Kepiawaian Lukman Agus Firmawan memainkan didgeridoo mulai mendapat pengakuan. Pada 15 Mei lalu, pria asal Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang itu mendapat undangan untuk tampil di Istana Negara. Dia membawakan alat musik khas Australia itu di depan Presiden RI dan Perdana Menteri Negeri Kanguru.
BIYAN MUDZAKY HANINDITO
Di dunia seni, nama Lukman Agus Firmawan tidak begitu dikenal.
Sebab, pria berusia 50 tahun itu lebih familiar dengan nama Joko Tebon.
”Orangorang lebih mengenal saya sebagai pelukis kopi, tapi sekarang serius menekuni musik, terutama didgeridoo ini,” kata dia, Sabtu lalu (17/5).
Sabtu itu, dia berada di Ranupani, Lumajang untuk memberikan pelatihan eco print kepada sekelompok mahasiswa.
Pagi harinya, dia baru saja tiba dari Jakarta.
Dia diminta untuk memainkan didgeridoo di depan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese MP, 15 Mei lalu.
Didgeridoo merupakan alat musik tiup khas Australia bagian utara.
Namun ukurannya lebih besar dan panjang.
Kesempatan memainkan alat musik itu di Jakarta menjadi istimewa karena dilakukan di sela-sela pertemuan kenegaraan dengan beberapa agenda pembahasan penting antar-dua negara.
Selama ini, jadwal manggung dan segala pernak-perniknya di-handle atau dimanajeri oleh istrinya, Siti Nurvianti.
Dia tidak bermain sendirian saat tampil.
Melainkan bersama Riyanto Orkestra by Deo Entertainment, Jakarta.
”Deo itu yang menghubungi istri saya, katanya membutuhkan orang yang bisa bermain didgeridoo. Lalu ditawarilah saya, dan saya iyakan,” tutur Joko.
Didgeridoo yang dimainkan Joko menghasilkan resonansi mistik khas yang memikat.
Berpadu dengan orkestra dan menciptakan pengalaman musikal yang menyentuh dan penuh makna.
Dia tidak mengingat berapa lagu yang dia mainkan malam itu.
”Pokoknya ada lagu Indonesia dan tradisional Australia,” kata dia.
Harus tampil di depan pejabat tinggi, ada banyak aturan yang harus diikutinya.
Selain rundown yang ketat, ada ketentuan pakaian dari pengatur acara.
Juga ada larangan membawa ponsel saat pentas.
“Segala macamnya diatur. Untuk HP saja sudah harus ditinggal di depan, fotofoto saya diambilkan orangorang dari Deo,” cerita dia.
Perjalanan karier seni ayah dua anak itu sebenarnya sudah cukup lama.
Tepatnya sejak 2008 lalu.
Saat itu dia bekerja sebagai pelukis air brush di salah satu perusahaan desain di Bali.
Saat itu, bermusik belum penghidupannya.
Hanya sekadar menjadi sarana untuk melepas kepenatan dari pekerjaan dan bersenang-senang dengan temannya.
Pada 2008 itulah dia mulai berkenalan dengan alat musik didgeridoo.
Dia dikenalkan seorang rekan musisi bernama Barok.
”Waktu itu dia bawa alat musik yang terbuat dari kayu eucaliptus. Awal-awal saya memainkannya agak sulit, karena harus menjaga tiupan agar tetap panjang,” cerita dia.
Seiring waktu, dia mulai lancar memainkannya.
Triknya, dengan mengingat cara memainkan alat musik tradisional serupa.
Yaitu gong bumbung (gong bambu).
Saat itu belum ada di benaknya untuk menyeriusi kemampuan membawakan alat musik itu untuk dunia komersil.
Alat musik tersebut dipakai Joko untuk sarana menenangkan diri.
Dia kerap memainkannya di alam, seperti di gunung atau hutan.
Salah satu tempat dia sering sambangi untuk memainkan didgeridoo yakni Ranupani.
Yang kebetulan adalah tempat bermainnya sejak remaja.
”Kalau memainkan itu di alam rasanya seperti menyatu dengan sekitar. Rasanya menenangkan dengan suara khas yang mirip suara hewan itu berpadu dengan kicau burung dan angin di alam,” kenangnya.
Pada 2013, dia menetap di Tumpang.
Saat itu Joko masih tetap melukis.
Dia juga menjadi praktisi yoga, artisan eco print, dan petani.
Dia mulai memainkan alat musik didgeridoo di depan banyak orang pada 2024.
Pementasan pertamanya terjadi di gelaran Ritus Ghulur di Madura & Gedung Kesenian Jakarta pada Festival Budaya Panji 2024 karya sutradara Anwari.
Lagu sekaligus album pertamanya dirilis pada Maret 2025 lalu.
Dia tergabung dalam project duo bergenre etnik bernama Joko Tebon Berbudi.
Project itu baru saja merilis album Sesaji Cinta untuk Semesta.
”Salah satu lagu di album itu judulnya babahno wes,” sebut dia.
Lagu-lagu dalam album itu sejatinya sudah dirancang sejak 2014. Kini, mereka sedang mempersiapkan musik iringan teater bersama Padepokan Seni Madura pada 29 Mei mendatang. (*/by)
Editor : A. Nugroho