang bertemu teman. Tapi kalau di kafe biasa kan tidak ada permainannya,” jelas Ghea.
Wuffyspace pertama ada di Jalan Locari, Kelurahan Lowokwaru, Kecamatan Lowokwaru.
Lokasinya masuk ke dalam gang agar tidak bersentuhan langsung dengan jalan raya.
Di sana, Ghea menjual berbagai makanan, minuman, dan produk permainan Wuffyland.
Wuffyspace juga dilengkapi dengan kelas yang diperuntukkan bagi orang tua maupun anak.
Mulai kelas menari, memasak, cerita, storytelling, robotik, hingga motorik.
Ada pula alat dan tempat olahraga pound fit untuk para ibu.
Yang membuat Ghea senang, banyak ibu yang mengaku merasakan manfaat Wuffyspace.
sBaca Juga: Kiprah Pengacara Dr Yayan Riyanto SH MH di Usia 52 Tahun Tak Menyerah untuk Terus Kembangkan Karier
Salah seorang pelanggannya bahkan pernah bercerita tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri setelah menikah.
Termasuk melanjutkan kegemarannya dalam berolahraga. Kemudian, dia menemukan Wuffyspace yang memiliki kelas pound fit.
Sejak saat itu, sang pelanggan bisa berkegiatan sembari mengajak anak dengan berkunjung ke Wuffyspace.
Memasuki tahun 2023, permintaan pasar semakin meningkat.
Ada customer dari daerah lain yang meminta Wuffyspace di daerahnya.
Karena itu, Ghea bersama suami akhirnya mengembangkan Wuffyspace ke Bantul, Jakarta, Yogyakarta, Kediri, hingga Surabaya.
”Tantangannya, kami harus memanage cabang di luar Malang. Untungnya kami terbantu dengan tim-tim di luar kota,” imbuh anak pertama dari tiga bersaudara itu.
Seiring dengan perkembangan produk permainan maupun kafe, Ghea juga banyak berkolaborasi dengan ahli.
Terutama ahli pendidikan maupun psikolog.
Tujuannya untuk melakukan pengembangan dan menyesuaikan kebutuhan anak-anak.
Dalam waktu dekat, Ghea berencana memperdalam metode pendidikan Montessori yang mengedepankan kemandirian dan kebebasan anak dalam belajar.
Sebab dia ingin menciptakan lingkungan yang lebih ramah anak. (*/fat)
Editor : Aditya Novrian